Pembekalan Pengajaran Mikro

Kepada mahasiswa Pendidikan Fisika FMIPA UNY yang telah mendaftarkan diri sebagai peserta KKN-PPl Tahun 2010, akan diselenggarakan Pembekalan Pengajaran Mikro dengan ketentuan sebagai berikut:

Hari, tanggal       : Kamis, 28 Januari 2010

Tempat                 : Ruang Seminar FMIPA UNY (Gedung MIPA Lt 2)

Waktu                    : 08.00-12.00

Pakaian                 : Atasan Putih, Bawahan Hitam, Sepatu Hitam, Jilbab (bagi  yang pakai) hitam.

Mohon sampaikan info ini kepada teman-teman yang lain. Demikian agar dijadikan perhatian.

Sabar Nurohman, M.Pd.Si

Open Your Eyes

Allah berfirman di awal Juz 29, tepatnya di QS Al Mulk 3-4:

Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?  Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.

Ayat tadi dan nasyid yang baru saja kita dengarkan, seolah memaksa kita agar menggunakan kemampuan indra kita untuk menangkap sandi-sandi kekuasaan Allah Swt.

Allah menggunakan dua sandi besar dalam menunjukan kekuasaan-Nya. Kedua sandi tersebut adalah sandi qouliyah dan sandi qouniyah. Sandi qouliyah dapat dilihat dengan mempelajari Al Qur’an, sedangkan sandi qouniyah dipelajari dengan mencermati setiap fenomena yang ada di sekitar kita, baik peristiwa alam maupun kejadian sosial. Karena kedua sandi tersebut berakar pada suatu zat yang sama, yakni Allah Swt, maka di antara keduanya tidak boleh ada yang saling bertentangan. Jika ditemukan adanya pertentangan antara Qur’an (sebagai ayat qouliyah) dan peristiwa alam (sebagai ayat qouniyah), pasti salah satunya ada yang salah. Dengan demikian, untuk menguji kebenaran ajaran suatu agama, kita dapat mengkonfrontirkan kitab agama tersebut dengan ayat-ayat qouniyah (kejadian alam-sosial) yang terjadi di sekitar kita.

Sejauh ini, ayat-ayat Al Qur’an selalu menunjukan kepada kita, bahwa ia memang Firman Allah. Hal ini karena, ayat-ayat Al Qur’an senantiasa harmonis dengan temuan-temuan ilmu pengetahuan. Semakin manusia bekerja keras dalam mempelajari alam, maka semakin nyata setiap kebenaran ayat-ayat Al Qur’an. Berbagai penemuan di dunia sains modern, ternyata telah dikabarkan oleh Al Qur’an 15 abad yang silam.

Ketika ahli geologi berhasil menjelaskan bahwa dahulu bumi kita ini terdiri dari suatu daratan yang sangat luas, lalu masing-masing lempeng bumi bergerak pada arah yang berbeda-beda, hingga akhirnya terbentuk lima benua, sehingga disimpulkan bahwa lempeng litosfer ini tidak ada yang diam, melainkan bergerak, maka jauh-jauh hari Al Qur’an telah mengingatkan kepada kita melalui QS An Naml: 88 tentang gerakan lempeng litosfer tersebut.

Dan kamu lihat gunung-gununggitu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Atau, ketika di abad ini manusia secara saintific baru mengetahui teori big-bang, maka 15 abad yang silam, melalui QS Al Ambiya: 30 Allah telah mengabarkan tentang bagaimana keadaan alam semesta pada fase awalnya.

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

Tentu saja, para sahabat di zaman nabi, dengan ilmu yang mereka ketahui belum bisa memperoleh pembuktian ilmiah atas kebenaran kedua ayat tersebut. Saya yakin, para sahabat, dengan ilmu yang mereka kuasai saat itu, belum bisa menerima secara logika tentang kedua ayat tersebut. Namun mereka senantiasa berkata “Sami’na Wa Atho’na” ketika setiap ayat turun kepada mereka.

Kenyataan ini mengajarkan kepada kita, kalaulah saat ini mungkin kita menjumpai ayat-ayat yang “belum” bisa dibuktikan secara ilmiah, bukan berarti kita akan mengingkari ayat Al Qur’an. Ini hanya persoalan waktu, kapan manusia, dengan akal yang dimilikinya, dapat menemukan kebenaran Al qur’an melalaui kegiatan ilmiah. Para sahabat mengajarkan kepada kita, untuk meletakan logika  akal di bawah logika wahyu. Hal ini mengingat akal manusia diliputi keterbatasan.

Demikain, semoga menambah keimanan kita.

Seleksi KKN-PPL SBI

Bagia mahasiswa Pend. Fisika dan Pend. IPA FMIPA UNY yang semester depan akan menempuh Program Pengajaran Mikro pada Sekolah Bertaraf Internasional, mohon membaca pengumuman ini dan segera sebarkan ke teman-teman yang lain.

PENGUMUMAN

UNTUK MAHASISWA SEMESTER LIMA

PRODI PEND. FISIKA DAN PEND. IPA


Tes seleksi Program Pengajaran Mikro SBI akan dilaksanakan pada :

  1. Tes tahap pertama :

Hari/Tanggal               :  Sabtu, 9 Januari 2010

Pukul                         : 10.30 WIB

Tempat                      : P3B UNY

Materi                        : Tes tertulis (Toefl)

Pengumuman              : Segera setelah ujian dilaksanakan

2. Tes tahap kedua (Bagi yang lulus tahap I) :

Hari/Tanggal               : Ahad, 10 Januari 2010

Waktu                        : Menyesuaiakan

Tempat                      : P3B

Materi                        : Wawancara

Pengumuman              : Rabu, 13 Januari 2010

Demikian pengumuman  ini kami sampaiakan, harap maklum.

Koordinator,

Sabar Nurohman, M.Pd

NB:

Bagi mahasiswa (Pend. Fisika) yang ingin ”pesan” tempat, bisa segera menghubungi saya.

Selamat Datang 2010

Mungkin banyak di antara kita yang tidak sadar, ternyata kini kaki kita telah berada di ujung jalan 2009. Sebagian kita mungkin merasa baru kemarin sore masuk di 2009. Begitulah waktu…

Persoalannya, apa yang sudah kita siapkan untuk memasuki 2010? Capaian apa yang telah kita peroleh di tahun 2009 yang dapat dijadikan sebagai modal memasuki 2010?

Hai orang-orang yang beriman…bertaqwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memeriksa apa yang telah dimilikinya untuk kehidupan yang akan datang?”

Ada sebuah ungkapan orang tentang hal ini (Anda boleh percaya-boleh tidak), katanya: 1) Orang dapat bertahan hidup tanpa makan dalam waktu 40 hari (Percaya? Jika tidak, boleh coba?) 2) Orang dapat hidup tanpa minum hanya dalam waktu 4 hari (inilah sebabnya, mahasiswa kalau aksi paling pol hanyalah aksi mogok makan, gak pernah ada ceritanya aksi mogok minum), 3) Orang tidak dapat hidup dalam waktu satu ditikpun, jiak hidup berjalan tanpa HARAPAN.

Demikian besar pengaruh harapan bagi hidup kita. Kita tidak bisa membayangkan, jika kita hidup tidak lagi punya harapan. Kehidupan akan menjadi hampa dan biasanya orang seperti ini lebih memilih untuk mati. Maka orang bunuh diri kebanyakan adalah orang yang tidak lagi punya harapan, tidak lagi punya asa. Jika harapan telah tiada, jika asa telah terputus, buat apalagi kita hidup.

Harapan dengan demikian seolah merupakan energi potensial yang dapat segera kita rubah menjadi energi gerak yang real. Harapan akan sebanding dengan energi. Semakin besar harapan yang kita miliki, maka akan semakin besar energi hidup yang kita miliki. Jika energi hidup besar, maka semua yang berat akan terasa ringan, yang jauh menjadi dekat, yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Oleh karena itu, meskipun barangkali tahun 2009 belum membawa kita pada keadaan yang kita inginkan, kita harus memupuk sebanyak mungkin harapan untuk menatap 2010. Kita masih punya hari esok. Roja’ (harapan) akan memberi energi bagi kita untuk menapaki bebatuan terjal di depan mata. Tapi, harapan saja belum cukup untuk hidup. Disamping roja, orang juga harus punya khouf (takut). Oleh karena itu, Islam mengajarkan kita untuk memiliki paling tidak dua hal dalam menatap masa depan 1) Roja’ dan 2) Khouf. Khouf dan roja harus tampil secara proporsional. Jangan sampai ada yang terlalu dominan.

Jika harapan muncul begitu besar tanpa rasa takut, orang akan melakukan apa saja untuk mencapai harapnnya. Mungkin ia akan korupsi, menipu, menzalimi orang lain dan sebagainya, yang penting harapannya tercapai. Oleh karena itu kita juga harus memupuk rasa khouf. Karena ia akan menjadi pengendali setiap langkah kita, karena ia yang akan mengingatkan adanya surga dan neraka, karena ia yang akan mengingatkan kita akan eksistensi TUHAN.

Sebaliknya, jika khouf yang mendominasi hidup kita, maka seolah kita akan menjadi orang yang terpenjara. Kita tidak lagi punya keberanian untuk bertindak. Akhirnya kita melihat diri kita tidak mampu mencapai apapun, karena tidak ada sesuatupun yang kita kerjakan.

Khouf dan roja’ dengan demikian merupakan satu paket program yang harus dikembangkan secara sinergis. Ia laksana “Gas dan Rem” dalam kehidupan. Kita punya harapan besar tentang masa depan sehingga memunculkan begitu banyak energi untuk bertindak, dan pada saat yang sama kitapun punya rasa khouf yang akan memagari seluruh tindakan kita yang membuat TUHAN tidak berkenan. Semaga bermanfaat..

Tugas Praktikum IPA Dasar

Kepada mahasiswa IPA C Sem 1, lakukan aktivitas sesuai dengan petunjuk berikut:

Bagaimana Cara Kerja Pompa Air

A. Pendahuluan

Secara natural, air akan meengalir dari daerah yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Hal ini mengikuti konsep gerak fluida yang akan mengalir dari daerah dengan energi potensial tinggi ke daerah yang memiliki energi potensial lebih rendah. Energi potensial yang dimaksud dalam konteks ini adalah Energi potensial gravitasi. Dengan kata lain, gravitasilah yang “bertanggung jawab” atas keadaan air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah tersebut.

Namun, sesekali kita melihat fenomena air mancur, pompa air sumur atau filter pada akuarium. Pada fenomena tersebut, air tidak lagi turun, melainkan naik. Fenomena ini menunjukan seoalah-olah air tidak taat asas dan tidak mengikuti hukum alam. Hal ini karena secara natural air mestinya mengalir “turun” dan tidak bisa “naik”. Mengapa hal itu bisa terjadi? Bagaimana air dapat “diangkat” ke atas sehingga berpindah dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggii? Bagaimana manusia mengembangkan alat yang dapat mengalirkan air dari tempat rendah ke tempat yang lebih tinggi? Konsep sains apa yang yang dapat menjelaskan peristiwa pada mesin pompa air? Dapatkah Anda mengembangkan prototype mesin tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus Anda jawab dengan cara melakukan kajian pustaka dan membuat suatu percobaan ilmiah.

B. Pertanyaan

Secara lebih sistematis, berikut disajikan daftar pertanyaan yang harus Anda jawab melalui kajian literatur dan percobaan ilmiah:

1)      Bagaimana cara kerja mesin pompa air?

2)      Konsep sains apa yang digunakan untuk mengembangkan mesin pompa air?

C. Tugas

1)        Lakukan kajian literatur untuk menjawab pertanyaan pada bagian B di atas,

2)        Tentukan alat dan bahan (sederhana) yang dapat digunakan untuk menjelaskan cara kerja pompa air

3)        Buat suatu percobaan sederhana dengan alat dan bahan yang sudah Anda tetapkan untuk menjelaskan cara kerja pompa air.

Pelatihan Pengembangan “Situs Pembelajaran Tak Berbayar”

100_2511Beberapa hari yang lalu, tepatnya Tgl 16, 17 Oktober dan Insya Allah akan dilanjutkan pada Tanggal 30 Oktober 2009, diadakan sebuah kegiatan yang didanai oleh LPM UNY memalui kegiatan PPM Unggulan “Pelatihan Pembuatan “Situs Pembelajaran Tak Berbayar” Menggunakan Blogware WordPress. Pelatihan diikuti oleh 30 guru Madrasah Aliayah baik Negeri maupun Swasta di lingkungan DIY yang tergabung dalam Pusat Sumber Belajar Bersama (PSBB) DIY. Melalui kegiatan ini diharapkan keterampilan guru IPA di DIY dalam hal pengembangan media pembelajaran berbasis web akan semakain meningkat.

Era teknologi informasi pada kenyataannyan menuntut guru untuk tidak hanya menjadi “konsumen” informasi, namun juga harus berperan sebagai “produsen” inormasi. Guru sudah saatnya untuk berperan sebagai penyedia informasi, khususnya bagi para siswa, melalui situs di internet. Pelatihan ini diselenggarakan juga dalam rangka untuk meningkatkan kelenturan guru dalam menghadapi era informasi seperti saat ini.

Pada sesi terakhir, peserta meminta agar Tim PPM memberikan petunjuk pengelolaan WordPress secara lebih terperinci, hal ini karena modul yang disajikan dianggap masih terlalu global. Untuk itu, melalui tulisan ini, kami lampirkan Petunjuk Teknik Pengelolaan Situs Pembelajaran Tak Berbayar menggunakan Blogware WordPress. Silakan Download  Di Sini

NB:

Karena ada  peserta yang mengkritik postingan ini, yakni fotonya kurang representatif (kurang banyak), berikut saya tampilkan slide shownya…biar lengkap.

Terimakasih atas partisipasinya…

Jogja: Sebuah Ironi Kota Pendidikan

Tugu Jogja

Tugu Jogja

Sebentar lagi, Jogja akan segera didatangi oleh ribuan penghuni baru yang datang dari hampir seluruh penjuru negeri. Sebagai sebuah tempat yang dikenal sebagai kota pelajar, ataupun kota pendidikan, wajar kalau ada begitu banyak lulusan SMA yang memimpikan bisa menikmati proses belajar di Jogjakarta.

Jogja, bagi sebagian kalangan dianggap sebagai sebuah tempat yang cukup kondusif untuk meningkatkan kapasitas intelektual seorang mahasiswa. Di Jogja tersedia ada begitu banyak kampus dengan puluhan atau bahkan ratusan program studi. Dari kampus  yang besar dan bergengsi hingga penyedia jasa layanan kursus singkat. Semua tersedia.

Pertanyaannya, benarkah saat ini Jogja masih menunjukkan karakternya sebagai kota pelajar/kota pendidikan? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita harus menyepakati terlebih dahulu, indikator apa yang harus dipenuhi oleh kota pelajar/kota pendidikan? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya coba tampilkan salah satu misi Pemkot Yogyakarta yang berkaitan dengan upayanya dalam mempertahankan Yogyakarta sebagai kota Pendidikan. Misi tersebut adalah:

Mempertahankan predikat Kota Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan yaitu dengan mengupayakan partisipasi seluruh komponen masyarakat, pemerintah daerah dan swasta agar penyelenggaraan pendidikan di Kota Yogyakarta mempunyai standar kualitas yang tinggi dan terkemuka di Asia Tenggara, mempunyai keunggulan kompetitif yang berdaya saing tinggi, kompetensi tinggi, menekan berbagai pengaruh negatif yang dapat merusak citra pendidikan Kota Yogyakarta; menciptakan sistem dan kebijakan pendidikan yang unggul; membantu penyediaan sarana dan prasarana pendidikan.

Berdasarkan misi di atas, upaya yang direncanakan oleh Pemkot Yogyakarta dalam mempertahankan citranya sebagai Kota Pendidikan antara lain melalui peningkatan partisipasi masyarakat, pemerintah dan swasta dalam mengembangkan pendidikan berkualitas, menekan pengaruh negatif yang dapat merusak citra kota pendidikan, dan peningkatan sarana prasarana pendidikan.

Bagaimana kenyataannya? Sudahkah masyarakat, pemerintah, dan berbagai pihak swasta di Yogyakarta telah berkolaborasi untuk menciptakan kultur akademik yang lebih baik? Sudahkah ada usaha yang serius untuk melawan berbagai kultur negatif yang merusak kultur intelektual? Dan seberapa serius pemerintah membangun berbagai sarana dan prasarana yang mendukung bagi pengembangan kultur intelektual warganya?

Bagi saya, dalam kurun 5-10 tahun terakhir ini, ada berbagai perkembangan yang cukup memprihatinkan. Perkembangan tersebut bermuara pada hilangnya karakter Jogja sebagai kota pendidikan dan berubah menjadi kota hedon lagi permisif. Lihat saja kondisi kampus hari ini, sebagian banyak mahasiswa telah tercerabut dari akarnya sebagai komunitas intelektual dan agen perubahan menjadi komunitas hura-hura dan permisif. Sedikit sekali mahasiswa yang menyisakan ruang pikirnya untuk mendialogkan berbagai persoalan bangsa dan negaranya, lalu menggantinya dengan perbincangan cengeng urusan percintaan.

Keadaan ini tidak muncul begitu saja. Pergeseran kultur ini muncul karena kita salah dalam mengambil kebijakan. Rupa-rupanya ada sekelompok orang yang ingin memanfaatkan Jogja sebagai tempat berkumpulnya anak-anak muda hanya sebagai lahan bisnis. Sekelompok orang ini (para pemilik modal) tentu saja dapat beraksi karena sokongan para penguasa. Jadi, ada konspirasi antara kaum kapitalis dengan penguasa untuk menjadikan Jogja sebagai lahan bisnis yang empuk tanpa memperhatikan dampaknya bagi pengembangan kultur akademik masyarakat Jogja.

Lihat saja spanduk-spanduk yang menghiasi berbagai tempat strategis di Jogja! Pernahkah kita lihat kalimat-kalimat “Telah di buka toko buku murah untuk rakyat” atau “Datangilah pojok diskusi mengelola negeri membangun peradaban” atau “Telah hadir di Kota Anda: Taman bacaan gratis”? Sejauh yang saya amati, iklan-iklan yang menghiasi di Kota Yogyakarta berkisar pada: “Weekend, bareng DJ Paijo dengan Sexy Dancer Anita”, “Soft Opening: Edan Kafe, diskon untuk mahasiswa”.

Pemilik modal bersama pemerintah lebih tertarik untuk membangun mall, kafe, distro, dan berbagai simbol  hura-hura lainnya. Hal ini karena bisnis tersebut  dirasa jauh lebih menjanjikan daripada membangun berbagai fasilitas yang menunjang peningkatan kultur intelektual. Akibatnya mall dan kafe di Jogja begitu menjamur sedangkan pertumbuhan sarana peningkatan kultur akademik terasa jalan di tempat.

Jogja sebagai kota pendidikan semestinya membangun sebanyak mungkin berbagai fasilitas yang berkait erat dengan upaya penumbuhan kapasitas intelektual, bukan berbagai pusat pengembangan budaya hedon dan permisif. Semoga bermanfaat.

Creative Intelligence: Paradigma Baru Kecerdasan Manusia

Einstein: Icon Kecerdasan Abad XX

Einstein: Icon Kecerdasan Abad XX

Hingga hari ini, sekolah, guru, dan masyarakat, pada umumnya masih terbelenggu oleh paradigma lama tentang kecerdasan. Orang menganggap bahwa manusia/anak yang cerdas adalah mereka yang “pinter” Matematika, Fisika, IPA, atau yang sering dikatakan sebagai ilmu eksakta. Maka wajar, jika icon kecerdasan abad XX adalah seoarang Albert Enstain, yang memiliki kemampuan bahasa matematika yang sangat luar biasa untuk menjelaskan berbagai fenomena fisika.

Orang tua akan cenderung lebih bangga ketika putra-putrinya berhasil memasuki Program IPA (ketika di SMA) jika dibandingkan apabila buah hatinya itu masuk di Program IPS ataupun Bahasa. Aroma “Kesombongan Intelektual” juga diam-diam muncul dari para siswa Program IPA. Mereka menganggap dirinya lebih unggul daripada teman-temannya di IPS/Bahasa.

Sebagian kita menganggap bahwa kesuksesan masa depan seseorang ditentukan oleh sejauh mana kecerdasan orang tersebut, parahnya mereka mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuannya di bidang ilmu-ilmu eksakta. Orang tua yang punya uang akan berusaha sekuat mereka untuk membuat anak-anaknya “pintar” ilmu eksak, ada yang diikutkan les sempoa, tambahan pelajaran di berbagai lembaga bimbingan belajar, ataupun les privat di rumah.

Benarkah paradigma ini? Benarkah kesuksesan seseorang ditentukan oleh kecerdasan di bidang ilmu-ilmu eksak?

Tukul: Dia Juga Cerdas

Tukul: Dia Juga Cerdas

Paradigma yang telah diuraikan di atas tentang kecerdasan saya sebut sebagai  “paradigma lama”. Paradigma lama tentang kecerdasan jelas tidak bisa memberi penjelasan bagaimana seorang Tukul Arwana bisa memperoleh kesuksesannya, paradigma lama tidak bisa menjelaskan bagaimana seorang Ahmad Dani bisa eksis, sebagaimana paradigma ini juga tidak bisa memberi argumentasi kesuksesan seorang David Becham.

“Paradigma baru” tentang kecerdasan lebih memungkinkan untuk bisa memberi penjelasan tentang fenomena Tukul, Ahmad Dani ataupun Becham. Pandangan baru ini menyatakan bahwa kecerdasan bukanlah sesuatu yang tunggal, melainkan majemuk (Multiple Intelligence).

Belahan Otak Kiri & Kanan

Belahan Otak Kiri & Kanan

Berdasarkan penelitian tentang otak, diketahui bahwa otak manusia terdiri dari dua belahan, Otak kiri dan otak kanan. Otak kiri mengendalikan kemampuan verbal, angka, penulisan, sains, rasional dan pengendali anggota gerak sebelah kanan (Tangan kanan). Sedangkan otak kanan mengendalikan kemampuan di bidang seni, kreativitas, memahami pengertian yang mendalam, bentuk tiga dimensi (seni patung dll),  dan pengendali organ gerak tubuh bagian kiri (tangan kiri).

Dunia pendidikan kita, sejauh ini lebih banyak sekedar mengolah otak kiri, terbukti dari pilihan mata pelajaran yang diUNkan. Akibatnya, pendidikan kita kurang mampu menghasilkan peserta didik yang kreatif sekaligus kurang manusiawi, karena miskin dengan nilai-nilai seni. Maka lahirlah anak -anak muda yang “pintar”, tapi tidak mampu menggunakan kepintarannya untuk kemasalahatan masyarakat, cenderung egois dan tidak mampu bekerja sama.

Kalau kita mau cermat, justru kebanyakan orang sukses bukanlah mereka yang pintar di kelas-kelas eksak. Dunia agaknya lebih menghargai mereka yang kreatif  daripada mereka yang “pintar”. Jika gaji profesor di Indonesia perbulan sekitar 13 Juta, maka Tukul dibayar hingga 30 juta tiap kali tampil di acara Empat Mata (yang sekarang menjadi Bukan Empat Mata). Ahmad Dani sekali manggung juga memasang angka 75 Juta sebagai batas bawah tarifnya. Profesor saya anggap sebagai representasi “kecerdasan Otak kiri” sedangkan Tukul dan Ahmad Dani mewakili kecerdasan kreatifitas (Creative Intelligence).

Jadi, untuk para orang tua yang anaknya kurang mampu di bidang ilmu-ilmu eksak, bagi Anda para pelajar yang kurang suka dengan Matematika atau Fisika, jangan pernah khawatir dengan masa depan Anda. Allah Swt begitu adil, sebegitu adilnya hingga memberikan kesuksesan kepada siapa saja, tidak peduli bisa Matematika atau tidak. Justru yang paling penting sekarang adalah, bagaimana kita membuat kita dan anak-anak kita sekreatif mungkin, sehingga mampu menghadapi situasi apapun di masyarakatnya. Terlebih lagi, era ini adalah era industri kreatif.

Pembuatan SIM dan “Retorika” Reformasi POLRI

sim-1

Berusaha jujur di tengah-tengah keculasan, terkadang sungguh menyakitkan…

Sabtu kemarin (11 Juli 2009) untuk kedua kalinya saya mengikuti ujian Teori pembuatan SIM C. Hal ini karena pada ujian kesempatan pertama saya tidak lulus. Dari 30 soal yang diberikan saya hanya menjawab benar 16 pertanyaan, padahal batas bawah kelulusan adalah 20. Maka setelah kegagalan ujian pertama saya search di berbagai situs untuk mempelajari berbagai peraturan lalu lintas agar bisa menjawab soal minimal 20 agar bisa lulus. Hasilnya lumayan, Alhamdulillah saya bisa mengerjakan 21 soal, jadi ujian teori dinyatakan lulus.

Selama pelaksanaan ujian teori saya merasakan ada beberapa keganjilan, pada saat saya masuk di ruang ujian teori, saya lihat ada beberapa petugas Polisi sedang mengerjakan soal ujian teori. Dalam hati, Perjokian ternyata dilakukan juga to oleh Polisi. Ketika saya keluar dari ruang ujian teori, ada seorang ibu membawa anaknya yang masih berseragam SMA baru masuk ke ruang ujian teori. Pikir saya, ibu ini sedang menghantar anaknya yang akan melaksanakan ujian teori. Saya berjalan terus menuju tempat ujian praktik yang kebetulan agak jauh (harus naik motor). Pada saat saya sedang mencari tempat ujian praktik, ternyata ibu tadi sudah hampir menyusul di belakang saya. Saya bertanya-tanya, kok ujian teorinya bisa cepet banget ya? Saya saja butuh dua kali untuk mengerjakan ujian hingga lulus.

Ketika sampai di tempat ujian praktik, saya memilih untuk latihan dulu. Sementara Ibu yang membawa anak tadi langsung masuk, anaknya diminta untuk nulis data di suatu Form, dan selesai. Mereka pergi dengan membawa surat keterangan lulus ujian praktik, padahal tidak ada ujian praktik yang mereka ikuti. Buset dah…

Sementara itu,  saya masih memastikan bahwa saya bisa menghadapi tantangan ujian praktik (yang kalau dipikir-pikir agak tidak masuk akal). Saya melatih ketangkasan berkendara dengan melewati berbagai halang-rintang, namun gagal terus. Setelah Petugas selesai melayani Ibu dan anak tadi, saya masuk ke ruang untuk mendaftar Ujian Praktik. Saya disodori Form Pernyataan Hasil Ujian Praktik. Saya lihat formnya sudah terisi, tinggal menuliskan nama dan alamat. Data-data lain telah terisi dengan kata-kata: Lulus dan telah ditandatangi petugas. Di sana ada 2 kolom, kolom sebelah kiri menyatakan jenis ujian dan kolom sebelah kanan berisi pernyataan Lulus atau Tidak Lulus. Jadi waktu itu saya sudah diberi Surat Pernyataan Lulus Ujian Praktik, padahal saya belum ujian praktik. Tapi begitu Petugas Polisi tersebut melihat Stofmap Saya ada kode “LM” yang dituliskan oleh petugas di ruang ujian teori, buru-buru polisi tadi mengambil form yang sudah saya isi Nama dan Alamat dan menggantinya dengan form baru yang masih kosong. Artinya, belum ada kata-kata Lulus pada form tersebut. Rupa-rupanya Polisi menggunakan kode LM untuk menunjuk bahwa saya “Lom Mbayar”. Sedangkan peserta ujian lain mungkin dikasi kode lain yang menunjuk bahwa mereka sudah mbayar, sehingga begitu masuk, mengisi data, langsung bisa pergi membawa pernyataan lulus ujian praktik. (weleh-weleh)

Setelah selesai menulis data di “Calon” Pernyataan Lulus Ujian Praktik, polisi memberi penjelasan mekanisme ujian praktik. Saya harus melewati rute zig-zag, angka delapan, zig-zag lagi dan masuk di gang sempit. Bismillah, saya akan mencobanya meskipun pada sesi latihan tadi saya masih gagal melewati rute zig-zag. Satu persatu patok saya lewati hingga akhirnya saya masuk di rute angka 8, lalu balik lagi ke rute zig-zag dan saya juga bisa melakukannya dengan baik, padahal sewaktu latihan saya tidak pernah berhasil. Kini tinggal masuk di rute gang sempit berkelok, saya pikir ini jauh lebih mudah, mulai saat itu saya agak meremehkan rute. Perasaan meremehkan rute ini rupanya ditegur oleh Allah Swt,  saya mulai tidak konsentrasi dan akhirnya saya gagal pada saat hendak melewati rute terakhir, kaki kanan saya turun menyentuh lantai. Maka saya dinyatakan gagal dan harus mengulang dalam waktu dua minggu.

Seusai ujian praktik saya masih penasaran, saya coba lagi ternyata bisa. Namun Pak Polisi tidak mau tahu, walaupun saya berhasil, tapi itu tidak dinilai, jadi ya tetap saja saya harus mengulang dua minggu lagi, padahal barusan Pak Polisi sudah melihat sendiri saya bisa. Apa pentingnya nunggu dua minggu lagi. Pada saat yang sama ada banyak peserta ujian SIM datang, namun seperti biasa mereka langsung disodori form yang sudah beres, mereka tinggal menulis nama dan alamat, tanpa tes, dan akhirnya bisa pergi dari tempat itu dengan membawa pernyataan lulus ujian praktik.

Itulah pengalaman “menyakitkan” saya pada saat ujian SIM yang akhirnya belum lulus. Saya sakit bukan karena saya belum lulus, cuma kenapa POLRI dan masyarakat kita hari ini masih seperti ini. Saya sudah “kadung” khusnuzhon, ketika dulu KAPOLRI dipegang oleh Jend Sutanto, yang katanya termasuk POLISI bersih, saya mengira sejak saat itu praktik-praktik suap pada saat membauat SIM sudah tidak ada lagi. Ternyata yang saya lihat kemarin masih sama saja.

Jadi Retorika Elit Polisi yang konon sudah dan sedang terus melakukan Reformasi di tubuh POLRI hanyalah omong kosong. Padahal baru beberapa hari yang lalu POLRI kita ini baru berulang tahun, semakin tua usianya, saya kira semakin arif, tapi ternyata masih sama saja. Apalagi yang menjadi isu utama Hari Bayangkara ke 63 kemarin adalah Reformasi POLRI.

Pantas kalau banyak pihak menyebut POLRI adalah lembaga pemerintah terkorup di Indonesia. Tulisan saya ini jelas merupakan ekspresi kekecewaan saya pada saat Ujian SIM kemarin, namun lebih daripada itu, tulisan ini semoga bermanfaat bagi masyarakat untuk tidak suka mengambil jalan pintas pada saat membuat SIM dengan cara menyuap. Ingat, yang menyuap dan yang disuap sama-sama masuk neraka…..

Pendidikan dan “Upaya” Pemiskinan Sistemik

Pendidikan dan Pemiskinan

Pendidikan dan Pemiskinan

Hari-hari ini adalah saat yang cukup menegangkan bagi para anak dan orang tua yang sedang mendaftarkan sekolah, baik masuk SD, SMP/MTs, SMA/MA/SMK, maupun Perguruan Tinggi.  Pada saat bersamaan, pemerintah melalui mendiknas memasang iklan sekolah gratis di berbagai stasiun Televisi. Seolah ingin mengabarkan kepada dunia bahwa kini pendidikan Indonesia bisa dinikmati oleh siapapun. Maklum…saat ini juga musim kampanye Pilpres. Bukan bermaksud sinis atau masuk dalam pusaran dukung-mendukung dalam Pilpres, tulisan ini akan mencoba mengurai persoalan di seputar biaya pendidikan yang kian hari kian mahal.

Dengan anggaran pendidikan hingga 20% dari APBN, memang semestinya pendidikan bisa dinikmati oleh semua kalangan. Kebijakan pendidikan gratis untuk SD hingga SMP tentu saja harus kita apresiasi dengan positif. Semoga akan ada semakin banyak anak-anak yang tak berpunya dapat menikmati pendidikan. Namun, sejauh pengamatan kami, kebijakan pendidikan gratis ternyata tidak seperti yang dibayangkan oleh masyarakat. Mendiknas memang telah melarang sekolah untuk melakukan pungutan kepada orang tua siswa pada saat pendaftaran, namun beliau memperbolehkan adanya sumbangan. Nah, inilah problemnya. Justru dengan diperbolehkannya sumbangan dari orang tua, yang besarannya tentu saja tidak ditentukan, akan memunculkan persoalan baru.

Dengan diperbolehkannya sekolah menerima sumbangan dari orang tua/wali, maka akan memungkinkan proses seleksi siswa baru tidak lagi hanya ditentukan oleh kapasitas akademik seorang calon siswa (yang ditunjukan dengan nilai NEM), namun juga akan ditentukan oleh sebesar apa sumbangan yang siap diberikan oleh orang tua/wali siswa bersangkutan. Ini bukan omong kosong, kami punya seorang teman yang hendak menyekolahkan anaknya di salah satu sekolah favorit (SBI), untuk bisa masuk ke sana, sumbangan minimal yang harus dikeluarkan oleh orang tua adalah 4,5 juta ditambah biaya seragam dan lain-lain, biaya masuk minimal adalah 6 juta. Untungnya teman saya ini cukup punya uang. Tapi bagaimana dengan kebanyakan anak-anak lain? Mungkinkah anak tukang becak, anak buruh/kuli, pedagang kecil dapat menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan yang berkualitas? Keadaan ini akan memungkinkan terjadinya proses kanalisasi dunia pendidikan, yakni mereka yang punya cukup uang dapat menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan berkualitas, sedangkan mereka yang miskin diharap puas untuk hanya menikmati pendidikan yang dijalankan secara “alakadarnya”.

Keadaan tersebut di atas akan lebih mencolok lagi untuk pendidikan menengah atas dan perguruan tinggi. Sejak perguruan tinggi besar di Indonesia (UI, UGM, ITB, IPB) diubah statusnya menjadi Badan Hukum Milik Negara, dan kini telah dipayungi dengan UU BHP, maka biaya pendidikan di perguruan tinggi-perguruan tinggi hebat tersebut menjadi sangat mahal, terutama biaya pada saat masuk. Melalui proses UM yang dilaksanakan secara mandiri oleh tiap-tiap perguruan tinggi, memungkinkan perguruan tinggi tersebut untuk menerima sumbangan dari para calon mahasiswa baru dalam jumlah yang sangat besar. Karena namanya ’sumbangan’, maka besarannya diserahkan kepada si pendaftar. Problemnya adalah, sumbangan tersebut juga akan dijadikan sebagai pertimbangan diterima/tidaknya seorang calon mahasiswa. Lagi-lagi, uang akan menjadi alat seleksi di dunia akademik. Ini sungguh tidak adil.

Di fakultas kedokteran misalnya, untuk bisa masuk ke fakultas favorit tersebut, seorang calon mahasiswa paling tidak harus menyediakan uang sekitar 100 juta. Bagi seorang PNS, buruh di pabrik, pedagang kecil di terminal, mungkinkah mereka bisa memasukkan putra-putrinya ke institusi pendidikan berkelas seperti itu?

Artinya, di balik program pendidikan gratis, ternyata ada “upaya” pemiskinan secara sistemik. Mereka yang kaya, dengan uang yang ia miliki dapat menyekolahkan putra-putrinya di lembaga pendidikan berkualitas,  setelah lulus dapat pekerjaan “berkualitas”, sehingga dapat memperoleh kehidupan “berkualitas”. Sedangkan mereka yang pas-pasan, cukuplah bagi mereka untuk bersekolah di lembaga pendidikan yang pas-pasan, ketika lulus juga hanya dapat bekerja dengan gaji pas-pasan. Sehingga pendidikan tidak mampu untuk menyebabkan adanya mobilisasi vertikal para peserta didiknya. Inilah yang saya maksud dengan pendidikan merupakan upaya pemiskinan sistemik.

Keadaan ini agak berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Istri saya, anak dari seorang Ibu penjual jajan di terminal, bisa menikmati pendidikan kedokteran. Untung waktu itu (Tahun 2000), biaya pendidikan tidak seganas sekarang. Coba saja lihat fakultas  kedokteran sekarang, penghuninya semua dari kalangan elit, “Orang miskin” dilarang jadi dokter….Bahkan, ada sebuah cerita ironis, dua tahun yang lalu, ada seorang calon mahasiswa yang telah mengikuti seleksi di FK UII hingga dua kali, dan hasilnya GAGAL, namun tatkala mendaftar di FK UGM  justru DITERIMA. Wajar, karena ia menuliskan angka 150 juta untuk sumbangannya. Kalau sudah begini, maka Pendidikan merupakan alat bagi terwujudnya kesenjangan yang semakin menganga.