Memaknai Tahun Baru…

Waktu bergerak begitu cepat, seolah tak terasa kini kita sudah berada di penghujung tahun 2011. Begitulah karakteristik waktu, terkadang ia begitu “kejam”, terus menggilas kita tanpa mau kompromi..ia akan terus bergerak, melaju tanpa bisa dikendalikan oleh manusia. Kita tidak mampu mempercepat atau memperlambatnya, sebagaimana kita juga tidak punya kuasa untuk melompat ke masa depan atau mundur ke masa lalu.

 

Pada penghujung tahun ini, ada baiknya kita tadabbur QS Al Hasr ayat 18

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dengan lembutnya Allah Swt memanggil-manggil orang yang beriman dengan kalimat “hai orang-orang yang beriman”. Setelah desiran kelembutan panggilan penuh cinta dari Allah swt ditujukan kepada kaum beriman, seketika Allah menghentak dengan peringatan “Bertakwalah kamu kepada Allah Swt, dan hendaklah setiap diri  memperhatikan apa yang telah diperbuatnya (di waktu yang lalu) untuk kehidupanmu  esok hari. Dan Bertakwalah kepada Allah Swt, sesungguhnya Allah Swt tau apa yang kau perbuat”.

Salah satu yang menarik dalam ayat ini adalah : Allah swt memperingatkan persoalan taqwa hingga dua kali dalam satu ayat. Secara awam kita langsung dapat memahami betapa urusan taqwa ini benar-benar merupakan persoalan yang sangat serius. Bahkan pada ayat lain (QS Al Hujurot 13) Allah swt menyatakan bahwa taqwa adalah derajat tertinggi yang bisa dimiliki manusia dalam pandangan Allah Swt.

Selain itu, melalui ayat ini Allah Swt menyisipkan sebuah wasiat yang diapit oleh dua wasiat taqwa. Wasiat tersebut adalah : Allah Swt meminta kita untuk menengok kembali apa yang sudah kita kerjakan selama ini untuk menjadi bekal bagi kehidupan kita esok hari. Allah mengingatkan kita untuk pandai-pandai melihat masa lalu untuk menatap masa depan.

Kita lihat bahwa wasiat tersebut diapit oleh wasiat taqwa, hal ini menunjukan bahwa pesan tersebut memiliki makna yang juga sangat serius. Allah meminta kita untuk pandai-pandai dalam memandang permasalahan waktu yang terus bergulir ini.

Dalam pesrpektif waktu, setiap manusia (menurut Reza M Syarif) memiliki tiga titik waktu.

1. Past Time : Point of Experience

Setiap kita memiliki masa lalu. Masa lalu harus dipandang sebagai Point of Experience, masa lalu adalah titik-titik pengalaman. Kita tidak boleh terpenjara oleh masa lalu. Seperti apapun masa lalu kita, kita harus menyadari bahwa itu hanyalah masa lalu, itu hanyalah titik-titik pengalaman. Jangan sampai kita terpenjara olehnya. Kalaulah kemarin kita adalah orang yang sukses, kalaulah kemarin kita mampu mengumpulkan setumpuk prestasi, kita harus sadar sesadar-sadarnya bahwa itu hanyalah masa lalu. Kesuksesan yang sudah kita peroleh kini hanya menjadi masa lalu. Jangan sampai kita dibuat mabuk oleh kesuksesan kita di hari yang telah berlalu.

Demikian juga jika masa lalu kita tidak terlalu baik, tidak ada prestasi yang kita buat. Jangan sampai hal itu membuat kita pesimis menatap masa depan. Harus disadari bahwa itu hanyalah masa lalu. Kita bisa merubahnya kini atau esok hari.

Dalam melihat masa lalu, ada baiknya kita belajar dari sopir dalam memanfaatkan spion pada saat mengendarai mobil. Sopir hanya melihat spion pada saat-saat tertentu saja, misalnya pada saat hendak menyalip kendaraan lain atau pada saat hendak berbelok. Bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi jika sopir justru fokus pada spion pada saat mengendarai mobil. Mungkin dia melihat bahwa situasi di belakang aman tidak ada sumber bencana, tapi jika itu dilakukan terus, maka bisa saja dia terjungkal ke jurang di depannya.

Maka terhadap masa lalu, kita cukup menjadikannya sebagai ibroh, yang sesekali perlu dijadikan sebagai acuan untuk menatap dan bergerak di masa depan tanpa membuat kita terpenjara olehnya.

2. Present Time : Point of Reality

Seperti apapun masa lalu kita, realitanya kini kita berada pada keadaan yang “seperti ini”. Inilah kenyataan yang kita temui hari ini. Lakukan hal-hal baik hari ini, maka esok kita akan memanennya.

3. Future Time : Point of Prediction

Adapun masa depan, bagi kita semua ia merupakan point of prediction. Semua  masih belum jelas, semua masih berada pada level prediksi. Padahal yang namanya prediksi bisa benar bisa juga salah.

Oleh karena itu, marilah kita bersikap bijak terhadap waktu. Jangan terlalu banyak membiarkan waktu berjalan tanpa amal nyata. Buatlah kebaikan di setiap jengkal waktu..semoga kita tidak merugi.

About SabarNurohman

Saya sabar nurohman, staf pengajar di jurusan Pendidikan Fisika FMIPA UNY. Aktivitas lain di luar kampus adalah sebagai trainer, tergabung d

Posted on December 17, 2011, in Artikel, Tausyiyah and tagged , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. saya baca berulang kali untuk referensi saya dalam menjali hidup
    terimakasih sudah share

  2. izin kopi kang, untuk kepentingan da’wah…..!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: