Refleksi Ummat Atas Tragedi Mavi Marmara

Tulisan ini sebenarnya akan saya publish minggu lalu, beberapa hari pasca penyerangan tentara Komando Israel di kapal Mavi Marmara pembawa misi kemanusiaan ke Gaza. Namun keadaan saat itu  masih terlalu panas untuk menyampaikan tulisan ini. Kebanyakan kita saat itu diliputi oleh kemarahan, rasa jengkel dan segudang kekecewaan yang tak tertahankan. Sehingga susah untuk berbicara persoalan hikmah. Kini keadaannya sudah mulai mendingin, maka saya mencoba mengajak kita semua untuk “mengais” berbagai hikmah di balik tragedi tersebut.

Setidaknya ada tiga pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa penyerangan Israel ke kapal Mavi Marmara ataupun serangan Israel ke Gaza di awal 2009 yang menewaskan ribuan warga sipil Gaza.

Pertama, menegaskan kebenaran Al Qur’an sebagai Firman Allah swt.

Peristiwa penyerangan Israel ke kapal Mavi Marmara, Blokade Israel atas Gaza dan Penyerangan tentara Israel di awal tahun 2009 yang lalu kembali  menegaskan kepada kita tentang kebenaran ayat Al Qur’an di surah Al Baqoroh ayat 120:

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka.

Serangkaian permusuhan kaum yahudi kepada kum muslimin di Bumi Palestina semestinya semakin menambah keyakinan kita akan kebenaran Al Qur’an. Kaum yahudi dan kaum nasroni, menurut ayat tadi, tidak akan pernah senang kepada kaum muslimin selama kaum muslimin berpegang teguh kepada syari’ah yang Allah turunkan untuk manusia. Mereka akan terus menunjukan permusuhannya selama kaum muslimin tidak mengikuti millah mereka. Millah dapat dimaknai sebagai jalan hidup atau secara lebih bebas dapat dimaknai sebagai life style.

Jangan samapi kita mau di bawa pada arus pemikiran, bahwa persoalan di Palestina hanyalah persoalan “kemanusiaan” dan tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan Agama. Beberapa waktu terakhir ada upaya untuk mengelabui kaum muslimin dengan upaya pencitraan kalau persoalan Palestina murni merupakan persoalan kemanusiaan. QS Al Baqoroh ayat 120 tadi sudah sangat tegas menyatakan bahwa permusuhan bangsa Yahudi dilandasi oleh persoalan Idiologi, oleh persoalan Millah.

Bangsa Israel tidak akan pernah diam kepada kaum muslimin selama kita tidak bersedia mengikuti jalan hidup mereka. Sehingga kalau sekarang ini dunia disuguhi oleh pemandangan memprihatinkan, yakni Israel dengan begitu sadisnya ingin “menghabisi” kaum muslim Palestin dengan cara penyerangan militer dan blokade, hal ini menunjukan bahwa msyarakat Palestin sejauh ini enggan untuk mengikuti Millah kaum yahudi.

Ada baiknya kita perlu curiga pada diri kita, kaum muslimin di Indonesia. Hingga hari ini agaknya Israel tetap ridho dengan apa yang terjadi di Indonesia. Israel tidak pernah mempermasalahkan Indonesia meskipun bangsa  ini merupakan negeri muslim terbesar di dunia. Jangan-jangan keridhoan Israel atas bangsa Indonesia disebabkan karena kita telah mengikut Millah mereka. Jangan-jangan Israel tidak menyerang kita disebabkan karena sistem ekonomi kita, cara bernegara kita, pola tingkah laku kita, akhlak kita, cara busana kita dan semua yang ada dalam diri kita telah mengikuti pola yang dikembangkan oleh Israel. Sehingga Israel merasa tidak perlu untuk memberikan tindakan kepada kaum muslimin di Indonesia. Toh semuanya sudah berada di bawah “kendali” kaum yahudi. Wallahu’alam, hanya saja, menurut saya kita perlu mencurigai diri sendiri.

Kedua, Momentum Kebangkitan Intelektual Kaum Muslimin

Tragedi peperangan asimetris antara Palestina dan Israel,  jika bisa disederhanakan sebagai peperangan antara Islam dan Barat menunjukan ketimpangan yang sangat menganga antara Islam dan Barat. Kemenangan sebuah bangsa dalam suatu peperangan merupakan indikator kekuatan bangsa tersebut sebagai akumulasi keunggulannya, terutama dalam bidang Sains dan Teknologi. Teknologi perang yang dimiliki oleh bangsa barat jauh melampaui apa yang dimiliki oleh negeri-negeri muslim.

Kenyataan seperti ini semestinya mampu membuka mata kita untuk segera memasuki Era Kebangkitan Penguasaan Sains dan Tekhnologi. Di tengah-tengah peradaban modern yang dikendalikan barat hari ini, jangan pernah kita berharap belas kasih dari PBB, Dewan Keamanan, Mahkamah Internasional ataupun lembaga-lembaga internasional untuk membantu kita. Mereka adalah sama saja, produk dari lobi Yahudi. Berharap banyak kepada lembaga-lembaga tersebut hanya akan membuat kita semakin frustasi.

Langkah paling realistis yang dapat kita lakukan dalam jangka panjang adalah sesegera mungkin melakukan langkah-langkah strategis dalam memperbaiki kualitas SDM negeri-negeri muslim. Anak-anak mudaa muslim selain harus dibekali oleh Aqidah Islam yang mapan, mereka juga harus dibekali dengan penguasaan Ilmu Pengetahuan sesuai dengan bakat dan minatnya. Pelan tapi pasti, jika usaha ini dilakukan, masa mudah-mudahan jalan pintu kemenangan akan semakin mendekat.

Ketiga, momentum penyatuan kekuatan ummat.

Adanya perbedaan sikap politik antara pemimpin dunia Islam (presiden/raja negeri-negeri muslim)  dengan masyarakat muslim kebanyakan. Sebagaimana yang kita lihat hingga hari ini, sebagian pemimpin dunia Islam masih nampak setengah hati dalam menyelesaikan persoalan di bumi Palestina. Sebagian pemimpin dunia Islam masih mengambil sikap aman dengan tidak bersepakat melawan Israel.

Sebagai orang awam dalam dunia militer, saya berpandangan jika seluruh kekuatan militer negeri-negri muslim bersatu untuk menghentikan dan kalau perlu menghukum prilaku arogan bangsa Yahudi, tentu saja militer Yahudi tidak akan mudah mengalahkannya. Atau paling tidak,  seluruh pemimpin dunia Islam bersedia untuk  duduk satu meja dan menentukan sikap bersama atas prilaku Israel terhadap palestina.

Demikianlah beberapa hikmah yang dapat kita petik dari keadaan terakhir umat Islam. Kita boleh marah, kita boleh menghujat, namun dalam jangka panjang kemarahan dan hujatan kita tidak terlalu bermakna. Tapi bahwa hari-hari ini kita perlu turun aksi ke-jalan, mengutuk sikap Israel, menggalang dana, dan aktivitas lain yang sejenis, itu jelas merupakan kewajiban jangka pendek yang harus segera dilakukan.

Semoga bermanfaat.

About SabarNurohman

Saya sabar nurohman, staf pengajar di jurusan Pendidikan Fisika FMIPA UNY. Aktivitas lain di luar kampus adalah sebagai trainer, tergabung d

Posted on June 9, 2010, in Artikel, Header and tagged , , , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. the best hope for the victory is the expansion of your fight. have a nice research to make ” a nuclear bomb”? can you do it ????????

    • Jangankan bikin bom nuklir, mau bikin Listrik Tenaga Nuklir aja banyak ulama pantura yang nolak. Jal piye arep maju? Jadi butuh banyak kalangan yang harus dicerahkan…

  2. Soal isu humanitarian yg diangkat setahu saya itu cuma masalah strategi marketing aja lho pak (info ustadz), dg begini maka mata dunia akan “terbuka” untuk melihat Palestina. Cuma satu yg saya sayangkan, kenapa para relawan itu mau dg begitu “mudahnya” kembali ke tanah airnya masing2. Bukannya kalo mo ngejar syahid cukup dg “ngeyel” di penjara2 Israel, kan bs lebih dahsyat tuh efeknya kalo semua relawan kompak ga mau pulang sampai mereka&bantuannya bisa sampai ke Palestina. Wallahu ‘alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: