(Potret) Pembelajaran IPA di Sekolah Berbasis Pesantren

Tanggal 17 hingga 20 Juni 2010, Tim Prodi Pend. IPA FMIPA UNY bekerjasama dengan Kantata Reseach Indonesia menyelenggarakan “Pelatihan Pengembangan Metodologi Pembelajaran IPA Bagi Tutor PKBM Berbasis Pondok Pesantren”.

Saya ditunjuk sebagai ketua program Pelatihan tersebut, oleh karenanya saya bertanggungjawab untuk menyusun desain Pelatihan. Alur pelatihan saya buat sedemikian rupa agar para peserta memiliki dasar-dasar yang kuat secara konseptual dalam mengembangan  pembelajaran sains, sekaligus memiliki kemampuan praktis dalam mengembangkan perangkat pembelajaran sains.

Sesi pertama pelatihan menampilkan Prof (EM) Dr Wuryadi yang menyampaiakan landasan filososfis pengembangan metode pembelajaran. Prof Wuryadi menyampaikan tema : “Scientific Methods sebagai dasar pengembangan metode pembelajaran IPA”. Melalui materi ini, diharapkan para peserta memiliki pemahaman yang kuat tentang apa itu Scientific Methods dan penerapannya dalam pengembangan metode pembelajaran IPA.

Setelah itu, Prof. Dr Zuhdan KP menyampaiakan materi “Pengembangan Model Cooperatif Learning dalam Pembelajaran Sains”, Dr. Dadan Rosana, M.Si menyampaikan materi “Pengembangan Model Problem Based Learning dalam Pembelajaran Sains”, dan Bu Insih Wilujeng menyampaikan materi “Pengembangan Pembelajaran IPA Terintegrasi”.

Pada tiap materi dilakukan workshop yang didampingi oleh Dosen-dosen yunior (Sabar Nurohman, Bu Maryati, Bu Asri Widowati, Bu Purwanti Widhi, dan Bu Susilowati). Pada kegiatan workshop, para peserta dibimbing  memilih SK/KD yang cocok  untuk tiap-tiap model pembelajaran, mengelaborasikan SK/KD menjadi Indikator dan Tujuan Pembelajaran, Menyusn skenario pembelajaran sesuai dengan sintak model pembelajaran yang sedang dipelajari, dan diakhiri dengan penyusunan LKS sebagai alat bantu yang cukup efektif dalam mengembangkan model pembelajaran yang sedang dikaji.

Selama proses pelatihan, saya sendiri memperoleh begitu banyak pelajaran. Bertemu dengan para guru/tutor pembelajaran IPA berbasis Pondok pesantren, menyadarkan saya tentang betapa persoalan pendidikan di Indonesia masih begitu banyak. Bahkan pada batas tertentu membuat saya pesimis tentang masa depan dunia pendidikan kita.

Satu hal yang sangat saya rasakan adalah: bahwa di Indonesia masih terjadi disparitas yang sangat lebar tentang praksis pendidikan antar lembaga. Di saat ada sekolah-sekolah yang sedang gegap gempita melaksanakan dan atau mempersiapkan program SBI/RSBI dengan lautan dana yang begitu melimpah, ada banyak sekolah lain yang secara terpaksa pembelajaran berlangsung dengan sangat ala kadarnya,  kualitas guru yang ala kadarnya, fasilitas yang ala kadarnya, pendanaan yang sangat ala kadarnya dan keadaan siswa yang juga begitu ala kadarnya.

Peserta pelatihan terdiri dari guru/tutor yang mengajar IPA di sekolah-sekolah yang berafiliasi dengan pondok pesantren. Backgroundnya tidak semua berlatar belakang pendidikan IPA, sebagiannya adalah para ustad yang “dipaksa” oleh sistem untuk mengajarkan IPA kepada para santri. Mereka terpaksa “memanfaatkan” ustad yang ada untuk mengajarkan IPA karena tidak memiliki kesanggupan untuk membayar guru dari luar.

Pada situasi seperti inilah, saya dituntut untuk mengawinkan aras idialita dengan aras realita secara proporsinoal. Kita tetap harus memastikan bahwa pembelajaran IPA dilakukan secara benar meskipun ditengah-tengah  keterbatasan yang ada.

Pada saat yang sama saya juga melihat adanya  semangat yang luar biasa dari para Ustad dalam mengajar di kelas. Mereka ada yang dibayar  hanya 250.000,00 tiap bulan, bahkan sebagian yang lain mengajar tanpa bayaran. Sebagian mereka mengajar di Ponpes “pinggiran”, yang pelaksanaannya dilakukan secara gratis, sehingga ponpees tersebut minim dana. Pendanaan yang minim membuat sekolah berbasis Ponpes hampir-hampir tidak mungkin untuk mempraktikan pembelajaran IPA secara ideal, apalagi jika bertemu dengan materi-materi Kimia yang membutuhkan bahan-bahan kimia, Mengukur besaran-besaran Fisika dengan berbagai  alat ukur dan sebagainya. Namun mereka tetap bersemangat mengajarkan IPA di sekolah mereka sesuai dengan kesanggupannya.

Fenomena pendidikan di pesantren benar-benar membuat saya malu, iri sekaligus marah. Malu karena memiliki semangat juang yang kalah jauh dibanding para ustad yang mengajar IPA di Ponpes, Iri dengan keikhlasan mereka dalam berjuang, dan marah kenapa kesenjangan pendidikan masih begitu menganga. Marah?…Tapi marah sama siapa? Akhirnya saya memutuskan untuk tidak marah, hanya saja saya heran. Heran sekaligus geram, dana pendidikan yang mencapai 20% dari total APBN negeri ini lari ke mana? Kalau di masa lalu kita bisa mengatakan bahwa buruknya pendidikan di Indonesia karena anggaran Pendidikan yang sangat kecil, hanya 2% s.d 5% pertahun. Tapi kini anggaran untuk pendidikan sudah menembus angka 20%, kenapa masih ada guru yang mengajar tanpa bayaran yang sesuai? Kenapa masih banyak sekolah yang tidak memiliki fasilitas standar? Kenapa masih banyak pelajaran diampu oleh bukan ahlinya? Kenapa???

About SabarNurohman

Saya sabar nurohman, staf pengajar di jurusan Pendidikan Fisika FMIPA UNY. Aktivitas lain di luar kampus adalah sebagai trainer, tergabung d

Posted on June 19, 2010, in Artikel, Opini and tagged , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. shobru pak.. nanti ada waktunya.. tergantung kita-kita juga.. semoga Allah menuntun kita untuk turut serta memperbaiki pendidikan di negeri ini.. aamiin..

  2. Pendidikan memang kadangkala diluar idealisme kaum akademis, tpi kmi membktikan bhwa realita hrs dihdpi dgn sbaik2nya.. Doakn sja mg2 kmi dbri kkuatan..dn ksabran, jzkalloh kanda sabar ats sgla ilmu dan waktu yg tlah dbrikan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: