Pembuatan SIM dan “Retorika” Reformasi POLRI

sim-1

Berusaha jujur di tengah-tengah keculasan, terkadang sungguh menyakitkan…

Sabtu kemarin (11 Juli 2009) untuk kedua kalinya saya mengikuti ujian Teori pembuatan SIM C. Hal ini karena pada ujian kesempatan pertama saya tidak lulus. Dari 30 soal yang diberikan saya hanya menjawab benar 16 pertanyaan, padahal batas bawah kelulusan adalah 20. Maka setelah kegagalan ujian pertama saya search di berbagai situs untuk mempelajari berbagai peraturan lalu lintas agar bisa menjawab soal minimal 20 agar bisa lulus. Hasilnya lumayan, Alhamdulillah saya bisa mengerjakan 21 soal, jadi ujian teori dinyatakan lulus.

Selama pelaksanaan ujian teori saya merasakan ada beberapa keganjilan, pada saat saya masuk di ruang ujian teori, saya lihat ada beberapa petugas Polisi sedang mengerjakan soal ujian teori. Dalam hati, Perjokian ternyata dilakukan juga to oleh Polisi. Ketika saya keluar dari ruang ujian teori, ada seorang ibu membawa anaknya yang masih berseragam SMA baru masuk ke ruang ujian teori. Pikir saya, ibu ini sedang menghantar anaknya yang akan melaksanakan ujian teori. Saya berjalan terus menuju tempat ujian praktik yang kebetulan agak jauh (harus naik motor). Pada saat saya sedang mencari tempat ujian praktik, ternyata ibu tadi sudah hampir menyusul di belakang saya. Saya bertanya-tanya, kok ujian teorinya bisa cepet banget ya? Saya saja butuh dua kali untuk mengerjakan ujian hingga lulus.

Ketika sampai di tempat ujian praktik, saya memilih untuk latihan dulu. Sementara Ibu yang membawa anak tadi langsung masuk, anaknya diminta untuk nulis data di suatu Form, dan selesai. Mereka pergi dengan membawa surat keterangan lulus ujian praktik, padahal tidak ada ujian praktik yang mereka ikuti. Buset dah…

Sementara itu,  saya masih memastikan bahwa saya bisa menghadapi tantangan ujian praktik (yang kalau dipikir-pikir agak tidak masuk akal). Saya melatih ketangkasan berkendara dengan melewati berbagai halang-rintang, namun gagal terus. Setelah Petugas selesai melayani Ibu dan anak tadi, saya masuk ke ruang untuk mendaftar Ujian Praktik. Saya disodori Form Pernyataan Hasil Ujian Praktik. Saya lihat formnya sudah terisi, tinggal menuliskan nama dan alamat. Data-data lain telah terisi dengan kata-kata: Lulus dan telah ditandatangi petugas. Di sana ada 2 kolom, kolom sebelah kiri menyatakan jenis ujian dan kolom sebelah kanan berisi pernyataan Lulus atau Tidak Lulus. Jadi waktu itu saya sudah diberi Surat Pernyataan Lulus Ujian Praktik, padahal saya belum ujian praktik. Tapi begitu Petugas Polisi tersebut melihat Stofmap Saya ada kode “LM” yang dituliskan oleh petugas di ruang ujian teori, buru-buru polisi tadi mengambil form yang sudah saya isi Nama dan Alamat dan menggantinya dengan form baru yang masih kosong. Artinya, belum ada kata-kata Lulus pada form tersebut. Rupa-rupanya Polisi menggunakan kode LM untuk menunjuk bahwa saya “Lom Mbayar”. Sedangkan peserta ujian lain mungkin dikasi kode lain yang menunjuk bahwa mereka sudah mbayar, sehingga begitu masuk, mengisi data, langsung bisa pergi membawa pernyataan lulus ujian praktik. (weleh-weleh)

Setelah selesai menulis data di “Calon” Pernyataan Lulus Ujian Praktik, polisi memberi penjelasan mekanisme ujian praktik. Saya harus melewati rute zig-zag, angka delapan, zig-zag lagi dan masuk di gang sempit. Bismillah, saya akan mencobanya meskipun pada sesi latihan tadi saya masih gagal melewati rute zig-zag. Satu persatu patok saya lewati hingga akhirnya saya masuk di rute angka 8, lalu balik lagi ke rute zig-zag dan saya juga bisa melakukannya dengan baik, padahal sewaktu latihan saya tidak pernah berhasil. Kini tinggal masuk di rute gang sempit berkelok, saya pikir ini jauh lebih mudah, mulai saat itu saya agak meremehkan rute. Perasaan meremehkan rute ini rupanya ditegur oleh Allah Swt,  saya mulai tidak konsentrasi dan akhirnya saya gagal pada saat hendak melewati rute terakhir, kaki kanan saya turun menyentuh lantai. Maka saya dinyatakan gagal dan harus mengulang dalam waktu dua minggu.

Seusai ujian praktik saya masih penasaran, saya coba lagi ternyata bisa. Namun Pak Polisi tidak mau tahu, walaupun saya berhasil, tapi itu tidak dinilai, jadi ya tetap saja saya harus mengulang dua minggu lagi, padahal barusan Pak Polisi sudah melihat sendiri saya bisa. Apa pentingnya nunggu dua minggu lagi. Pada saat yang sama ada banyak peserta ujian SIM datang, namun seperti biasa mereka langsung disodori form yang sudah beres, mereka tinggal menulis nama dan alamat, tanpa tes, dan akhirnya bisa pergi dari tempat itu dengan membawa pernyataan lulus ujian praktik.

Itulah pengalaman “menyakitkan” saya pada saat ujian SIM yang akhirnya belum lulus. Saya sakit bukan karena saya belum lulus, cuma kenapa POLRI dan masyarakat kita hari ini masih seperti ini. Saya sudah “kadung” khusnuzhon, ketika dulu KAPOLRI dipegang oleh Jend Sutanto, yang katanya termasuk POLISI bersih, saya mengira sejak saat itu praktik-praktik suap pada saat membauat SIM sudah tidak ada lagi. Ternyata yang saya lihat kemarin masih sama saja.

Jadi Retorika Elit Polisi yang konon sudah dan sedang terus melakukan Reformasi di tubuh POLRI hanyalah omong kosong. Padahal baru beberapa hari yang lalu POLRI kita ini baru berulang tahun, semakin tua usianya, saya kira semakin arif, tapi ternyata masih sama saja. Apalagi yang menjadi isu utama Hari Bayangkara ke 63 kemarin adalah Reformasi POLRI.

Pantas kalau banyak pihak menyebut POLRI adalah lembaga pemerintah terkorup di Indonesia. Tulisan saya ini jelas merupakan ekspresi kekecewaan saya pada saat Ujian SIM kemarin, namun lebih daripada itu, tulisan ini semoga bermanfaat bagi masyarakat untuk tidak suka mengambil jalan pintas pada saat membuat SIM dengan cara menyuap. Ingat, yang menyuap dan yang disuap sama-sama masuk neraka…..

About SabarNurohman

Saya sabar nurohman, staf pengajar di jurusan Pendidikan Fisika FMIPA UNY. Aktivitas lain di luar kampus adalah sebagai trainer, tergabung d

Posted on July 12, 2009, in Opini and tagged , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. makasih banget ya,, tulisannya udah jadi motivator n semangat aq tuk buat SIM C dgn cra yg jujur,,,,,,kebetulan q mw buat SIM dlam waktu dkat ni,,,,tp aq msih dibyangin rasa tkut gagal wahhhhhh gaswat ni

  2. bener2 sama pengalaman…dalam membuat sim..tapi anakku gag begitu kuat dlm mengatasi hal ini…..waduh…gimana dong jalan keluarnya…kalau adiknya sih tahan banting….gag lulus coba lagi…terus..begitu…tapi kakanya walau anakku laki2 keduanya…marah2 dan putus asa dalam menghadapi ujian sim ini…..

  3. Rachmat Machmud

    Form isian untuk ujian SIM kendaraan roda dua.
    soal apa aja yang diberikan/harus di jawab?
    Bantuan dan kesediaan teman-teman memberikan informasinya.
    Terima kasih.
    ws saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: