Category Archives: Artikel

Berisi Artikel-artikel IPA dan atau Pendidikan IPA

Irsyad Manji : Tokoh yang Kehadirannya Menjadi Sebuah Keniscayaan Sejarah

Khutbah disampaikan di Masjid Al Mutaqin Karangmalang,

Catur Tunggal, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 11 Mei 2012

Dalam rentang sejarah perjalanan umat Islam, Allah Swt selalu menghadirkan ujian-ujian dalam berbagai bentuknya. Tidak ada satupun umat yang Allah biarkan melenggang begitu saja tanpa ujian keimanan. Siapapun orangnya, asalkan dia muslim, hidup di ruang dan waktu manapun, akan selalu menghadapi ujian keimanan. Sebagaimana firman Allah Swt di dalam Al Qur’an :

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ

وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

 

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Qur’an, Al Baqarah:214)”

Pada zaman sebelum di utusnya Rosulullah Saw, tiap-tiap Nabi diberi ujian keimanan dalam bentuk yang sangat beragam. Di antara mereka ada yang dihadapkan dengan penyihir dan penguasa zalim (Nabi Musa As), ada yang diuji dengan permusuhan dari anak/istrinya (Nabi Nuh, Nabi Luth), bahkan ada yang harus terbunuh karena kekejaman ummatnya (Nabi Isa As). Demikian pula apa yang terjadi pada Rosulullah Saw dan para sahabatnya, mereka menerima kekejian bertubi-tubi dari kaum kafir quraisy, mulai dari cibiran, penyiksaan fisik, hingga pemboikotan secara ekonomi dan politik.

Ujian-ujian keimanan semacam itu juga dialami oleh para khulafaurrosyidin sepeninggal Rosulullah Saw dan akan dialami oleh siapapun yang memiliki komitmen untuk menjadi penyambung lidah rosul. Sebagaimana firman Allah Swt :

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

 Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci  (QS.Shaff : 9)

Melalui ayat tersebut Allah Swt memastikan bahwa siapapun yang akan melaksanakan tugas “langit”, yaitu menyampaiakan hidayah dan diin yang haq, maka Allah telah mempersiapkan adanya permusuhan yang datang dari orang-orang kafir.

Maka tidak heran, jika di era seperti sekarangpun, hampir setiap hari kita melihat begitu banyak manuver yang ditunjukan oleh musuh-musuh Islam dalam rangka menghancurkan umat ini. Hampir semua jurus dan kekuatan telah mereka gunakan untuk menghancurkan Islam dengan segala syari’ahnya. Mulai dari penggunaan kekuatan militer, hegemoni ekonomi dan politik, pemanfaatan media massa, hingga berbagai rupa kegiatan perang pemikiran (nasrul fikroh). Semuanya dijalankan secara serempak dan begitu massif, sehingga Islam dan ummatnya benar-benar diuji keteguhan imannya.

Serangan teranyar yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam adalah melalui seorang aktivis feminis yang mengaku muslim namun ide-idenya sudah begitu jauh dari Islam, dialah Irsyad Manji. Seorang aktivis perempuan yang telah memperoleh berbagai penghargaan dari dunia barat atas pemikirannya yang mencoba untuk mendamaikan antara iman dan kebebasan. Secara pribadi ia memiliki proyek yang sangat ambisius, yaitu agenda untuk mengharmoniskan liberalisme dengan Islam. Sebuah proyek yang sangat utopis untuk bisa dijalankan secara konsisten.

Mengapa proyek tersebut terbilang utopis? Ya, jelas itu sangat utopis dan memaksakan diri. Tidak mungkin keimanan bisa dipadukan dengan kebebasan. Hal ini karena di saat seseorang telah bersyahadat, menyatakan diri sebagai seorang yang beriman, maka sejak saat itu dia sudah diikat oleh tali agama Allah. Dia baru saja mengikhlaskan diri untuk diatur oleh syari’ah dalam setiap tindakannya. Tidak mungkin Iman akan membolehkan penganutnya untuk masuk ke dalam dunia sex bebas, sebagaimana tidak mungkin Iman bisa diharmoniskan dengan gagasan kawin sejenis yang merupakan sebagian dari ide-ide faham kebebasan.

Faham liberalisme, Pluralisme dan Multikulturalisme telah dipaksakan masuk dalam tubuh pemikiran Islam dan telah membuat ajaran-ajaran Allah Swt  disingkirkan atas nama kebebasan dan hak asasi manusia. Atas nama kebebasan, manusia diperbolehkan untuk berprilaku menyimpang, atas nama kebebasan manusia diperbolehkan untuk melawan ketentuan Tuhan.

Bagi kaum muslimin di Indonesia, ujian yang cukup berat yang harus diterima bukanlah ujian pendzaliman secara fisik, namun lebih banyak ujian berupa derasnya aliran pemikiran yang merasuk ke tubuh umat. Umat disuguhi berbagai adagium seperti Freedom of Speech, Freedom of Expression, dan Freedom of Faith. Melalui adagium ini, anak-anak muda muslim dipersilahkan untuk mengeksprsikan kebebasannya tanpa berpikir tentang syari’ah Tuhannya. Bahkan jika ada sebagian kaum muslimin yang mecoba merespon pemikiran tersebut, mereka lalu dipojokan dan diberi stigma sebagai kelompok intoleran dan anti kemajemukan.

Pada posisi ini, marilah kita melihat betapa seringkali ide-ide kebebasan tersebut juga tidak dilakukan secara konsisten oleh bangsa barat. Berbagai adagium tentang kebebasan, seolah memang hanya dipersiapkan untuk menjerat kaum muslimin agar tidak melawan terhadap berbagai prilaku yang berlawanan dengan syari’ah, dan tidak digunakan untuk memberi kebebasan bagi kaum muslimin untuk mengekspresikan kebebasan beribadah sesuai agamanya.

Jika faham kebebasan dilakukan secara konsisten, mengapa masih ada pelarangan Kaum Muslimin untuk menunaikan keyakinannya secara kaffah di berbagai Negara pemuja faham kebebasan? Jika faham kebebasan dilakukan secara konsisten, mengapa di negeri-negeri berfaham liberal tidak membolehkan Adzan dikumandangkan? Jika faham kebebasan dilakukan secara konsisten, mengapa muslimah di Perancis dilarang menggunakan jilbab dan burqa? Jika faham kebebasan dilakukan secara konsisten, mengapa Syekh Yusuf Qaradhawi dilarang masuk Perancis untuh berdakwah di sana? Maka salahkah kaum muslimin Indonesia melarang Irsyad Manji mendakwahkan ajarannya di Indonesia?

Marilah kita kembali ke topik awal kajian ini, yaitu tentang ujian keimanan. Suka atau tidak suka, keberadaan “makhluk” semacam Irsyad Manji, pada titik ini adalah  sebuah keniscayaan sejarah. Artinya, orang seperti itu harus ada pada setiap ruang dan waktu. Keberadaan orang semacam itu justru menegaskan kebenaran firman Allah Swt, bahwa setiap Mukmin, untuk menuju Syurga harus melewati berbagai ujian. Adapun perang pemikiran yang dilancarkan oleh Irsyad Manji adalah bagian dari ujian keimanan tersebut. Ujian ini relefan terutama bagi anak-anak muda, kaum intelektual. Karena memang sasaran tembak perang semacam ini adalah segmen tersebut. Meraka adalah kelompok usia yang secara emosional maupun intelektual paling mudah tergoda dengan cara berfikir dan berprilaku yang aneh dalam kehidupan keagamaan.

Oleh karena itu, marilah kita manfaatkan keberadaan Irsyad Manji sebagai cara untuk terus mengasah kekuatan Aqidah ummat. Momentum ini bisa dimanfaatkan untuk kembali menyuarakan posisi Islam dan Kaum muslimin terhadap idiologi buatan manusia yang bernama LIBERALISME.

Youtube sebagai Media Pembelajaran

Internet, termasuk di dalamnya Youtube, menurut saya mirip seperti pisau. Pisau jika dipegang oleh ibu-ibu rumah tangga bisa menghasilkan karya masakan istimewa yang membuat para suami semakin jatuh cinta. Namun jika pisau tersebut dipegang oleh penjahat, kita bisa membayangkan dampak kerusakan apa yang akan terjadi akibat sebilah pisau, mungkin bisa digunakan untuk menodong, memeras bahkan mungkin juga bisa untuk membunuh.

Demikian juga youtube, bagi para pecinta musik, ia bisa digunakan untuk mengunggah ataupun mengunduh video klip, bagi para motivator, youtube bisa menjadi sarana memotivasi diri dan orang lain melalui video-video ceramah motivasi, bagi pecinta film, youtube bisa dimanfaatkan untuk mencari potongan-potongan film yang disukai, sebagaimana youtube juga banyak digunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk menampilkan video-video bernuansa pornografi maupun pornoaksi.

Pada situasi seperti ini, kita (para pelaku dunia pendidikan) perlu ikut “bermain” dalam persaingan mengisi kontain berkualitas di internet. Sudah saatnya bagi para pendidik untuk memanfaatkan youtube sebesar-besarnya. Bukan hanya untuk mencari video, namun juga untuk mengunggah video-video yang dapat membantu siswa dalam memahami pelajaran. Upaya optimalisasi youtube dalam dunia pendidikan dengan demikian dapat dilakukan dalam dua cara. Pertama, youtube dapat digunakan untuk mencari dan mengunduh video-video yang relefan dalam proses pembelajaran. Kedua (dan ini yang ingin saya tekankan), melalui youtube para pendidik sudah saatnya ikut berpartisipasi dalam mengisi kontain di youtube dengan berbagai video pembelajaran.

Para guru perlu mengembangkan berbagai keterampilan yang dibutuhkan untuk membuat sebuah video sebagai media pembelajaran. Mulai dari melakukan analisis kurikulum untuk menentukan materi apa saja yang tepat dikembangkan menggunakan video, keterampilan mengambil gambar (shooting), keterampilan mengedit video (video editing), hingga teknik upload di youtube. Seluruh keterampilan tersebut bukan keterampilan yang sulit, ia hanyalah keterampilan yang butuh untuk dipelajari dan digunakan. Seiring perjalanan waktu, kita akan menemukan cara terbaik dalam memproduksi video untuk ditampilkan di youtube.

Jika proses ini dikerjakan, maka kita akan melihat bahwa chanel di youtube akan diisi oleh berbagai kontain yang memiliki nilai yang tinggi. Bukan sekedar tayangan-tayangan yang tidak ada gunanya atau bahkan menjurus pada pornografi dan atau porno aksi.

Pada konteks ini, kami bersama mahasiswa sudah melakukan ikhtiar kecil untuk membuat sebuah chanel di youtube yang berisi berbagai peragaan fisika. Memang masih jauh dari ideal, teknik pengambilan gambar, teknik editing, bahkan dari segi isi masih nampak terlalu sederhana. Namun bagi kami ini merupakan awal untuk terus berkarya, memberi yang terbaik untuk anak-anak negeri.

Chanel tersebut dapat dibuka di sini

Salah satu video karya mahasiswa:

Kejayaan (baru) Islam Semakin Dekat (?)

Islam sebagaimana yang kita fahami bukan hanya panduan  yang mengatur cara hidup yang bersifat individu, melainkan juga sebuah agama yang memberi arah tentang bagaimana kita menata dunia. Oleh karenanya, begitu Rosulullah Muhammad Saw diutus untuk menjadi penyempurna nabi-nabi sebelumnya, Islam secara sangat progresif menebarkan Rahmatnya ke hampir seluruh pelosok dunia (Asia, Afrika dan Eropa-Saat itu benua Amarika dan Australia seolah belum ada denyut nadi peradaban yang cukup signifikan).

Hasilnya Islam telah mampu memposisikan ummatnya sebagai pemimpin di atas umat-umat yang lain, bukan hanya dalam bidang politik, namun juga dalam bidang ilmu pengetahuan. Usia kejayaan Islam ini akhirnya meredup setelah kira-kira 1000 tahun.

Setelah itu barat melanjutkan apa yang telah dicapai oleh kaum muslimin di bidang ilmu pengetahuan, dan mereka sangat berhasil mengembangkannya menjadi produk-produk tekhnologi yang memiliki nilai guna bagi hajat hidup manusia. Maka sejak abad ke 17 barat telah berhasil mengambil alih kendali dunia berada di bawah genggamannya, bahkan pada Abad ke 20 mereka telah berhasil meletakan dasar bagi pengembangan sains dan tekhnologi yang sangat fenomenal.

Pada periode ini kesenjangan penguasaan sains dan tekhnologi sangat terasa antara barat dan Islam. Indikator paling jelas adalah dalam hal penguasaan tekhnologi perang yang sungguh sangat menganga jaraknya. Lihat saja apa yang terjadi di Palestina, Afganistan, Irak, Libiya dll. Negeri-negeri muslim tersebut nyaris tidak bisa melakukan perlawanan yang berarti untuk menghadapi berbagai senjata otomatis yang dimiliki oleh negeri-negeri barat.

Bagaimana nasib peradaban Islam berikutnya? Adakah peluang bagi Islam untuk kembali mengambil alih kekuasaan dalam mengendalikan dunia? Mungkinkah posisi gedung putih dapat tergantikan? Apakah mata uang dolar Amerika akan terus digunakan sebagai referensi bagi mata uang dunia?

Setelah 300 tahun mengendalikan dunia, sepertinya barat sudah sampai pada titik kulminasinya. Sebenarnya usia 300 tahun dalam konteks peradaban merupakan usia yang sangat pendek. Namun barat  sepertinya tidak mampu membuatnya lebih panjang lagi.

Untuk menjelaskan masalah ini, kita dapat melihat beberapa fakta yang dapat kita analisis secara sederhana. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ada tiga  peristiwa besar di dunia, yang seolah antara satu dan lainnya tidak saling terhubung, namun jika kita perhatikan secara detail, ketiga peristiwa ini akan memiliki muara yang sama, yaitu apa yang saya sebut sebagai “Kejayaan (baru) Islam”. Apa ketiga peristiwa tersebut?

  1. Drama 11 September 2001,
  2. Krisis Ekonomi di Eropa dan Amerika, dan
  3. Revolusi Arab

Kita lihat, ketiga peristiwa tersebut jelas bukan peristiwa yang saling terkait. Namun kalau kita lihat secara jeli, sesungguhnya ketiga peristiwa tersebut memiliki rangkaian yang unik dan pada akhirnya menyatu pada muara “Kejayaan (baru) Islam”.

Peristiwa 11 september bisa dikatakan merupakan babak baru dalam sejarah pergumulan idiologi di dunia. Setelah pertarungan kapitalisme-sosialisme berakhir dengan ditandai runtuhnya Uni Soviet, maka saat itu kapitalisme menjadi idiologi tunggal yang memimpin dunia. Dalam perspektif idiologi, peradaban dunia saat itu berjalan secara monopolar, satu kutub. Tentu saja secara alamiah keadaan ini tidak akan mungkin dapat bertahan cukup lama, Kutub Utara Magnet selalu ditemani oleh kutub Selatannya, dan Kutub Positif selalu diimbangi oleh Kutub negatif.

Apa jadinya sebuah kekuatan idiologi jika ia bermain sendirian? Meminjam istilah Amien Rais, “Pembusukan”. Ya, pasti akan terjadi pembusukan pada  idiologi tersebut-(Tentu saja kita tidak akan bisa menikmati El Clasico-Jika Real Madrid hidup sendiri tanpa Barcelona)- Maka barat kemudian berusaha menciptakan lawan idiologi untuk memastikan kapitalisme dapat terus bertahan hidup. Rupa-rupanya mereka lebih memilih Islam sebagai lawan tandingnya. Maka dibuatlah drama 11 September, sebagai pintu masuk pertarungan idiologi Kapitalis dan Islam.

Ternyata peristiwa tersebut memberi dampak yang sangat positif bagi perkembangan Islam. Tiba-tiba dunia memperhitungkan Islam, masyarakat dunia dibuat penasaran terhadap Islam dan kaum musliminpun secara tidak sadar bangkit dari kondisi inferioritasnya. Kini mereka sadar bahwa kekuatannya telah sangat diperhitungkan oleh barat. Sejak saat itu, bukannya kekuatan Islam melemah, justru kekuatan-kekuatan Islam semakain merapatkan barisan sebagai jawaban atas tantangan yang dilontarkan barat.

Secara tidak sadar barat telah terjebak pada peperangan yang panjang dengan dunia Islam, hingga mereka lupa memikirkan struktur ekonomi dalam negeri.

Sejak 2008 Eropa dan Amerika Serikat sejatinya telah masuk dalam kubangan krisis ekonomi yang sangat dalam. Melihat kedalaman krisis yang dialami, tidak berlebihan kalau kita mengatakan “Ini adalah akhir dari era barat”. Lihat saja data-data yang sudah direalis dalam beberapa artikel yang saya lampirkan di bagian akhir tulisan ini.

Pada sebuah kesempatan, Ust Anis Mata bahkan menganalisis apa yang terjadi di Eropa sebagai musibah yang tidak mungkin tertolong dalam jangka pendek. Beliau menganalisis apa yang terjadi di Eropa justru tidak menggunakan kacamata ekonomi yang mungkin bisa diperdebatkan, namun beliau melihat Krisis Ekonomi di Eropa dan Amerika sebagai problem demografi.

Apa yang terjadi di Eropa dan Amerika saat ini merupakan dampak dari problem demografi. Mereka adalah negara yang sangat maju dengan tingkat kesejahteraan penduduknya yang sangat tinggi. Akibatnya usia harapan hidupnya juga tinggi, yaitu hingga 80 tahun. Jadi setiap tahunnya Eropa dan AS selalu dijejali oleh para manula, suatu kelompok usia yang tidak lagi produktif dalam jumlah yang sangat besar. Pada saat bersamaan pertumbuhan penduduk negara-negara tersebut cendrung mandeg bahkan sebagian negatif. Hal itu disebabkan karena laki-laki rata-rata tidak mau terikat dalam hubungan pernikahan (karena alasan matrialisme-bagi mereka menikah sama saja membuang-mbuang duit untuk menghidupi anak orang lain), dan para wanitanya  enggan punya anak (untuk alasan kecantikan).

Akibatnya negara-negara tersebut dipenuhi oleh para pensiunan, sementara usia produktif jumlahnya cendrung konstan bahkan mungkin berkurang. Maka pada titik tertentu mereka yang berada pada usia produktif tidak lagi mampu menanggung beban hidup para manula. Begitu seterusnya hingga pada akhirnya hampir seluruh keluarga di negara-negara barat diibebani oleh hutang keluarga yang cukup besar, bahkan tidak ketinggalan pemerintahannyapun diliputi oleh hutang luar negeri yang sangat besar.

Yunani memiliki utang luar negeri hingga 120% dari seluruh kekayaan pemerintah dan rakyatnya, Jika pemerintah federal mulai saat ini membayar hutang nasional AS dengan skala pembayaran satu dolar per detik, maka hutang itu baru akan lunas setelah 470.000 tahun,  Jika Bill Gates memberikan setiap sen kekayaannya untuk pemerintah AS, itu hanya akan menutupi defisit anggaran AS selama sekitar 15 hari saja.

Sungguh sangat mengerikan apa yang sedang terjadi di barat saat ini.

Pada saat Eropa dan Amerika sedang dilanda krisis Ekonomi yang begitu dalam, Dunia Arab sedang bergerak mengakhiri rezim diktator menuju era baru yang jauh lebih baik. Mungkin orang akan melihat Timur-tengah sebagai kawasan yang tidak pernah sepi dari gejolak. Yah, memang begitulah faktanya. Mereka adalah negeri-negeri muslim yang antara penguasa dan rakyatnya tidak memiliki cara pandang yang sama tentang bagaimana mengelola negara. Mereka adalah negeri-negeri yang dalam hadis dikatakan sedang dipimpin oleh “Mulkan jabariyyan”, penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak, dan rakyatnya ingin segera menggantinya dengan model kepemimpinan yang dijanjikan dalam hadis sebagai “Khilafah ‘ala minhajinnubuwah”.

Sejauh ini revolusi di Arab membuahkan hasil yang positif. Tunisia mengawali agenda perubahan ini dengan ditandai kemenangan partai En Nahda, sebuah partai berhaluan Islam yang sebelumnya dikategorikan sebagai organisasi terlarang karena dianggap berhubungan dengan Ikhwanul Muslimin oleh pemerintahan Ben Ali, Kemenangan partai Islam tersebut diteruskan oleh partai Kebebasan dan Keadilan di Mesir (yang juga merupakan partainya Ikhwanul Muslimin). Begitu juga di Libiya, Suriyah, Yordania, Insya Allah tidak lama lagi kita juga akan mendengar kabar baik dari mereka melengkapi keberhasilan saudara mereka di Turki. Maka tetaplah pada jalan ini ya Ikhwan, kemenangan itu sudah ada di depan mata…Kejayaan (baru) Islam Semakin dekat. Insya Allah….

Berikut beberapa artikel yang perlu Anda baca:

Artikel 1/3

Artikel 2/3

Artikel 3/3

Memaknai Tahun Baru…

Waktu bergerak begitu cepat, seolah tak terasa kini kita sudah berada di penghujung tahun 2011. Begitulah karakteristik waktu, terkadang ia begitu “kejam”, terus menggilas kita tanpa mau kompromi..ia akan terus bergerak, melaju tanpa bisa dikendalikan oleh manusia. Kita tidak mampu mempercepat atau memperlambatnya, sebagaimana kita juga tidak punya kuasa untuk melompat ke masa depan atau mundur ke masa lalu.

 

Pada penghujung tahun ini, ada baiknya kita tadabbur QS Al Hasr ayat 18

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dengan lembutnya Allah Swt memanggil-manggil orang yang beriman dengan kalimat “hai orang-orang yang beriman”. Setelah desiran kelembutan panggilan penuh cinta dari Allah swt ditujukan kepada kaum beriman, seketika Allah menghentak dengan peringatan “Bertakwalah kamu kepada Allah Swt, dan hendaklah setiap diri  memperhatikan apa yang telah diperbuatnya (di waktu yang lalu) untuk kehidupanmu  esok hari. Dan Bertakwalah kepada Allah Swt, sesungguhnya Allah Swt tau apa yang kau perbuat”.

Salah satu yang menarik dalam ayat ini adalah : Allah swt memperingatkan persoalan taqwa hingga dua kali dalam satu ayat. Secara awam kita langsung dapat memahami betapa urusan taqwa ini benar-benar merupakan persoalan yang sangat serius. Bahkan pada ayat lain (QS Al Hujurot 13) Allah swt menyatakan bahwa taqwa adalah derajat tertinggi yang bisa dimiliki manusia dalam pandangan Allah Swt.

Selain itu, melalui ayat ini Allah Swt menyisipkan sebuah wasiat yang diapit oleh dua wasiat taqwa. Wasiat tersebut adalah : Allah Swt meminta kita untuk menengok kembali apa yang sudah kita kerjakan selama ini untuk menjadi bekal bagi kehidupan kita esok hari. Allah mengingatkan kita untuk pandai-pandai melihat masa lalu untuk menatap masa depan.

Kita lihat bahwa wasiat tersebut diapit oleh wasiat taqwa, hal ini menunjukan bahwa pesan tersebut memiliki makna yang juga sangat serius. Allah meminta kita untuk pandai-pandai dalam memandang permasalahan waktu yang terus bergulir ini.

Dalam pesrpektif waktu, setiap manusia (menurut Reza M Syarif) memiliki tiga titik waktu.

1. Past Time : Point of Experience

Setiap kita memiliki masa lalu. Masa lalu harus dipandang sebagai Point of Experience, masa lalu adalah titik-titik pengalaman. Kita tidak boleh terpenjara oleh masa lalu. Seperti apapun masa lalu kita, kita harus menyadari bahwa itu hanyalah masa lalu, itu hanyalah titik-titik pengalaman. Jangan sampai kita terpenjara olehnya. Kalaulah kemarin kita adalah orang yang sukses, kalaulah kemarin kita mampu mengumpulkan setumpuk prestasi, kita harus sadar sesadar-sadarnya bahwa itu hanyalah masa lalu. Kesuksesan yang sudah kita peroleh kini hanya menjadi masa lalu. Jangan sampai kita dibuat mabuk oleh kesuksesan kita di hari yang telah berlalu.

Demikian juga jika masa lalu kita tidak terlalu baik, tidak ada prestasi yang kita buat. Jangan sampai hal itu membuat kita pesimis menatap masa depan. Harus disadari bahwa itu hanyalah masa lalu. Kita bisa merubahnya kini atau esok hari.

Dalam melihat masa lalu, ada baiknya kita belajar dari sopir dalam memanfaatkan spion pada saat mengendarai mobil. Sopir hanya melihat spion pada saat-saat tertentu saja, misalnya pada saat hendak menyalip kendaraan lain atau pada saat hendak berbelok. Bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi jika sopir justru fokus pada spion pada saat mengendarai mobil. Mungkin dia melihat bahwa situasi di belakang aman tidak ada sumber bencana, tapi jika itu dilakukan terus, maka bisa saja dia terjungkal ke jurang di depannya.

Maka terhadap masa lalu, kita cukup menjadikannya sebagai ibroh, yang sesekali perlu dijadikan sebagai acuan untuk menatap dan bergerak di masa depan tanpa membuat kita terpenjara olehnya.

2. Present Time : Point of Reality

Seperti apapun masa lalu kita, realitanya kini kita berada pada keadaan yang “seperti ini”. Inilah kenyataan yang kita temui hari ini. Lakukan hal-hal baik hari ini, maka esok kita akan memanennya.

3. Future Time : Point of Prediction

Adapun masa depan, bagi kita semua ia merupakan point of prediction. Semua  masih belum jelas, semua masih berada pada level prediksi. Padahal yang namanya prediksi bisa benar bisa juga salah.

Oleh karena itu, marilah kita bersikap bijak terhadap waktu. Jangan terlalu banyak membiarkan waktu berjalan tanpa amal nyata. Buatlah kebaikan di setiap jengkal waktu..semoga kita tidak merugi.

(Potret) Pembelajaran IPA di Sekolah Berbasis Pesantren

Tanggal 17 hingga 20 Juni 2010, Tim Prodi Pend. IPA FMIPA UNY bekerjasama dengan Kantata Reseach Indonesia menyelenggarakan “Pelatihan Pengembangan Metodologi Pembelajaran IPA Bagi Tutor PKBM Berbasis Pondok Pesantren”.

Saya ditunjuk sebagai ketua program Pelatihan tersebut, oleh karenanya saya bertanggungjawab untuk menyusun desain Pelatihan. Alur pelatihan saya buat sedemikian rupa agar para peserta memiliki dasar-dasar yang kuat secara konseptual dalam mengembangan  pembelajaran sains, sekaligus memiliki kemampuan praktis dalam mengembangkan perangkat pembelajaran sains.

Sesi pertama pelatihan menampilkan Prof (EM) Dr Wuryadi yang menyampaiakan landasan filososfis pengembangan metode pembelajaran. Prof Wuryadi menyampaikan tema : “Scientific Methods sebagai dasar pengembangan metode pembelajaran IPA”. Melalui materi ini, diharapkan para peserta memiliki pemahaman yang kuat tentang apa itu Scientific Methods dan penerapannya dalam pengembangan metode pembelajaran IPA.

Setelah itu, Prof. Dr Zuhdan KP menyampaiakan materi “Pengembangan Model Cooperatif Learning dalam Pembelajaran Sains”, Dr. Dadan Rosana, M.Si menyampaikan materi “Pengembangan Model Problem Based Learning dalam Pembelajaran Sains”, dan Bu Insih Wilujeng menyampaikan materi “Pengembangan Pembelajaran IPA Terintegrasi”.

Pada tiap materi dilakukan workshop yang didampingi oleh Dosen-dosen yunior (Sabar Nurohman, Bu Maryati, Bu Asri Widowati, Bu Purwanti Widhi, dan Bu Susilowati). Pada kegiatan workshop, para peserta dibimbing  memilih SK/KD yang cocok  untuk tiap-tiap model pembelajaran, mengelaborasikan SK/KD menjadi Indikator dan Tujuan Pembelajaran, Menyusn skenario pembelajaran sesuai dengan sintak model pembelajaran yang sedang dipelajari, dan diakhiri dengan penyusunan LKS sebagai alat bantu yang cukup efektif dalam mengembangkan model pembelajaran yang sedang dikaji.

Selama proses pelatihan, saya sendiri memperoleh begitu banyak pelajaran. Bertemu dengan para guru/tutor pembelajaran IPA berbasis Pondok pesantren, menyadarkan saya tentang betapa persoalan pendidikan di Indonesia masih begitu banyak. Bahkan pada batas tertentu membuat saya pesimis tentang masa depan dunia pendidikan kita.

Satu hal yang sangat saya rasakan adalah: bahwa di Indonesia masih terjadi disparitas yang sangat lebar tentang praksis pendidikan antar lembaga. Di saat ada sekolah-sekolah yang sedang gegap gempita melaksanakan dan atau mempersiapkan program SBI/RSBI dengan lautan dana yang begitu melimpah, ada banyak sekolah lain yang secara terpaksa pembelajaran berlangsung dengan sangat ala kadarnya,  kualitas guru yang ala kadarnya, fasilitas yang ala kadarnya, pendanaan yang sangat ala kadarnya dan keadaan siswa yang juga begitu ala kadarnya.

Peserta pelatihan terdiri dari guru/tutor yang mengajar IPA di sekolah-sekolah yang berafiliasi dengan pondok pesantren. Backgroundnya tidak semua berlatar belakang pendidikan IPA, sebagiannya adalah para ustad yang “dipaksa” oleh sistem untuk mengajarkan IPA kepada para santri. Mereka terpaksa “memanfaatkan” ustad yang ada untuk mengajarkan IPA karena tidak memiliki kesanggupan untuk membayar guru dari luar.

Pada situasi seperti inilah, saya dituntut untuk mengawinkan aras idialita dengan aras realita secara proporsinoal. Kita tetap harus memastikan bahwa pembelajaran IPA dilakukan secara benar meskipun ditengah-tengah  keterbatasan yang ada.

Pada saat yang sama saya juga melihat adanya  semangat yang luar biasa dari para Ustad dalam mengajar di kelas. Mereka ada yang dibayar  hanya 250.000,00 tiap bulan, bahkan sebagian yang lain mengajar tanpa bayaran. Sebagian mereka mengajar di Ponpes “pinggiran”, yang pelaksanaannya dilakukan secara gratis, sehingga ponpees tersebut minim dana. Pendanaan yang minim membuat sekolah berbasis Ponpes hampir-hampir tidak mungkin untuk mempraktikan pembelajaran IPA secara ideal, apalagi jika bertemu dengan materi-materi Kimia yang membutuhkan bahan-bahan kimia, Mengukur besaran-besaran Fisika dengan berbagai  alat ukur dan sebagainya. Namun mereka tetap bersemangat mengajarkan IPA di sekolah mereka sesuai dengan kesanggupannya.

Fenomena pendidikan di pesantren benar-benar membuat saya malu, iri sekaligus marah. Malu karena memiliki semangat juang yang kalah jauh dibanding para ustad yang mengajar IPA di Ponpes, Iri dengan keikhlasan mereka dalam berjuang, dan marah kenapa kesenjangan pendidikan masih begitu menganga. Marah?…Tapi marah sama siapa? Akhirnya saya memutuskan untuk tidak marah, hanya saja saya heran. Heran sekaligus geram, dana pendidikan yang mencapai 20% dari total APBN negeri ini lari ke mana? Kalau di masa lalu kita bisa mengatakan bahwa buruknya pendidikan di Indonesia karena anggaran Pendidikan yang sangat kecil, hanya 2% s.d 5% pertahun. Tapi kini anggaran untuk pendidikan sudah menembus angka 20%, kenapa masih ada guru yang mengajar tanpa bayaran yang sesuai? Kenapa masih banyak sekolah yang tidak memiliki fasilitas standar? Kenapa masih banyak pelajaran diampu oleh bukan ahlinya? Kenapa???

Refleksi Ummat Atas Tragedi Mavi Marmara

Tulisan ini sebenarnya akan saya publish minggu lalu, beberapa hari pasca penyerangan tentara Komando Israel di kapal Mavi Marmara pembawa misi kemanusiaan ke Gaza. Namun keadaan saat itu  masih terlalu panas untuk menyampaikan tulisan ini. Kebanyakan kita saat itu diliputi oleh kemarahan, rasa jengkel dan segudang kekecewaan yang tak tertahankan. Sehingga susah untuk berbicara persoalan hikmah. Kini keadaannya sudah mulai mendingin, maka saya mencoba mengajak kita semua untuk “mengais” berbagai hikmah di balik tragedi tersebut.

Setidaknya ada tiga pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa penyerangan Israel ke kapal Mavi Marmara ataupun serangan Israel ke Gaza di awal 2009 yang menewaskan ribuan warga sipil Gaza.

Pertama, menegaskan kebenaran Al Qur’an sebagai Firman Allah swt.

Peristiwa penyerangan Israel ke kapal Mavi Marmara, Blokade Israel atas Gaza dan Penyerangan tentara Israel di awal tahun 2009 yang lalu kembali  menegaskan kepada kita tentang kebenaran ayat Al Qur’an di surah Al Baqoroh ayat 120:

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka.

Serangkaian permusuhan kaum yahudi kepada kum muslimin di Bumi Palestina semestinya semakin menambah keyakinan kita akan kebenaran Al Qur’an. Kaum yahudi dan kaum nasroni, menurut ayat tadi, tidak akan pernah senang kepada kaum muslimin selama kaum muslimin berpegang teguh kepada syari’ah yang Allah turunkan untuk manusia. Mereka akan terus menunjukan permusuhannya selama kaum muslimin tidak mengikuti millah mereka. Millah dapat dimaknai sebagai jalan hidup atau secara lebih bebas dapat dimaknai sebagai life style.

Jangan samapi kita mau di bawa pada arus pemikiran, bahwa persoalan di Palestina hanyalah persoalan “kemanusiaan” dan tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan Agama. Beberapa waktu terakhir ada upaya untuk mengelabui kaum muslimin dengan upaya pencitraan kalau persoalan Palestina murni merupakan persoalan kemanusiaan. QS Al Baqoroh ayat 120 tadi sudah sangat tegas menyatakan bahwa permusuhan bangsa Yahudi dilandasi oleh persoalan Idiologi, oleh persoalan Millah.

Bangsa Israel tidak akan pernah diam kepada kaum muslimin selama kita tidak bersedia mengikuti jalan hidup mereka. Sehingga kalau sekarang ini dunia disuguhi oleh pemandangan memprihatinkan, yakni Israel dengan begitu sadisnya ingin “menghabisi” kaum muslim Palestin dengan cara penyerangan militer dan blokade, hal ini menunjukan bahwa msyarakat Palestin sejauh ini enggan untuk mengikuti Millah kaum yahudi.

Ada baiknya kita perlu curiga pada diri kita, kaum muslimin di Indonesia. Hingga hari ini agaknya Israel tetap ridho dengan apa yang terjadi di Indonesia. Israel tidak pernah mempermasalahkan Indonesia meskipun bangsa  ini merupakan negeri muslim terbesar di dunia. Jangan-jangan keridhoan Israel atas bangsa Indonesia disebabkan karena kita telah mengikut Millah mereka. Jangan-jangan Israel tidak menyerang kita disebabkan karena sistem ekonomi kita, cara bernegara kita, pola tingkah laku kita, akhlak kita, cara busana kita dan semua yang ada dalam diri kita telah mengikuti pola yang dikembangkan oleh Israel. Sehingga Israel merasa tidak perlu untuk memberikan tindakan kepada kaum muslimin di Indonesia. Toh semuanya sudah berada di bawah “kendali” kaum yahudi. Wallahu’alam, hanya saja, menurut saya kita perlu mencurigai diri sendiri.

Kedua, Momentum Kebangkitan Intelektual Kaum Muslimin

Tragedi peperangan asimetris antara Palestina dan Israel,  jika bisa disederhanakan sebagai peperangan antara Islam dan Barat menunjukan ketimpangan yang sangat menganga antara Islam dan Barat. Kemenangan sebuah bangsa dalam suatu peperangan merupakan indikator kekuatan bangsa tersebut sebagai akumulasi keunggulannya, terutama dalam bidang Sains dan Teknologi. Teknologi perang yang dimiliki oleh bangsa barat jauh melampaui apa yang dimiliki oleh negeri-negeri muslim.

Kenyataan seperti ini semestinya mampu membuka mata kita untuk segera memasuki Era Kebangkitan Penguasaan Sains dan Tekhnologi. Di tengah-tengah peradaban modern yang dikendalikan barat hari ini, jangan pernah kita berharap belas kasih dari PBB, Dewan Keamanan, Mahkamah Internasional ataupun lembaga-lembaga internasional untuk membantu kita. Mereka adalah sama saja, produk dari lobi Yahudi. Berharap banyak kepada lembaga-lembaga tersebut hanya akan membuat kita semakin frustasi.

Langkah paling realistis yang dapat kita lakukan dalam jangka panjang adalah sesegera mungkin melakukan langkah-langkah strategis dalam memperbaiki kualitas SDM negeri-negeri muslim. Anak-anak mudaa muslim selain harus dibekali oleh Aqidah Islam yang mapan, mereka juga harus dibekali dengan penguasaan Ilmu Pengetahuan sesuai dengan bakat dan minatnya. Pelan tapi pasti, jika usaha ini dilakukan, masa mudah-mudahan jalan pintu kemenangan akan semakin mendekat.

Ketiga, momentum penyatuan kekuatan ummat.

Adanya perbedaan sikap politik antara pemimpin dunia Islam (presiden/raja negeri-negeri muslim)  dengan masyarakat muslim kebanyakan. Sebagaimana yang kita lihat hingga hari ini, sebagian pemimpin dunia Islam masih nampak setengah hati dalam menyelesaikan persoalan di bumi Palestina. Sebagian pemimpin dunia Islam masih mengambil sikap aman dengan tidak bersepakat melawan Israel.

Sebagai orang awam dalam dunia militer, saya berpandangan jika seluruh kekuatan militer negeri-negri muslim bersatu untuk menghentikan dan kalau perlu menghukum prilaku arogan bangsa Yahudi, tentu saja militer Yahudi tidak akan mudah mengalahkannya. Atau paling tidak,  seluruh pemimpin dunia Islam bersedia untuk  duduk satu meja dan menentukan sikap bersama atas prilaku Israel terhadap palestina.

Demikianlah beberapa hikmah yang dapat kita petik dari keadaan terakhir umat Islam. Kita boleh marah, kita boleh menghujat, namun dalam jangka panjang kemarahan dan hujatan kita tidak terlalu bermakna. Tapi bahwa hari-hari ini kita perlu turun aksi ke-jalan, mengutuk sikap Israel, menggalang dana, dan aktivitas lain yang sejenis, itu jelas merupakan kewajiban jangka pendek yang harus segera dilakukan.

Semoga bermanfaat.

Aktivitas Matahari dalam Perspektif Al Qur’an

Hari Sabtu, 5 Juni 2010 saya diminta mengisi sebuah Seminar Nasional bertemakan Aktivitas Matahari 2012 yang diselenggarakan oleh Jaringan Rohis MIPA Nasional (JRMN) di UII. Hanya saja saya diminta mengkaji persoalan ini dalam perspektif Al Qur’an. Pembicara yang lain mengkaji dalam perspektid sains (Pak Bachtiar dari LAPAN) dan Dalam perspektif Kesehatan (Bu Tri dari Dinkes Jogja). Berikut saya sajikan makalah saya pada seminar tersebut.

Pengantar

Sejak direalesnya film dengan judul “2012”,  sejumlah orang memposisikan tahun 2012 pada proporsi yang cukup berlebihan. Sebagian menganggap tahun 2012 merupakan tahun yang “angker” karena akan ada banyak musibah terjadi, bahkan sebagian yang lain mengatakan bahwa kiamat akan datang di tahun yang sama.  Pandangan ini muncul mengikuti ramalan bangsa maya yang menganggap bahwa sistem penanggalan akan berakhir di tahun 2012 yang berarti juga merupakan pertanda berakhirnya sistem kehidupan, atau dalam bahasa lain disebut sebagai kiamat. Tidak ketinggalan, paranormal yang banyak diikuti oleh masyarakat Indonesia, Mama Loerent, ikut meramalkan bahwa kiamat memang akan terjadi di tahun 2012, karena menurut penerawangannya, dia sudah tidak melihat apapun setalah tahun 2012.

Sejumlah orang juga ingin memberikan penjelasan secara “ilmiah” tentang kemungkinan akan terjadinya kiamat di tahun 2012. Seperti Zecharian Sitchin, seoarang astronom yang agak “nyentrik”, menuduh  Planet X yang dipercaya sebagai nibiru, merupakan planet yang bertanggungjawab atas berbagai bencana yang terjadi di bumi akhir-akhir ini, termasuk adanya fenomena global warming dengan berbagai dampaknya. Planet tersebut dipercaya memiliki ukuran yang sangat besar dan merupakan salah satu anggota tata surya, namun memiliki orbit yang sangat eksentrik dengan periode 3661 tahun. Kehadiran planet tersebut di dekat bumi akan mengganggu gravitasi dan medan magnet bumi sehingga kemungkinan besar mampu merubah posisi kutub bumi. Hadirnya planet tersebut merupakan pertanda bagi hancurnya peradaban manusia.

Selain itu, sebagaian juga ingin mencoba menjelaskan ramalan tahun 2012 dengan mengaitkannya terhadap aktivitas matahari, yang kebetulan secara periodik akan mengalami puncak aktivitas antara tahun 2011 hingga 2015an. Bagaimana Al Qur’an membimbing manusia di tengah-tengah wacana seperti ini? Benarkah aktivitas matahari dapat mengakhiri kehidupan di tahun 2012? Pertanyaan-pertanyaan ini dan berbagai pertanyaan yang mirip dengannya akan coba diulas dalam tulisan sederhana ini.

Aktivitas Matahari

Matahari merupakan  sebuah bintang yang menjadi pusat sistem tata surya kita. Lebih dari 90% massa tata surya terdapat pada matahari, maka wajar jika matahari berperan sebagai pusat sistem tata surya sekaligus penghasil energi utama bagi kehidupan di bumi. Terdapat sejumlah  peristiwa di bumi yang keberlangsungannya “dikendalikan” oleh matahari.  Peristiwa fotosintesis yang akan menghasilkan energi pada tumbuhan  sekaligus sebagai penentu siklus Oksigen dan Karbondioksida,  dan siklus hidrologi yang sangat berpengaruh bagi proses kehidupan di bumi membutuhkan matahari sebagai pemicunya.

Keberadaan matahari juga berguna bagi manusia dalam menentukan sistem penanggalan. Bahkan ada banyak ibadah yang tata-caranya berkaitan dengan peredaran matahari. Penentuan waktu sholat yang lima waktu hampir semuanya menggunakan dasar pergerakan matahari relatif terhadap bumi. Posisi waktu dhuha juga ditentukan oleh matahari. Kapan orang harus memulai dan menghentikan puasa juga ditentukan pergerakan matahari dan bulan, bahkan para pemukul bedug tanda berbuka puasa juga akan menjalankan aktivitasnya berdasarkan aktivitas matahari.

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui (QS Yunus: 5).

Selain merupakan “sumber” keberkahan, Matahari dalam perspektif yang agak berbeda juga dimungkinkan akan menjadi “sumber” bencana. Setiap saat matahari melepaskan radiasai elektromagnetik (yang sebagiannya berbahaya), lontaran debu-debu matahari yang bermuatan,  bahkan secara periodik akan terjadi peningkatan aktivitas ledakan matahari (flare), angin surya, kemunculan bintik matahari dan lain sebagainya. Hampir seluruh aktivitas tersebut dapat berpotensi bagi munculnya bencana di muka bumi.

Para ilmuan telah mengumpulkan data aktivitas matahari dari waktu ke waktu. Data tersebut menunjukan bahwa matahari bukanlah benda yang statis, melainkan dia sangat dinamis. Ada berbagai aktivitas yang terjadi di matahari secara periodik. Gambar 1. menunjukan fluktuasi aktivitas matahari dalam tiga abad terakhir. Gambar 2. menunjukan fluktuasi aktivitas matahari selama sepuluh tahun terakhir. Kedua gambar tersebut menunjukan kepada kita bahwa aktivitas matahari yang konon akan memuncak pada tahun 2012 bukanlah  barang baru, melainkan aktivitas alamiah yang sudah sering berlangsung.

Gambar 1. Fluktuasi Aktivitas Matahari dalam 3 Abad Terakhir

Gambar 2. Fluktuasi Aktivitas Matahari dalam dua dekade terakhir

Pada dua puluh tahun terakhir, matahari pernah memasuki era “ketenangan” dan puncak aktivitasnya secara periodik. Pada tahun 1996 misalnya, kala itu matahari sedang mengalami masa “ketenangannya”. Dampaknya bagi bumi (terutama di daerah utara) adalah terjadinya musim dingin yang sangat ekstrim hingga menewaskan 600 orang di Rusia.  Tahun 2009 juga merupakan tahun aktivitas matahari yang paling minimal. Akibatnya di Eropa dan Amerika terjadi musim dingin yang ekstrim dengan badai salju dan salju tebal.

Puncak aktivitas matahari juga pernah terjadi pada tahun 1989 dan di sekitar tahun 2002an. Menurut Jamaludin (1996),  pada masa Matahari aktif tahun 1988 – 1989 dilaporkan banyak gangguan di Bumi akibat meningkatnya aktivitas Matahari. Peningkatan aktivitas Matahari menyebabkan gangguan medan magnetik Bumi dan perubahan-perubahan di ionosfer. Pada masa itu dilaporkan para peneliti di kutub selatan kehilangan kontak radio selama empat hari berturut-turut. Beberapa pesawat terbang sedikit tersesat setelah terganggunya peralatan navigasi dan komunikasi radio dengan menara pengawas. Satelit yang memancarulangkan siaran radio Suara Amerika (Voice of America) juga terpaksa orbitnya harus dikoreksi setiap 20 menit, terganggunya pusat pembangkit tenaga listrik, burung merpati tidak bisa mencapai sasaran pada suatu lomba terbang 280 km, karena merpati menggunakan medan magnet Bumi sebagai pemandu arahnya.

Langit Sebagai Atap Kehidupan di Bumi

Allah swt menciptakan alam semesta sudah dibuat sedemikian hingga agar alam senantiasa setimbang (equilibrium). Sehingga sistem di bumi telah dilengkapi dengan berbagai piranti untuk menyelamatkan bumi dari berbagai bahaya luar angkasa termasuk dari matahari. Gambar 3. menunjukan bagaimana sistem di bumi oleh Allah Swt telah diberi piranti penyelamatan diri dari bahaya aktivitas matahari.

Gambar 3. Medan Magnet Bumi Melindungi bumi dari bahaya Matahari

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS Al Baqoroh : 22)

Ayat tersebut menggambarkan, bahwa Allah Swt telah memberikan begitu banyak piranti yang memungkin bagi munculnya kehidupan di muka bumi. Salah satunya Allah swt telah menciptakan langit sebagai atap bagi kehidupan di muka bumi. Barangkali, kaum muslimin di generasi pertama (para sahabat) belum memahami benar tentang pernyataan langit sebagai atap. Namun seiring dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, kini manusia dapat memberikan penjelasan lebih rinci tentang makna ayat di atas. Kini manusia dapat memahami dengan sangat gamblang mengapa Allah Swt menyatakan bahwa langit merupakan atap.

Atap adalah sebuah kata yang mewakili adanya suatu sistem perlindungan terhadap bahaya dari atas. Langit diketahui memiliki sistem atmosfer yang dipenuhi oleh molekul-molekul udara dari berbagai jenis gas, seperti Nitrogen, Oksigen, Karbon dioksida, Argon, uap air dan sebagainya. Molekul udara semacam ini ternyata merupakan sebuah sistem perlindungan bagi bumi jika suatu benda asing dari luar angkasa masuk ke bumi. Setiap benda luar angkasa yang masuk ke bumi akan mengalami pemanasan dan pembakaran selama bergesekan dengan atmosfer. Maka munculah peristiwa Meteor sebagai fenomena terbakarnya meteorida di atmosfer. Tanpa adanya atmosfer, bumi setiap hari akan dihantam oleh berbagai benda asing dari luar angkasa  sebagaimana yang terjadi di bulan, sebuah satelit alami bumi yang tidak beratmosfer. Di bulan banyak dijumpai kubangan-kubangan kawah sebagai akibat hantaman benda luar angkasa karena bulan tidak memiliki sistem perlindungan diri berupa atmosfer.

Gambar 4. Fenomena Meteor

Selain itu, bumi juga memancarkan medan magnet  yang dapat menyelamatkan diri dari “serangan” partikel bermuatan dari matahari. Setiap saat matahari melepaskan partikel bermuatan ke segala penjuru. Segala puji milik Allah swt  yang telah menciptakan medan magnet bumi sebagai perisai dari bahaya partikel bermuatan yang terlontar dari matahari. Sebagaimana yang kita ketahui dari pelajaran Fisika, bahwa jika ada partikel bermuatan melewati daerah yang mengandung medan magnet pada arah yang saling tegak lurus, maka partikel tersebut akan “ditendang” pada arah yang juga tegak lurus terhadap arah kecepatan partikel (v) dan arah medan magnet (B)  . Akibatnya permukaan bumi selamat dari lontaran partikel bermuatan dari matahari yang terjadi setiap saat.


 

Belajar Dari Al Qur’an

Musibah yang terjadi di alam sudah menjadi sunatullah sejak alam diciptakan.  Allah swt telah membekali alam semesta suatu kemampuan untuk terus menuju kesetimbangannya. Hanya terkadang, proses menuju kesetimbangan ini melalui suatu jalan yang bernama bencana. Sebagai misal, gempa bumi, ia harus terjadi setelah lempeng bumi tidak lagi sanggup menahan energi tumbukan yang begitu besar antara dua atau lebih lempeng sehingga energi tersebut harus dilepas dan menyebabkan gempa bumi. Bahkan kalau kita lihat sejarah geologi, ada suatu tempat yang kini menjadi daerah pegunungan padahal di waktu yang silam tempat tersebut adalah dasar laut. Bisakah kita bayangkan bencana seperti apa yang terjadi saat itu? Atau pernahkah kita berfikir, mengapa seekor mamuth (gajah purba) ditemukan di daerah kutub, padahal ia adalah binatang tropis? Pernahkah kita bertanya, mengapa para penambang minyak harus menggali sampai kedalaman puluhan bahkan mungkin rautas meter ke dalam tanah untuk mendapatkan minyak, padahal minyak konon berasal dari timbunan mahluk hidup pada jutaan tahun yang lalu?

Ilustrasi di atas ingin menyampaikan pesan bahwa, musibah memang benar-benar ada dan sudah menjadi sunah alam semesta. Termasuk aktivitas matahari yang berpotensi menyebabkan adanya musibah, semuanya telah mengikuti hukum-hukum Allah swt. Matahari, bumi, bulan semuanya tunduk pada kehendak Allah swt.

Dan Dia telah menundukan bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukan bagimu malam dan siang (QS Ibrahim: 33).

Maka pada setiap kejadian musibah, kita perlu berpositif thinking, bahwa mungkin saja, inilah cara Allah swt untuk melihat mana hambanya yang benar-benar ta’at dan mana yang kufur. Bagi yang ta’at kepada Allah, setiap kali bencana datang maka tidak ada kalimat lain yang keluar dari mulutnya, kecuali ucapan: Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”, (Al Baqoroh: 156).

Musibah akan menyadarkan betapa kerdilnya kita di hadapan Allah Swt. Kita hanyalah sekumpulan manusia yang tidak memiliki apapun, karena semuanya hanyalah titipan dari Allah swt yang sewaktu-waktu akan diminta lagi oleh-Nya. Harta, anak, istri bahkan nyawa kita sendiri sejatinya bukanlah milik kita, semuanya hanyalah titipan dari Allah swt. Kesadaran semacam ini akan menyebabkan hidup kita lebih tenang sekaligus hati-hati. Tenang karena yakin semuanya telah diatur oleh Allah swt, hati-hati karena kita sadar setiap saat apa yang kita miliki (termasuk nyawa kita) akan dipanggil oleh Allah swt dan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Maka kita akan menjadi orang yang akan terus menyibukan diri dengan amal-amal yang dapat digunakan sebagai bekal pada saat kita harus mempertanggungjawabkan seluruh aktivitas kita di dunia.

ETIKA MAHASISWA: Sebuah Tuntutan Sejarah

Kampus dibangun bukan hanya untuk menghasilkan orang pintar, tapi juga dibangun di atas cita-cita besar, menghasilkan manusia bermoral. Pada konteks ini, kampus sesungguhnya memiliki tanggungjawab sejarah yang sangat berat, yakni menata nalar sekaligus menata moral anak-anak negeri. Maka tepat jika UNY memiliki visi menghasilkan lulusan yang Bernurani-Cendekia dan Mandiri. Jadi, disamping kita menghendaki lahirnya insan-insan cendikia yang memiliki keunggulan penguasaan IPTEK sehingga dapat hidup secara mandiri, kita juga menginginkan lulusan kampus ini memiliki pesona akhlak/moral yang mengagumkan.

Cita-cita besar UNY tidak akan mungkin terwujud tanpa usaha keras semua pihak mulai dari jajaran birokrasi, dosen, karyawan, hingga mahasiswa sebagai ujung tombak. Salah satu usaha elaborasi visi UNY, khususnya untuk menghasilkan insan bernurani  adalah adanya komitmen dari para pemangku kebijakan untuk mengembangkan peraturan yang terkait dengan pembangunan etika mahasiswa. Sejak tahun 2008 wacana tentang Etika Mahasiswa sudah mulai dilontarkan. Berbagai diskusi bahkan workshop sudah beberapa kali dilaksanakan baik di tingkat Universitas maupun Fakultas untuk membuat kesepakatan tentang kerangka global Etika Mahasiswa.

Munculnya gagasan tentang peraturan yang terkait dengan Etika Mahasiswa tidaklah muncul di ruang vakum, ada latar yang mendasari kemunculan gagasan tersebut, baik alasan kekinian maupun alasan cita-cita masa depan. Secara kekinian, Peraturan Etika Mahasiswa dirasa mendesak untuk segera dilahirkan berdasarkan evaluasi baik yang dilakukan oleh pihak internal maupun eksternal.

Secara internal, banyak dosen (dan mungkin juga mahasiswa) yang mengeluhkan tentang tata-laku maupun tata-busana mahasiswa yang tidak lagi mencerminkan sebagai komunitas bermartabat. Sebagian mahasiswa sudah tidak lagi menaruh hormat kepada para dosen, cara pergaulan antar mahasiswa/i yang kurang pantas, cara berpakaian yang mengabaikan tatanan moral dan budaya bangsa, aktivitas plagiarisme baik dalam melaksanakan tugas-tugas kuliah maupun dalam pembuatan skripsi, dan berbagai fenomena lain yang memprihatinkan. Secara eksternal evaluasi kerap kali datang dari para Kepala Sekolah pada saat evaluasi KKN-PPL. Pihak sekolah memang tidak meragukan kapasitas mahasiswa KKN-PPL UNY dalam penguasan ilmu ataupun teknik mengajar di kelas, namun mereka selalu menyoroti tentang berbagai hal yang terkait dengan masalah etika, mulai dari cara pergaulan hingga cara berbusana yang kurang pantas.

Evaluasi internal maupun eksternal tentang tata-laku dan tata-busana mahasiswa sebagaimana yang baru diuraikan agaknya memang bukan sekedar isapan jempol. Keadaan itu memang benar-benar terjadi. Realitanya memang telah terjadi kemerosotan kesadaran beretika dalam diri sebagian mahasiswa. Di kampus, kita sering disuguhi pemandangan pasangan mahasiswa-mahasiswi yang bergandengan tangan jalan dengan begitu mesra di tengah kampus, mahasiswi yang mengenakan baju dengan desain yang sangat ketat dan ukuran yang minimalis, mahasiswa yang mengenakan baju/celana kumal sambil merokok di sembarang tempat, mahasiswa yang menyerahkan tugas-tugas kuliahnya kepada “Mbah Google” dan beragam aktivitas mahasiswa yang tidak menunjukan kapasitasnya sebagai mahasiswa bermartabat. Inilah alasan kekinian yang menghajatkan sebuah aturan tentang Etika Mahasiswa.

Selain alasan kekinian, UNY juga punya cita-cita masa depan yang mengharuskan kita memiliki sebuah kesepakatan tentang kerangka berprilaku baik dalam kegiatan akademis maupun non akademis. Visi UNY yang memimpikan hadirnya anak-anak negeri yang Bernurani, Cendekia dan Mandiri mengarahkan kita untuk terus bekerja keras membangun tatanan moral seluruh penghuni kampus, termasuk mahasiswa. Berdasarkan dua alasan inilah, maka kehadiran peraturan yang terkait dengan Etika Mahasiswa menjadi sangat dirindukan.

Pada konteks ini, jajaran III (Bidang Kemahasiswaan) FMIPA UNY telah melakukan sebuah ikhtiar untuk menata kehidupan kampus yang lebih bermartabat. Kita telah melakukan workshop Etika Mahasiswa yang diikuti oleh perwakilan ORMAWA di lingkungan FMIPA UNY untuk memproduk sebuah aturan Etika Mahasiswa. Selama satu hari, para perwakilan mahasiswa memperdebatkan tentang bagaimana semestinya mahasiswa berprilaku baik dalam kegiatan akademik maupun non akademik. Etika Mahasiswa di lingkungan FMIPA UNY dengan demikian lahir dari rahim kesepakatan bersama antar mahasiswa, bukan turun dari langit (pihak birokrasi). Hal ini sengaja dikembangkan agar aturan tersebut pada saatnya nanti dapat diterima oleh mahasiswa, diawasi pelaksanaannya oleh mahasiswa dan suatu ketika juga dapat dievaluasi oleh mahasiswa. Kerangka global Etika Mahasiswa yang telah disepakati oleh mahasiswa terdiri dari tiga komponen,yakni 1) Etika Akademik, 2) Etika Prilaku, dan 3) Etika Berbusana. Kita berharap aturan ini dapat dijadikan sebagai pedoman bagi mahasiswa dalam melaksanakan kegiatan akademis yang lebih beretika.

Jogja: Sebuah Ironi Kota Pendidikan

Tugu Jogja

Tugu Jogja

Sebentar lagi, Jogja akan segera didatangi oleh ribuan penghuni baru yang datang dari hampir seluruh penjuru negeri. Sebagai sebuah tempat yang dikenal sebagai kota pelajar, ataupun kota pendidikan, wajar kalau ada begitu banyak lulusan SMA yang memimpikan bisa menikmati proses belajar di Jogjakarta.

Jogja, bagi sebagian kalangan dianggap sebagai sebuah tempat yang cukup kondusif untuk meningkatkan kapasitas intelektual seorang mahasiswa. Di Jogja tersedia ada begitu banyak kampus dengan puluhan atau bahkan ratusan program studi. Dari kampus  yang besar dan bergengsi hingga penyedia jasa layanan kursus singkat. Semua tersedia.

Pertanyaannya, benarkah saat ini Jogja masih menunjukkan karakternya sebagai kota pelajar/kota pendidikan? Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita harus menyepakati terlebih dahulu, indikator apa yang harus dipenuhi oleh kota pelajar/kota pendidikan? Untuk menjawab pertanyaan ini, saya coba tampilkan salah satu misi Pemkot Yogyakarta yang berkaitan dengan upayanya dalam mempertahankan Yogyakarta sebagai kota Pendidikan. Misi tersebut adalah:

Mempertahankan predikat Kota Yogyakarta sebagai Kota Pendidikan yaitu dengan mengupayakan partisipasi seluruh komponen masyarakat, pemerintah daerah dan swasta agar penyelenggaraan pendidikan di Kota Yogyakarta mempunyai standar kualitas yang tinggi dan terkemuka di Asia Tenggara, mempunyai keunggulan kompetitif yang berdaya saing tinggi, kompetensi tinggi, menekan berbagai pengaruh negatif yang dapat merusak citra pendidikan Kota Yogyakarta; menciptakan sistem dan kebijakan pendidikan yang unggul; membantu penyediaan sarana dan prasarana pendidikan.

