Aktivitas Matahari dalam Perspektif Al Qur’an

Hari Sabtu, 5 Juni 2010 saya diminta mengisi sebuah Seminar Nasional bertemakan Aktivitas Matahari 2012 yang diselenggarakan oleh Jaringan Rohis MIPA Nasional (JRMN) di UII. Hanya saja saya diminta mengkaji persoalan ini dalam perspektif Al Qur’an. Pembicara yang lain mengkaji dalam perspektid sains (Pak Bachtiar dari LAPAN) dan Dalam perspektif Kesehatan (Bu Tri dari Dinkes Jogja). Berikut saya sajikan makalah saya pada seminar tersebut.

Pengantar

Sejak direalesnya film dengan judul “2012”,  sejumlah orang memposisikan tahun 2012 pada proporsi yang cukup berlebihan. Sebagian menganggap tahun 2012 merupakan tahun yang “angker” karena akan ada banyak musibah terjadi, bahkan sebagian yang lain mengatakan bahwa kiamat akan datang di tahun yang sama.  Pandangan ini muncul mengikuti ramalan bangsa maya yang menganggap bahwa sistem penanggalan akan berakhir di tahun 2012 yang berarti juga merupakan pertanda berakhirnya sistem kehidupan, atau dalam bahasa lain disebut sebagai kiamat. Tidak ketinggalan, paranormal yang banyak diikuti oleh masyarakat Indonesia, Mama Loerent, ikut meramalkan bahwa kiamat memang akan terjadi di tahun 2012, karena menurut penerawangannya, dia sudah tidak melihat apapun setalah tahun 2012.

Sejumlah orang juga ingin memberikan penjelasan secara “ilmiah” tentang kemungkinan akan terjadinya kiamat di tahun 2012. Seperti Zecharian Sitchin, seoarang astronom yang agak “nyentrik”, menuduh  Planet X yang dipercaya sebagai nibiru, merupakan planet yang bertanggungjawab atas berbagai bencana yang terjadi di bumi akhir-akhir ini, termasuk adanya fenomena global warming dengan berbagai dampaknya. Planet tersebut dipercaya memiliki ukuran yang sangat besar dan merupakan salah satu anggota tata surya, namun memiliki orbit yang sangat eksentrik dengan periode 3661 tahun. Kehadiran planet tersebut di dekat bumi akan mengganggu gravitasi dan medan magnet bumi sehingga kemungkinan besar mampu merubah posisi kutub bumi. Hadirnya planet tersebut merupakan pertanda bagi hancurnya peradaban manusia.

Selain itu, sebagaian juga ingin mencoba menjelaskan ramalan tahun 2012 dengan mengaitkannya terhadap aktivitas matahari, yang kebetulan secara periodik akan mengalami puncak aktivitas antara tahun 2011 hingga 2015an. Bagaimana Al Qur’an membimbing manusia di tengah-tengah wacana seperti ini? Benarkah aktivitas matahari dapat mengakhiri kehidupan di tahun 2012? Pertanyaan-pertanyaan ini dan berbagai pertanyaan yang mirip dengannya akan coba diulas dalam tulisan sederhana ini.

Aktivitas Matahari

Matahari merupakan  sebuah bintang yang menjadi pusat sistem tata surya kita. Lebih dari 90% massa tata surya terdapat pada matahari, maka wajar jika matahari berperan sebagai pusat sistem tata surya sekaligus penghasil energi utama bagi kehidupan di bumi. Terdapat sejumlah  peristiwa di bumi yang keberlangsungannya “dikendalikan” oleh matahari.  Peristiwa fotosintesis yang akan menghasilkan energi pada tumbuhan  sekaligus sebagai penentu siklus Oksigen dan Karbondioksida,  dan siklus hidrologi yang sangat berpengaruh bagi proses kehidupan di bumi membutuhkan matahari sebagai pemicunya.

Keberadaan matahari juga berguna bagi manusia dalam menentukan sistem penanggalan. Bahkan ada banyak ibadah yang tata-caranya berkaitan dengan peredaran matahari. Penentuan waktu sholat yang lima waktu hampir semuanya menggunakan dasar pergerakan matahari relatif terhadap bumi. Posisi waktu dhuha juga ditentukan oleh matahari. Kapan orang harus memulai dan menghentikan puasa juga ditentukan pergerakan matahari dan bulan, bahkan para pemukul bedug tanda berbuka puasa juga akan menjalankan aktivitasnya berdasarkan aktivitas matahari.

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui (QS Yunus: 5).

Selain merupakan “sumber” keberkahan, Matahari dalam perspektif yang agak berbeda juga dimungkinkan akan menjadi “sumber” bencana. Setiap saat matahari melepaskan radiasai elektromagnetik (yang sebagiannya berbahaya), lontaran debu-debu matahari yang bermuatan,  bahkan secara periodik akan terjadi peningkatan aktivitas ledakan matahari (flare), angin surya, kemunculan bintik matahari dan lain sebagainya. Hampir seluruh aktivitas tersebut dapat berpotensi bagi munculnya bencana di muka bumi.

Para ilmuan telah mengumpulkan data aktivitas matahari dari waktu ke waktu. Data tersebut menunjukan bahwa matahari bukanlah benda yang statis, melainkan dia sangat dinamis. Ada berbagai aktivitas yang terjadi di matahari secara periodik. Gambar 1. menunjukan fluktuasi aktivitas matahari dalam tiga abad terakhir. Gambar 2. menunjukan fluktuasi aktivitas matahari selama sepuluh tahun terakhir. Kedua gambar tersebut menunjukan kepada kita bahwa aktivitas matahari yang konon akan memuncak pada tahun 2012 bukanlah  barang baru, melainkan aktivitas alamiah yang sudah sering berlangsung.

Gambar 1. Fluktuasi Aktivitas Matahari dalam 3 Abad Terakhir

Gambar 2. Fluktuasi Aktivitas Matahari dalam dua dekade terakhir

Pada dua puluh tahun terakhir, matahari pernah memasuki era “ketenangan” dan puncak aktivitasnya secara periodik. Pada tahun 1996 misalnya, kala itu matahari sedang mengalami masa “ketenangannya”. Dampaknya bagi bumi (terutama di daerah utara) adalah terjadinya musim dingin yang sangat ekstrim hingga menewaskan 600 orang di Rusia.  Tahun 2009 juga merupakan tahun aktivitas matahari yang paling minimal. Akibatnya di Eropa dan Amerika terjadi musim dingin yang ekstrim dengan badai salju dan salju tebal.

Puncak aktivitas matahari juga pernah terjadi pada tahun 1989 dan di sekitar tahun 2002an. Menurut Jamaludin (1996),  pada masa Matahari aktif tahun 1988 – 1989 dilaporkan banyak gangguan di Bumi akibat meningkatnya aktivitas Matahari. Peningkatan aktivitas Matahari menyebabkan gangguan medan magnetik Bumi dan perubahan-perubahan di ionosfer. Pada masa itu dilaporkan para peneliti di kutub selatan kehilangan kontak radio selama empat hari berturut-turut. Beberapa pesawat terbang sedikit tersesat setelah terganggunya peralatan navigasi dan komunikasi radio dengan menara pengawas. Satelit yang memancarulangkan siaran radio Suara Amerika (Voice of America) juga terpaksa orbitnya harus dikoreksi setiap 20 menit, terganggunya pusat pembangkit tenaga listrik, burung merpati tidak bisa mencapai sasaran pada suatu lomba terbang 280 km, karena merpati menggunakan medan magnet Bumi sebagai pemandu arahnya.

Langit Sebagai Atap Kehidupan di Bumi

Allah swt menciptakan alam semesta sudah dibuat sedemikian hingga agar alam senantiasa setimbang (equilibrium). Sehingga sistem di bumi telah dilengkapi dengan berbagai piranti untuk menyelamatkan bumi dari berbagai bahaya luar angkasa termasuk dari matahari. Gambar 3. menunjukan bagaimana sistem di bumi oleh Allah Swt telah diberi piranti penyelamatan diri dari bahaya aktivitas matahari.

Gambar 3. Medan Magnet Bumi Melindungi bumi dari bahaya Matahari

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS Al Baqoroh : 22)

Ayat tersebut menggambarkan, bahwa Allah Swt telah memberikan begitu banyak piranti yang memungkin bagi munculnya kehidupan di muka bumi. Salah satunya Allah swt telah menciptakan langit sebagai atap bagi kehidupan di muka bumi. Barangkali, kaum muslimin di generasi pertama (para sahabat) belum memahami benar tentang pernyataan langit sebagai atap. Namun seiring dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, kini manusia dapat memberikan penjelasan lebih rinci tentang makna ayat di atas. Kini manusia dapat memahami dengan sangat gamblang mengapa Allah Swt menyatakan bahwa langit merupakan atap.

Atap adalah sebuah kata yang mewakili adanya suatu sistem perlindungan terhadap bahaya dari atas. Langit diketahui memiliki sistem atmosfer yang dipenuhi oleh molekul-molekul udara dari berbagai jenis gas, seperti Nitrogen, Oksigen, Karbon dioksida, Argon, uap air dan sebagainya. Molekul udara semacam ini ternyata merupakan sebuah sistem perlindungan bagi bumi jika suatu benda asing dari luar angkasa masuk ke bumi. Setiap benda luar angkasa yang masuk ke bumi akan mengalami pemanasan dan pembakaran selama bergesekan dengan atmosfer. Maka munculah peristiwa Meteor sebagai fenomena terbakarnya meteorida di atmosfer. Tanpa adanya atmosfer, bumi setiap hari akan dihantam oleh berbagai benda asing dari luar angkasa  sebagaimana yang terjadi di bulan, sebuah satelit alami bumi yang tidak beratmosfer. Di bulan banyak dijumpai kubangan-kubangan kawah sebagai akibat hantaman benda luar angkasa karena bulan tidak memiliki sistem perlindungan diri berupa atmosfer.

Gambar 4. Fenomena Meteor

Selain itu, bumi juga memancarkan medan magnet  yang dapat menyelamatkan diri dari “serangan” partikel bermuatan dari matahari. Setiap saat matahari melepaskan partikel bermuatan ke segala penjuru. Segala puji milik Allah swt  yang telah menciptakan medan magnet bumi sebagai perisai dari bahaya partikel bermuatan yang terlontar dari matahari. Sebagaimana yang kita ketahui dari pelajaran Fisika, bahwa jika ada partikel bermuatan melewati daerah yang mengandung medan magnet pada arah yang saling tegak lurus, maka partikel tersebut akan “ditendang” pada arah yang juga tegak lurus terhadap arah kecepatan partikel (v) dan arah medan magnet (B)  . Akibatnya permukaan bumi selamat dari lontaran partikel bermuatan dari matahari yang terjadi setiap saat.


 

Belajar Dari Al Qur’an

Musibah yang terjadi di alam sudah menjadi sunatullah sejak alam diciptakan.  Allah swt telah membekali alam semesta suatu kemampuan untuk terus menuju kesetimbangannya. Hanya terkadang, proses menuju kesetimbangan ini melalui suatu jalan yang bernama bencana. Sebagai misal, gempa bumi, ia harus terjadi setelah lempeng bumi tidak lagi sanggup menahan energi tumbukan yang begitu besar antara dua atau lebih lempeng sehingga energi tersebut harus dilepas dan menyebabkan gempa bumi. Bahkan kalau kita lihat sejarah geologi, ada suatu tempat yang kini menjadi daerah pegunungan padahal di waktu yang silam tempat tersebut adalah dasar laut. Bisakah kita bayangkan bencana seperti apa yang terjadi saat itu? Atau pernahkah kita berfikir, mengapa seekor mamuth (gajah purba) ditemukan di daerah kutub, padahal ia adalah binatang tropis? Pernahkah kita bertanya, mengapa para penambang minyak harus menggali sampai kedalaman puluhan bahkan mungkin rautas meter ke dalam tanah untuk mendapatkan minyak, padahal minyak konon berasal dari timbunan mahluk hidup pada jutaan tahun yang lalu?

Ilustrasi di atas ingin menyampaikan pesan bahwa, musibah memang benar-benar ada dan sudah menjadi sunah alam semesta. Termasuk aktivitas matahari yang berpotensi menyebabkan adanya musibah, semuanya telah mengikuti hukum-hukum Allah swt. Matahari, bumi, bulan semuanya tunduk pada kehendak Allah swt.

Dan Dia telah menundukan bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukan bagimu malam dan siang (QS Ibrahim: 33).

Maka pada setiap kejadian musibah, kita perlu berpositif thinking, bahwa mungkin saja, inilah cara Allah swt untuk melihat mana hambanya yang benar-benar ta’at dan mana yang kufur. Bagi yang ta’at kepada Allah, setiap kali bencana datang maka tidak ada kalimat lain yang keluar dari mulutnya, kecuali ucapan: Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”, (Al Baqoroh: 156).

Musibah akan menyadarkan betapa kerdilnya kita di hadapan Allah Swt. Kita hanyalah sekumpulan manusia yang tidak memiliki apapun, karena semuanya hanyalah titipan dari Allah swt yang sewaktu-waktu akan diminta lagi oleh-Nya. Harta, anak, istri bahkan nyawa kita sendiri sejatinya bukanlah milik kita, semuanya hanyalah titipan dari Allah swt. Kesadaran semacam ini akan menyebabkan hidup kita lebih tenang sekaligus hati-hati. Tenang karena yakin semuanya telah diatur oleh Allah swt, hati-hati karena kita sadar setiap saat apa yang kita miliki (termasuk nyawa kita) akan dipanggil oleh Allah swt dan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Maka kita akan menjadi orang yang akan terus menyibukan diri dengan amal-amal yang dapat digunakan sebagai bekal pada saat kita harus mempertanggungjawabkan seluruh aktivitas kita di dunia.

About SabarNurohman

Saya sabar nurohman, staf pengajar di jurusan Pendidikan Fisika FMIPA UNY. Aktivitas lain di luar kampus adalah sebagai trainer, tergabung d

Posted on June 7, 2010, in Artikel, Header. Bookmark the permalink. 4 Comments.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: