Pernahkah kita perhatikan bahwa bentuk bulan yang kita lihat dari hari ke hari selalu berubah? Pada awal bulan tampak seperti sabit, semakin hari membesar hingga pada saat tertentu tampak penuh, kemudian mengecil lagi menuju bentuk sabit kembali. Benarkah bentuk bulan berubah setiap saat? Atau pernahkah kita pikirkan bagaimana peristiwa gerhana dapat terjadi? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini terkait dengan pokok bahasan “Sistem Bumi-Bulan” yang akan menjadi kajian pada bagian ini.
Bumi-bulan jika dilihat dari luar angkasa akan tampak sebagai sistem planet ganda, keduaanya secara bersama-sama (tepatnya pada titik barycenter) beredar mengelilingi matahari. Bulan sendiri mengelilingi bumi membutuhkan waktu sekitar 27,3 hari (periode sideris). Tapi peredaran bulan terhadap matahari (periode sinodis) memakan waktu hingga 29,3 hari. Periode sinodis adalah waktu yang dibutuhkan bulan untuk bergerak dari satu konjungsi ke konjungsi berikutnya. Periode sinodis ini dapat diamati dengan perubahan fase bulan dari bulan baru, crecent, Quarter,dan full moon. Bagaimana kita dapat menjelaskan fenomena ini?
Pernahkah kita bayangkan, bagaimana kenampakan bumi jika kita tinggal di bulan? Pada saat di bumi sedang menikmati bulan purnama, apa yang bisa dinikmati di bulan terhadap pemandangan bumi?
Orbit bulan mengitari matahari miring terhadap ekliptika sekitar 5 derajat. hal inilah yang menyebabkan gerhana tidak terjadi pada setiap konjungsi ataupun oposisi. Karena tidak semua peristiwa konjungsi/oposisi: bulan, bumi dan matahari tepat berada pada satu bidang. Gerhana hanya akan terjadi manakala bulan berkonjungsi ataupun beroposisi tepat digaris perpotongan bidang ekliptika dan orbit bulan mengelilingi bumi.
Penjelasan ini masih terasa sangat dangkal, untuk mendalami berbagai persoalan sistem bumi-bulan, baca yang satu ini: sistem-bumi-bulan