Jogja: Sebuah Ironi Kota Pendidikan

Tugu Jogja

Tugu Jogja

Sebentar lagi, Jogja akan segera didatangi oleh ribuan penghuni baru yang datang dari hampir seluruh penjuru negeri. Sebagai sebuah tempat yang dikenal sebagai kota pelajar, ataupun kota pendidikan, wajar kalau ada begitu banyak lulusan SMA yang memimpikan bisa menikmati proses belajar di Jogjakarta.

Jogja, bagi sebagian kalangan dianggap sebagai sebuah tempat yang cukup kondusif untuk meningkatkan kapasitas intelektual seorang mahasiswa. Di Jogja tersedia ada begitu banyak kampus dengan puluhan atau bahkan ratusan program studi. Dari kampus  yang besar dan bergengsi hingga penyedia jasa layanan kursus singkat. Semua tersedia.

Pertanyaannya, benarkah saat ini Jogja masih menunjukkan karakternya sebagai kota pelajar/kota pendidikan? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita harus menyepakati terlebih dahulu, indikator apa yang harus dipenuhi oleh kota pelajar/kota pendidikan? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya coba tampilkan salah satu misi Pemkot Yogyakarta yang berkaitan dengan upayanya dalam mempertahankan Yogyakarta sebagai kota Pendidikan. Misi tersebut adalah:

Mempertahankan predikat Kota Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan yaitu dengan mengupayakan partisipasi seluruh komponen masyarakat, pemerintah daerah dan swasta agar penyelenggaraan pendidikan di Kota Yogyakarta mempunyai standar kualitas yang tinggi dan terkemuka di Asia Tenggara, mempunyai keunggulan kompetitif yang berdaya saing tinggi, kompetensi tinggi, menekan berbagai pengaruh negatif yang dapat merusak citra pendidikan Kota Yogyakarta; menciptakan sistem dan kebijakan pendidikan yang unggul; membantu penyediaan sarana dan prasarana pendidikan.

Berdasarkan misi di atas, upaya yang direncanakan oleh Pemkot Yogyakarta dalam mempertahankan citranya sebagai Kota Pendidikan antara lain melalui peningkatan partisipasi masyarakat, pemerintah dan swasta dalam mengembangkan pendidikan berkualitas, menekan pengaruh negatif yang dapat merusak citra kota pendidikan, dan peningkatan sarana prasarana pendidikan.

Bagaimana kenyataannya? Sudahkah masyarakat, pemerintah, dan berbagai pihak swasta di Yogyakarta telah berkolaborasi untuk menciptakan kultur akademik yang lebih baik? Sudahkah ada usaha yang serius untuk melawan berbagai kultur negatif yang merusak kultur intelektual? Dan seberapa serius pemerintah membangun berbagai sarana dan prasarana yang mendukung bagi pengembangan kultur intelektual warganya?

Bagi saya, dalam kurun 5-10 tahun terakhir ini, ada berbagai perkembangan yang cukup memprihatinkan. Perkembangan tersebut bermuara pada hilangnya karakter Jogja sebagai kota pendidikan dan berubah menjadi kota hedon lagi permisif. Lihat saja kondisi kampus hari ini, sebagian banyak mahasiswa telah tercerabut dari akarnya sebagai komunitas intelektual dan agen perubahan menjadi komunitas hura-hura dan permisif. Sedikit sekali mahasiswa yang menyisakan ruang pikirnya untuk mendialogkan berbagai persoalan bangsa dan negaranya, lalu menggantinya dengan perbincangan cengeng urusan percintaan.

Keadaan ini tidak muncul begitu saja. Pergeseran kultur ini muncul karena kita salah dalam mengambil kebijakan. Rupa-rupanya ada sekelompok orang yang ingin memanfaatkan Jogja sebagai tempat berkumpulnya anak-anak muda hanya sebagai lahan bisnis. Sekelompok orang ini (para pemilik modal) tentu saja dapat beraksi karena sokongan para penguasa. Jadi, ada konspirasi antara kaum kapitalis dengan penguasa untuk menjadikan Jogja sebagai lahan bisnis yang empuk tanpa memperhatikan dampaknya bagi pengembangan kultur akademik masyarakat Jogja.

Lihat saja spanduk-spanduk yang menghiasi berbagai tempat strategis di Jogja! Pernahkah kita lihat kalimat-kalimat “Telah di buka toko buku murah untuk rakyat” atau “Datangilah pojok diskusi mengelola negeri membangun peradaban” atau “Telah hadir di Kota Anda: Taman bacaan gratis”? Sejauh yang saya amati, iklan-iklan yang menghiasi di Kota Yogyakarta berkisar pada: “Weekend, bareng DJ Paijo dengan Sexy Dancer Anita”, “Soft Opening: Edan Kafe, diskon untuk mahasiswa”.

Pemilik modal bersama pemerintah lebih tertarik untuk membangun mall, kafe, distro, dan berbagai simbol  hura-hura lainnya. Hal ini karena bisnis tersebut  dirasa jauh lebih menjanjikan daripada membangun berbagai fasilitas yang menunjang peningkatan kultur intelektual. Akibatnya mall dan kafe di Jogja begitu menjamur sedangkan pertumbuhan sarana peningkatan kultur akademik terasa jalan di tempat.

Jogja sebagai kota pendidikan semestinya membangun sebanyak mungkin berbagai fasilitas yang berkait erat dengan upaya penumbuhan kapasitas intelektual, bukan berbagai pusat pengembangan budaya hedon dan permisif. Semoga bermanfaat.

About SabarNurohman

Saya sabar nurohman, staf pengajar di jurusan Pendidikan Fisika FMIPA UNY. Aktivitas lain di luar kampus adalah sebagai trainer, tergabung d

Posted on July 28, 2009, in Artikel, Opini, Uneg-uneg and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. kalou kita kuliah terus nanti bisa gila pak….
    ya sewaktu waktu boleh donk kita refresing atau tamasya….ehhehehehee

  2. Jogja sejak dahulu kala terkenal dengan julukan kota pendidikan…. dan akan sangat memprihatinkan juga sangat disayangkan jika Pemilik modal bersama pemerintah lebih tertarik untuk membangun mall, kafe, distro, dan berbagai simbol hura-hura lainnya….
    bisa dibayangkan sepuluh tahun kedepan …. seperti apa Jogja kota Pendiidikan…?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: