UN Versus Multiple Intelligence

Suasana Pengumuman UN

Suasana Pengumuman UN

Seperti yang sudah saya janjikan pada beberapa tulisan sebelum ini, kali ini saya akan mencoba memaparkan gagasan saya tentang UN. Harus diakui bahwa proses UN masih jauh dari yang diharapkan. Alih-alih meningkatkan kualitas peserta didik, UN justru merupakan variabel penghambat kemajuan kualitas peserta didik.  Guru pada akhirnya tidak lagi memperhatikan proses pembelajaran, karena orientasinya pada hasil UN. Akibatnya pembelajaran berlangsung secara tidak bermakna, hanya diisi drill soal yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan aktifitas ilmiah/akademik.

Kenyataan ini jelas sangat bersebrangan dengan semangat yang diajarkan di LPTK seperti UNY. Sewaktu kuliah, mahasiswa calon guru sudah diajarkan tentang bagaimana mengembangkan model pembelajaran yang bermakna, namun ketika di lapangan, mereka dihadapkan pada suatu sistem yang tidak bisa memberi ruang bagi guru untuk mengembangkan model pembelajaran inovatif yang dapat meningkatkan kreativitas peserta didik. Dengan alasan mengejar target kelulusan, guru dipaksa untuk mengembangkan model pembelajaran yang “membodohkan”.

Selain tidak sesuai dengan semangat mengembangkan model pembelajaran yang inovatif, UN juga dapat dipandang sebagai kebijakan yang tidak mempertimbangkan “KEADILAN KECERDASAN”. Istilah ini mungkin jarang kita dengar. Saya hanya ingin mengatakan bahwa sejatinya UN tidak menghargai kenyataan Multiple Intelligence. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa kecerdasan manusia bukanlah sesuatu yang tunggal, melainkan multi (majemuk). Menurut Howard Gardener, kecerdasan manusia setidaknya terdiri dari delapan kategori, yaitu:

  1. Kecerdasan linguistik
  2. Kecerdasan logik matematik
  3. Kecerdasan visual dan spasial
  4. Kecerdasan musik
  5. Kecerdasan interpersonal
  6. Kecerdasan intrapersonal
  7. Kecerdasan kinestetik
  8. Kecerdasan naturalis

Setiap orang memiliki kelebihan sendiri-sendiri. Ada orang yang dominan pada kecerdasan naturalis, sebagian yang lain dominan pada kecerdasan musikal dan seterusnya. Artinya, Allah Swt telah menciptakan manusia dengan kelebihan yang beragam/berbeda antara satu dengan yang lainnya. Akhirnya kita dapat mengatakan bahwa semua orang adalah cerdas, hanya  domain kecerdasannya saja yang berbeda-beda.

Dipandang dalam perspektif Multiple Intelligence, jelas kebijakan UN sangat tidak adil. Ketika standar kelulusan hanya ditentukan oleh mata pelajaran IPA/IPS, MTK, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, ini artinya kita hanya akan menganggap bahwa orang yang “cerdas” hanyalah mereka yang memiliki kemampuan logikal-matematikal. Mereka yang kenderungannya pada kecerdasan lain seolah tidak dihargai lagi.

Artinya, kita masih menggunakan cara pandang lama terhadap kecerdasan. Selama ini kita masih terpenjara oleh paradigma keliru bahwa cerdas adalah identitk dengan Matematika, eksak dan yang sejenisnya. Padahal dalam kenyataannya, orang-orang sukses tidak selalu mereka yang cerdas dalam domain Logical-matematic saja. Justru di era industri kreatif seperti saat ini, mereka yang memiliki kecerdasan yang berkaitaan dengan kreatifitas seperti kecerdasan musical malah yang paling banyak “mujur”.

Maka sebaiknya sistem pendidikan kita perlu melakukan introspeksi, benarkah kebijakan UN memang sudah berjalan pada rel yang benar? Benarkah kebijakan UN telah melewati kajian akademik yang benar? Benarkah kebijakan UN telah mempertimbangan keragaman kecerdasan para siswa Indonesia?

About SabarNurohman

Saya sabar nurohman, staf pengajar di jurusan Pendidikan Fisika FMIPA UNY. Aktivitas lain di luar kampus adalah sebagai trainer, tergabung d

Posted on June 19, 2009, in Opini and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: