Open Your Eyes

Allah berfirman di awal Juz 29, tepatnya di QS Al Mulk 3-4:

Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?  Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.

Ayat tadi dan nasyid yang baru saja kita dengarkan, seolah memaksa kita agar menggunakan kemampuan indra kita untuk menangkap sandi-sandi kekuasaan Allah Swt.

Allah menggunakan dua sandi besar dalam menunjukan kekuasaan-Nya. Kedua sandi tersebut adalah sandi qouliyah dan sandi qouniyah. Sandi qouliyah dapat dilihat dengan mempelajari Al Qur’an, sedangkan sandi qouniyah dipelajari dengan mencermati setiap fenomena yang ada di sekitar kita, baik peristiwa alam maupun kejadian sosial. Karena kedua sandi tersebut berakar pada suatu zat yang sama, yakni Allah Swt, maka di antara keduanya tidak boleh ada yang saling bertentangan. Jika ditemukan adanya pertentangan antara Qur’an (sebagai ayat qouliyah) dan peristiwa alam (sebagai ayat qouniyah), pasti salah satunya ada yang salah. Dengan demikian, untuk menguji kebenaran ajaran suatu agama, kita dapat mengkonfrontirkan kitab agama tersebut dengan ayat-ayat qouniyah (kejadian alam-sosial) yang terjadi di sekitar kita.

Sejauh ini, ayat-ayat Al Qur’an selalu menunjukan kepada kita, bahwa ia memang Firman Allah. Hal ini karena, ayat-ayat Al Qur’an senantiasa harmonis dengan temuan-temuan ilmu pengetahuan. Semakin manusia bekerja keras dalam mempelajari alam, maka semakin nyata setiap kebenaran ayat-ayat Al Qur’an. Berbagai penemuan di dunia sains modern, ternyata telah dikabarkan oleh Al Qur’an 15 abad yang silam.

Ketika ahli geologi berhasil menjelaskan bahwa dahulu bumi kita ini terdiri dari suatu daratan yang sangat luas, lalu masing-masing lempeng bumi bergerak pada arah yang berbeda-beda, hingga akhirnya terbentuk lima benua, sehingga disimpulkan bahwa lempeng litosfer ini tidak ada yang diam, melainkan bergerak, maka jauh-jauh hari Al Qur’an telah mengingatkan kepada kita melalui QS An Naml: 88 tentang gerakan lempeng litosfer tersebut.

Dan kamu lihat gunung-gununggitu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Atau, ketika di abad ini manusia secara saintific baru mengetahui teori big-bang, maka 15 abad yang silam, melalui QS Al Ambiya: 30 Allah telah mengabarkan tentang bagaimana keadaan alam semesta pada fase awalnya.

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

Tentu saja, para sahabat di zaman nabi, dengan ilmu yang mereka ketahui belum bisa memperoleh pembuktian ilmiah atas kebenaran kedua ayat tersebut. Saya yakin, para sahabat, dengan ilmu yang mereka kuasai saat itu, belum bisa menerima secara logika tentang kedua ayat tersebut. Namun mereka senantiasa berkata “Sami’na Wa Atho’na” ketika setiap ayat turun kepada mereka.

Kenyataan ini mengajarkan kepada kita, kalaulah saat ini mungkin kita menjumpai ayat-ayat yang “belum” bisa dibuktikan secara ilmiah, bukan berarti kita akan mengingkari ayat Al Qur’an. Ini hanya persoalan waktu, kapan manusia, dengan akal yang dimilikinya, dapat menemukan kebenaran Al qur’an melalaui kegiatan ilmiah. Para sahabat mengajarkan kepada kita, untuk meletakan logika  akal di bawah logika wahyu. Hal ini mengingat akal manusia diliputi keterbatasan.

Demikain, semoga menambah keimanan kita.

About SabarNurohman

Saya sabar nurohman, staf pengajar di jurusan Pendidikan Fisika FMIPA UNY. Aktivitas lain di luar kampus adalah sebagai trainer, tergabung d

Posted on January 19, 2010, in ayat-ayat qouliyah, Tausyiyah and tagged , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. jd teringat slh satu dosen sy…beliau sering mengutip2 ayat2 ttg pnciptaan alam semsta sperti yg di atas u/mndukung teori evolusi..
    misalnya ttg al anbiya ayat 30, beliau bilang inilah yg mjd dasar bhw Islam tdk brtentangan dg teori evolusi, bhw makhluq hidup asal mulanya dr air… he2 beda pembahasan nih (biologi…). Hmmm… kata beliau yg dipermasalahkan bukanlah adam dr monyet dsb, tp adam adlh manusia ktika smw sdh siap, ktika smw fase pnciptaan alam semesta telah sempurna shg siap u/mnerima sosok kehadiran manusia…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: