SEMINAR GLOBAL WARMING

Hari Rabu kemarin, 27 Agustus 2008, saya diminta mengisi seminar pada acara OSPEK di kampus AMIK Kayani dengan tajuk Global Warming. Sebenarnya saya bukan orang yeng mendalami tentang persoalan ini, namun mengingat isu ini hampir merupakan isu milik bersama dan di Fisika juga sedikit mengkaji persoalan global warming dari aspek fisis, maka saya memberanikan diri untuk menerima undangan panitia. Namun karena saya tidak punya referensi (dalam bentuk buku) tentang persoalan ini, terpaksa makalah saya sunsun dengan mengambil referensi dari berbagai situs/blog yang membicarakan global warming. Setelah dipadukan berbagai pandangan tentang global warming, kemudian saya buat artikel sebagai berikut. Silahkan dibaca, semoga bermanfaat:

GLOBAL WARMING:

Sebab, Akibat dan Langkah Antisipasinya[1]

Sabar Nurohman[2]

PENDAHULUAN

Hampir semua penghuni bumi saat ini merasakan adanya keadaan yang tidak cukup nyaman. Masyarakat Indonesia misalnya, di saat sebagian kawasan sedang merasakan suhu yang sangat tinggi, pada saat yang sama di kawasan lain masyarakatnya sedang kebingungan mengungsi karena adanya banjir besar. Angin puting beliung, fenomena abrasi yang semakin mengkhawatirkan, menciutnya daratan karena luapan air laut dan sejumlah bencana alam merupakan fenomena yang seolah semakin akrab terdengar di telinga.

Melihat fenomena tersebut, manusia berusaha untuk mencari penjelasan tentang (1) apa yang sebenarnya sedang terjadi, (2) mengapa hal ini bisa terjadi dan (3) bagaimana cara penangananya? Sebagian orang menjadikan global warming sebagai isu utama untuk menjelaskan berbagai fenomena bencana alam yang sedang banyak berlangsung. Gas rumah kaca yang terdiri dari karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC dijadikan sebagai “kambing hitam” atas adanya fenomena global warming. Hal ini karena gas-gas tersebut menyebabkan adanya efek rumah kaca yang menyebabkan suhu bumi semakin panas.

Benarkah berbagai bencana alam yang dialami oleh bumi akhir-akhir ini merupakan akibat adanya global warming? Benarkah global warming terjadi karena adanya efek rumah kaca? Benarkah efek rumah kaca terjadi sebagai akibat emisi gas rumah kaca yang semakin meningkat? Tulisan ini akan mencoba mengkaji tentang sebab dan akibat global warming, serta langkah-langkah bijak apa yang dapat dilakukan untuk menghadapi fenomena ini.

GLOBAL WARMING dan EFEK RUMAH KACA

Bagian pertama tulisan ini akan mencoba mengkaji global warming secara definitif. Global warming merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi (http://geo.ugm.ac.id).

Apakah yang dimaksud dengan Efek Rumah Kaca? Sebelum menjawab pertanyaan ini, berikut disajikan kronologi bagaimana ilmuan menemukan fenomena rumah kaca ini:

1. Pada sekitar tahun 1820, Fourier menemukan bahwa atmosfer itu sangat bisa diterobos (permeable) oleh cahaya Matahari yang masuk ke permukaan Bumi, tetapi tidak semua cahaya yang dipancarkan ke permukaan Bumi itu bisa dipantulkan keluar, radiasi infra merah yang seharusnya terpantul terjebak, dengan demikian maka atmosfer Bumi menjebak panas (prinsip rumah kaca).

2. Tiga puluh tahun kemudian, Tyndall menemukan bahwa tipe-tipe gas yang menjebak panas tersebut terutama adalah karbon-dioksida dan uap air. Molekul-molekul tersebut yang akhirnya dinamai sebagai gas rumah kaca, seperti yang dikenal sekarang. Arrhenius kemudian memperlihatkan bahwa jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatgandakan, maka peningkatan temperatur permukaan menjadi sangat signifikan.

3. Semenjak penemuan Fourier, Tyndall dan Arrhenius tersebut, ilmuwan semakin memahami bagaimana gas rumah kaca menyerap radiasi, memungkinkan membuat perhitungan yang lebih baik untuk menghubungkan konsentrasi gas rumah kaca dan peningkatan Temperatur. Jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatduakan saja, maka temperatur bisa meningkat sampai 1°C (langitselatan.com).

Efek rumah kaca dengan demikian dapat dijelaskan sebagai berikut:Matahari meradiasikan energi panas dalam bentuk gelombang elektromagnetik dan sebagiannya menerpa permukaan bumi. Ketika gelombang elektromagnetik tersebut menerpa permukaan bumi, maka sebagian energinya diserap oleh tanah dan sebagian yang lain akan dipantulkan kembali ke udara. Bagian dari energi yang dipantulkan, sebagian akan diteruskan ke angkasa dan sebagian yang lain diikat oleh gas-gas rumah kaca. Layaknya proses dalam rumah kaca di pertanian dan perkebunan, gas-gas rumah kaca berfungsi menahan panas untuk menghangatkan rumah kaca.

Efek rumah kaca dalam keadaan normal sebenarnya merupakan “berkah” bagi bumi. Adanya efek rumah kaca menyebabkan suhu bumi menjadi cukup hangat. Tanpa fenomena ini, suhu bumi bisa berada pada kisaran -180 C (agusset.wordpress.com) dan tentu saja suhu tersebut bukanlah rentang suhu yang dapat digunakan untuk kehidupan. Sehingga pada dasarnya efek rumah kaca ini adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh bumi dan kehidupan yang ada di atasnya.

Mengingat demikian besarnya jasa gas-gas rumah kaca bagi kehidupan, maka tidak berlebihan kalau ada pertanyaan mengapa kini manusia menjadikan gas-gas rumah kaca sebagai “kambing hitam” atas berbagai bencana di muka bumi? Penjelasannya tidaklah terlalu rumit, seandainya di atmosfer terdapat konsentrasi gas rumah kaca dalam jumlah yang cukup besar, maka akan ada semakin banyak energi matahari yang terikat di atmosfer (tidak dilepas kembali ke angkasa). Jika energi matahari yang semestinya di lepas ke angkasa justru diikat oleh gas rumah kaca, maka keadaan ini tentu saja akan membuat atmosfer semakin panas. Manakala atmosfer semakin panas maka akan ada begitu banyak dampak lanjutan seperti: es di kutub mencair, permukaan air laut meningkat, angin siklon dan sebagainya.

SEBAB MUNCULNYA GLOBAL WARMING

Pernyataan bahwa gas-gas rumah kaca dapat mengikat energi panas matahari sehingga terperangkap di atmosfer, merupakan hal yang tidak terbantahkan lagi. Namun apa yang sebenarnya menyebabkan fenomena global warming, masih menjadi perdebatan. Sebagian besar ilmuan berpandangan bahwa gas rumah kaca, terutama karbon dioksida, sebagai sesuatu yang paling bertanggungjawab atas fenomena global warming (http://www.effectofglobalwarming.com). Sebagian yang lain berpandangan bahwa polusi karbondioksida yang selama ini terjadi tidak cukup signifikan untuk menyebabkan global warming karena jumlahnya hanya 0.04% dari keseluruhan gas di atmosfer. Selain itu, sebagaian ahli juga menyatakan bahwa seluruh gas yang ada di atmosfer adalah gas rumah kaca, tanpa terkecuali dimana komposisi terbesar adalah nitrogen (78%), oksigen (21%) dan uap air (hingga 3%) (http://agusset.wordpress.com).

Pandangan lain muncul dari sebagian ahli geologi, berdasarkan riset yang dilakukan, sebenarnya fenomena global warming merupakan siklus biasa yang memang harus terjadi di bumi, sehingga keberadaannya tidak dapat dicegah (http://rovicky.wordpress.com). Sedangkan sebagian kecil astronom, seperti Zecharian Sitchin “menuduh”, Planet X yang dipercaya sebagai nibiru, merupakan planet yang bertanggungjawab atas berbagai bencana yang terjadi di bumi akhir-akhir ini, termasuk adanya fenomena global warming dengan berbagai dampaknya. Planet tersebut dipercaya memiliki ukuran yang sangat besar dan merupakan salah satu anggota tata surya, namun memiliki orbit yang sangat eksentrik dengan periode 3661 tahun. Kehadiran planet tersebut di dekat bumi akan mengganggu gravitasi dan medan magnet bumi sehingga kemungkinan besar mampu merubah posisi kutub bumi. Hadirnya planet tersebut merupakan pertanda bagi hancurnya peradaban manusia dan munculnya peradaban berikutnya (http://forum.detik.com).

Pandangan dari sebagian geologist maupun astronom yang disebutkan terakhir agaknya tidak perlu ditanggapi secara serius. Hal itu karena keduanya nampak sangat spekulatif dalam merespon isu global warming. Pandangan bahwa global warming merupakan sesuatu yang tidak dapat dicegah karena ia akan datang dan pergi secara alamiah, merupakan cara pandang yang terlalu “pasrah”. Padahal manusia diberi akal oleh Tuhan untuk mengantisipasi berbagai keadaan yang mungkin akan dihadapi.

Gagasan Zecharian Sitchin, seorang astronom yang mengatakan bahwa berbagai bencana alam yang terjadi di muka bumi merupakan akibat semakin mendekatnya nibiru ke daerah orbit bumi juga merupakan rekaan yang belum diterima oleh sebagian besar astronom. Ternyata Sitchin mengemukan pandangannya tidak disertai dengan bukti empiris dari hasil suatu observasi, melainkan “sekedar” menyandarkan pendapatnya pada suatu tulisan kuno sumeria (langitselatan.com). Di sampng itu, orang-orang yang percaya keberadaan nibiru sebagai Planet X yang dapat membuat malapetaka di bumi mencoba menghubungkan sejarah peradaban manusia yang rata-rata mengalami perubahan besar tiap 3600 tahun (http://forum.detik.com).

Adapun pandangan pertama yang menganggap bahwa global warming berkaitan erat dengan emisi gas rumah kaca (salah satunya CO2) merupakan penjelasan yang paling memuaskan sampai saat ini. Sejak tahun 2001, studi-studi mengenai dinamika iklim global menunjukkan bahwa paling tidak, dunia telah mengalami pemanasan lebih dari 3°C semenjak jaman pra-industri dan sejak tahun 1900 Bumi telah mengalami pemanasan sebesar 0,7°C (langitselatan.com). Hal ini menunjukan ada kaitan yang sangat serius antara peningkatan suhu bumi dengan emisi gas karbondioksida.

AKIBAT GLOBAL WARMING

Sebagian besar ilmuan sepakat bahwa meningkatnya emisi gas karbondioksida dapat menyebabkan efek rumah kaca, efek rumah kaca jika dibiarkan akan menyebabkan kenaikan suhu global (global warming), dan dampak terbesar dari fenomena global warming adalah adanya perubahan iklim global. Sebenarnya efek utama peningkatan konsentrasi gas rumah kaca adalah naiknya suhu bumi, namun kenaikan suhu bumi ini akan memiliki begitu banyak dampak lanjutan.

Suhu bumi yang meningkat akan mempercepat proses pencairan es di daerah kutub. Es yang mencair akan mengisi lautan, akibatnya ph air laut berubah (sangat berpengaruh bagi biota laut), tinggi air laut meningkat, terjadinya abrasi di daerah pantai, daratan menyempit, dan pulau-pulai kecil akan lenyap “ditelan” laut. Bukan itu saja, akibat meningkatnya suhu bumi, di daerah hangat (non kutub) akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Kelembaban yang tinggi ini akan memicu meningkatnya curah hujan dan memungkinkan bagi terjadinya badai dalam skala besar. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah, akibatnya akan ada banyak tanah kering. Angin akan berjalan lebih kencang, topan badai akan memperoleh kekuatannya dari penguapan air. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi (wikipedia). Bahkan dampak akhirnya adalah dimulainya kembali zaman es. Sehingga dapat dikatakan, hal yang paling menakutkan dari efek rumah kaca bukanlah global warming, melainkan hadirnya kembali zaman es, karena hal ini berarti merupakan akhir peradaban manusia sekarang.

LANGKAH ANTISIPATIF

Mengingat sedemikan besar dan luas dampak yang ditimbulkan oleh global warming, maka manusia hendaknya melakukan langkah-langkah antisipasi. Namun, sebelum memperdalam teknik antisipasi global warming, harus disadari dahulu bahwa fenomena global warming walau bagaimanapun masih merupakan “barang gaib” yang belum diketahui secara pasti (100%) apa penyebabnya. Sehingga jangan sampai manusia menjadikan isu ini sebagai isu sentral dan menguras dana serta pikiran yang berlebihan. Jangan sampai negeri ini diperalat oleh bangsa-bangsa maju untuk memperoleh keuntungan bisnisnya. Sebagai contoh: kesepakatan yang dibuat oleh hampir semua negara pada saat konferensi tentang perubahan iklim dunia di bali beberapa bulan yang lalu, bahwa negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) bertanggung jawab untuk ikut menangani emisi gas CO2 yang dibuat oleh negara-negara industri maju. Negara berkembang diwajibkan untuk menyediakan lahannya sebagai tempat konserfasi alam dengan dana bantuan (kata lain dari hutang) dari negara-negara maju. Bukankah ini merupakan cara lain bangsa-bangsa barat memaksa agar negara-negara berkembang berhutang kepada mereka? Bukankah ini cara lain bagi mereka untuk mengendalikan negara-negara berkembang? Bukankah ini cara lain bagi bangsa barat untuk menjajah (kembali) negara-negara berkembang?

Langkah-langkah antisipasi tetap harus dilakukan, namun dengan cara yang wajar dan tidak membelenggu. Sejauh belum tersedia kendaraan yang lebih ramah lingkungan, tidak mengapa bagi kita untuk berkendara dengan bahan bakar minyak, namun tetap harus hemat. Sejauh PLN hanya mampu menyediakan listrik berbahan bakar minyak, tidak mengapa kita menggunakan listrik di rumah-rumah, namun tetap harus hemat. Hemat agak berbeda dengan ”pelit”, hemat merupakan sikap hidup yang bersahaja dan menggunakan sesuatu seperlunya.

Secara bersamaan, penting bagi manusia untuk terus menciptakan inovasi teknologi, mengembangkan bahan bakar non fosil (seperti energi Matahari, angin, magnet, gravitasi dll) untuk mengurangi emisi gas CO2. Selain itu, setiap individu perlu mendidik dirinya agar cinta pada lingkungan hidup. Menanam pohon atau tanaman apapun di rumah-rumah, meskipun nampaknya kecil pengaruhnya, namun jika dilakukan oleh seluruh penduduk bumi, maka dalam waktu 10-20 tahun yang akan datang akan tumbuh berjuta-juta pohon baru yang dapat ikut mengimbangi laju emisi gas rumah kaca.

PENUTUP

Global warming bukanlah sesautu yang harus ditakuti melainkan diantisipasi. Jika setiap orang dengan cara-caranya yang sederhana melakukan langkah-langkah antisipasi seperi: mengembangkan pola hidup hemat energi, kratif dalam mengembangkan teknologi ramah lingkungan dan ikut andil menanam satu pohon untuk dunia, maka kita masih bisa berharap bahwa planet ini masih dapat dinikmati oleh anak cucu kita.

Referensi

Anonim.(2008). Pemanasan Global: Pro dan Kontra. Diakses dari http://agusset.wordpress.com/2006/01/31/pemanasan-global-pro-dan-kontra/ pada tanggal 10 Agustus 2008

Fakultas Geografi UGM.(2008). Pemanasan Global. Diakses dari http://geo.ugm.ac.id/archives/28 pada tanggal 10 Agustus 2008

Langitselatan.com.(2008). Global warming. Apa dan mengapa. Diakses dari http://langitselatan.com/2008/02/09/global-warming-apa-dan-mengapa/ pada tanggal 10 Agustus 2008

Roviky. (2008). Global Warming, Tidak Bisa Dicegah. Diakses dari http://rovicky.wordpress.com/2007/12/15/global-warming-ngga-bisa-dicegah/ pada tanggal 10 Agustus 2008



[1] Disampaikan pada acara seminar tentang Global Warming di Kampus Kartikayani pada tanggal 27 Agustus 2008

[2] Dosen Jurusan Pendidikan Fisika FMIPA UNY

About SabarNurohman

Saya sabar nurohman, staf pengajar di jurusan Pendidikan Fisika FMIPA UNY. Aktivitas lain di luar kampus adalah sebagai trainer, tergabung d

Posted on August 28, 2008, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. ass… pak
    ternyata ditulis juga yah!!
    aku anak KAYANI juga yang kebetulan menjadi panitia OSPEK INKA 2008 AMIK KAYANI.

    saya sebagai seksi acara…

    met puasa yah pak
    n semoga bumi kita ini tidak seperti yang kita banyangkan keburukannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: