Hingga hari ini, sekolah, guru, dan masyarakat, pada umumnya masih terbelenggu oleh paradigma lama tentang kecerdasan. Orang menganggap bahwa manusia/anak yang cerdas adalah mereka yang “pinter” Matematika, Fisika, IPA, atau yang sering dikatakan sebagai ilmu eksakta. Maka wajar, jika icon kecerdasan abad XX adalah seoarang Albert Enstain, yang memiliki kemampuan bahasa matematika yang sangat luar biasa untuk menjelaskan berbagai fenomena fisika.
Orang tua akan cenderung lebih bangga ketika putra-putrinya berhasil memasuki Program IPA (ketika di SMA) jika dibandingkan apabila buah hatinya itu masuk di Program IPS ataupun Bahasa. Aroma “Kesombongan Intelektual” juga diam-diam muncul dari para siswa Program IPA. Mereka menganggap dirinya lebih unggul daripada teman-temannya di IPS/Bahasa.
Sebagian kita menganggap bahwa kesuksesan masa depan seseorang ditentukan oleh sejauh mana kecerdasan orang tersebut, parahnya mereka mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuannya di bidang ilmu-ilmu eksakta. Orang tua yang punya uang akan berusaha sekuat mereka untuk membuat anak-anaknya “pintar” ilmu eksak, ada yang diikutkan les sempoa, tambahan pelajaran di berbagai lembaga bimbingan belajar, ataupun les privat di rumah.
Benarkah paradigma ini? Benarkah kesuksesan seseorang ditentukan oleh kecerdasan di bidang ilmu-ilmu eksak?
Paradigma yang telah diuraikan di atas tentang kecerdasan saya sebut sebagai “paradigma lama”. Paradigma lama tentang kecerdasan jelas tidak bisa memberi penjelasan bagaimana seorang Tukul Arwana bisa memperoleh kesuksesannya, paradigma lama tidak bisa menjelaskan bagaimana seorang Ahmad Dani bisa eksis, sebagaimana paradigma ini juga tidak bisa memberi argumentasi kesuksesan seorang David Becham.
“Paradigma baru” tentang kecerdasan lebih memungkinkan untuk bisa memberi penjelasan tentang fenomena Tukul, Ahmad Dani ataupun Becham. Pandangan baru ini menyatakan bahwa kecerdasan bukanlah sesuatu yang tunggal, melainkan majemuk (Multiple Intelligence).
Berdasarkan penelitian tentang otak, diketahui bahwa otak manusia terdiri dari dua belahan, Otak kiri dan otak kanan. Otak kiri mengendalikan kemampuan verbal, angka, penulisan, sains, rasional dan pengendali anggota gerak sebelah kanan (Tangan kanan). Sedangkan otak kanan mengendalikan kemampuan di bidang seni, kreativitas, memahami pengertian yang mendalam, bentuk tiga dimensi (seni patung dll), dan pengendali organ gerak tubuh bagian kiri (tangan kiri).
Dunia pendidikan kita, sejauh ini lebih banyak sekedar mengolah otak kiri, terbukti dari pilihan mata pelajaran yang diUNkan. Akibatnya, pendidikan kita kurang mampu menghasilkan peserta didik yang kreatif sekaligus kurang manusiawi, karena miskin dengan nilai-nilai seni. Maka lahirlah anak -anak muda yang “pintar”, tapi tidak mampu menggunakan kepintarannya untuk kemasalahatan masyarakat, cenderung egois dan tidak mampu bekerja sama.
Kalau kita mau cermat, justru kebanyakan orang sukses bukanlah mereka yang pintar di kelas-kelas eksak. Dunia agaknya lebih menghargai mereka yang kreatif daripada mereka yang “pintar”. Jika gaji profesor di Indonesia perbulan sekitar 13 Juta, maka Tukul dibayar hingga 30 juta tiap kali tampil di acara Empat Mata (yang sekarang menjadi Bukan Empat Mata). Ahmad Dani sekali manggung juga memasang angka 75 Juta sebagai batas bawah tarifnya. Profesor saya anggap sebagai representasi “kecerdasan Otak kiri” sedangkan Tukul dan Ahmad Dani mewakili kecerdasan kreatifitas (Creative Intelligence).
Jadi, untuk para orang tua yang anaknya kurang mampu di bidang ilmu-ilmu eksak, bagi Anda para pelajar yang kurang suka dengan Matematika atau Fisika, jangan pernah khawatir dengan masa depan Anda. Allah Swt begitu adil, sebegitu adilnya hingga memberikan kesuksesan kepada siapa saja, tidak peduli bisa Matematika atau tidak. Justru yang paling penting sekarang adalah, bagaimana kita membuat kita dan anak-anak kita sekreatif mungkin, sehingga mampu menghadapi situasi apapun di masyarakatnya. Terlebih lagi, era ini adalah era industri kreatif.



Gabung ya