Berdasarkan misi di atas, upaya yang direncanakan oleh Pemkot Yogyakarta dalam mempertahankan citranya sebagai Kota Pendidikan antara lain melalui peningkatan partisipasi masyarakat, pemerintah dan swasta dalam mengembangkan pendidikan berkualitas, menekan pengaruh negatif yang dapat merusak citra kota pendidikan, dan peningkatan sarana prasarana pendidikan.

Bagaimana kenyataannya? Sudahkah masyarakat, pemerintah, dan berbagai pihak swasta di Yogyakarta telah berkolaborasi untuk menciptakan kultur akademik yang lebih baik? Sudahkah ada usaha yang serius untuk melawan berbagai kultur negatif yang merusak kultur intelektual? Dan seberapa serius pemerintah membangun berbagai sarana dan prasarana yang mendukung bagi pengembangan kultur intelektual warganya?

Bagi saya, dalam kurun 5-10 tahun terakhir ini, ada berbagai perkembangan yang cukup memprihatinkan. Perkembangan tersebut bermuara pada hilangnya karakter Jogja sebagai kota pendidikan dan berubah menjadi kota hedon lagi permisif. Lihat saja kondisi kampus hari ini, sebagian banyak mahasiswa telah tercerabut dari akarnya sebagai komunitas intelektual dan agen perubahan menjadi komunitas hura-hura dan permisif. Sedikit sekali mahasiswa yang menyisakan ruang pikirnya untuk mendialogkan berbagai persoalan bangsa dan negaranya, lalu menggantinya dengan perbincangan cengeng urusan percintaan.

Keadaan ini tidak muncul begitu saja. Pergeseran kultur ini muncul karena kita salah dalam mengambil kebijakan. Rupa-rupanya ada sekelompok orang yang ingin memanfaatkan Jogja sebagai tempat berkumpulnya anak-anak muda hanya sebagai lahan bisnis. Sekelompok orang ini (para pemilik modal) tentu saja dapat beraksi karena sokongan para penguasa. Jadi, ada konspirasi antara kaum kapitalis dengan penguasa untuk menjadikan Jogja sebagai lahan bisnis yang empuk tanpa memperhatikan dampaknya bagi pengembangan kultur akademik masyarakat Jogja.

Lihat saja spanduk-spanduk yang menghiasi berbagai tempat strategis di Jogja! Pernahkah kita lihat kalimat-kalimat “Telah di buka toko buku murah untuk rakyat” atau “Datangilah pojok diskusi mengelola negeri membangun peradaban” atau “Telah hadir di Kota Anda: Taman bacaan gratis”? Sejauh yang saya amati, iklan-iklan yang menghiasi di Kota Yogyakarta berkisar pada: “Weekend, bareng DJ Paijo dengan Sexy Dancer Anita”, “Soft Opening: Edan Kafe, diskon untuk mahasiswa”.

Pemilik modal bersama pemerintah lebih tertarik untuk membangun mall, kafe, distro, dan berbagai simbol  hura-hura lainnya. Hal ini karena bisnis tersebut  dirasa jauh lebih menjanjikan daripada membangun berbagai fasilitas yang menunjang peningkatan kultur intelektual. Akibatnya mall dan kafe di Jogja begitu menjamur sedangkan pertumbuhan sarana peningkatan kultur akademik terasa jalan di tempat.

Jogja sebagai kota pendidikan semestinya membangun sebanyak mungkin berbagai fasilitas yang berkait erat dengan upaya penumbuhan kapasitas intelektual, bukan berbagai pusat pengembangan budaya hedon dan permisif. Semoga bermanfaat.

Creative Intelligence: Paradigma Baru Kecerdasan Manusia

Einstein: Icon Kecerdasan Abad XX

Einstein: Icon Kecerdasan Abad XX

Hingga hari ini, sekolah, guru, dan masyarakat, pada umumnya masih terbelenggu oleh paradigma lama tentang kecerdasan. Orang menganggap bahwa manusia/anak yang cerdas adalah mereka yang “pinter” Matematika, Fisika, IPA, atau yang sering dikatakan sebagai ilmu eksakta. Maka wajar, jika icon kecerdasan abad XX adalah seoarang Albert Enstain, yang memiliki kemampuan bahasa matematika yang sangat luar biasa untuk menjelaskan berbagai fenomena fisika.

Orang tua akan cenderung lebih bangga ketika putra-putrinya berhasil memasuki Program IPA (ketika di SMA) jika dibandingkan apabila buah hatinya itu masuk di Program IPS ataupun Bahasa. Aroma “Kesombongan Intelektual” juga diam-diam muncul dari para siswa Program IPA. Mereka menganggap dirinya lebih unggul daripada teman-temannya di IPS/Bahasa.

Sebagian kita menganggap bahwa kesuksesan masa depan seseorang ditentukan oleh sejauh mana kecerdasan orang tersebut, parahnya mereka mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuannya di bidang ilmu-ilmu eksakta. Orang tua yang punya uang akan berusaha sekuat mereka untuk membuat anak-anaknya “pintar” ilmu eksak, ada yang diikutkan les sempoa, tambahan pelajaran di berbagai lembaga bimbingan belajar, ataupun les privat di rumah.

Benarkah paradigma ini? Benarkah kesuksesan seseorang ditentukan oleh kecerdasan di bidang ilmu-ilmu eksak?

Tukul: Dia Juga Cerdas

Tukul: Dia Juga Cerdas

Paradigma yang telah diuraikan di atas tentang kecerdasan saya sebut sebagai  “paradigma lama”. Paradigma lama tentang kecerdasan jelas tidak bisa memberi penjelasan bagaimana seorang Tukul Arwana bisa memperoleh kesuksesannya, paradigma lama tidak bisa menjelaskan bagaimana seorang Ahmad Dani bisa eksis, sebagaimana paradigma ini juga tidak bisa memberi argumentasi kesuksesan seorang David Becham.

“Paradigma baru” tentang kecerdasan lebih memungkinkan untuk bisa memberi penjelasan tentang fenomena Tukul, Ahmad Dani ataupun Becham. Pandangan baru ini menyatakan bahwa kecerdasan bukanlah sesuatu yang tunggal, melainkan majemuk (Multiple Intelligence).

Belahan Otak Kiri & Kanan

Belahan Otak Kiri & Kanan

Berdasarkan penelitian tentang otak, diketahui bahwa otak manusia terdiri dari dua belahan, Otak kiri dan otak kanan. Otak kiri mengendalikan kemampuan verbal, angka, penulisan, sains, rasional dan pengendali anggota gerak sebelah kanan (Tangan kanan). Sedangkan otak kanan mengendalikan kemampuan di bidang seni, kreativitas, memahami pengertian yang mendalam, bentuk tiga dimensi (seni patung dll),  dan pengendali organ gerak tubuh bagian kiri (tangan kiri).

Dunia pendidikan kita, sejauh ini lebih banyak sekedar mengolah otak kiri, terbukti dari pilihan mata pelajaran yang diUNkan. Akibatnya, pendidikan kita kurang mampu menghasilkan peserta didik yang kreatif sekaligus kurang manusiawi, karena miskin dengan nilai-nilai seni. Maka lahirlah anak -anak muda yang “pintar”, tapi tidak mampu menggunakan kepintarannya untuk kemasalahatan masyarakat, cenderung egois dan tidak mampu bekerja sama.

Kalau kita mau cermat, justru kebanyakan orang sukses bukanlah mereka yang pintar di kelas-kelas eksak. Dunia agaknya lebih menghargai mereka yang kreatif  daripada mereka yang “pintar”. Jika gaji profesor di Indonesia perbulan sekitar 13 Juta, maka Tukul dibayar hingga 30 juta tiap kali tampil di acara Empat Mata (yang sekarang menjadi Bukan Empat Mata). Ahmad Dani sekali manggung juga memasang angka 75 Juta sebagai batas bawah tarifnya. Profesor saya anggap sebagai representasi “kecerdasan Otak kiri” sedangkan Tukul dan Ahmad Dani mewakili kecerdasan kreatifitas (Creative Intelligence).

Jadi, untuk para orang tua yang anaknya kurang mampu di bidang ilmu-ilmu eksak, bagi Anda para pelajar yang kurang suka dengan Matematika atau Fisika, jangan pernah khawatir dengan masa depan Anda. Allah Swt begitu adil, sebegitu adilnya hingga memberikan kesuksesan kepada siapa saja, tidak peduli bisa Matematika atau tidak. Justru yang paling penting sekarang adalah, bagaimana kita membuat kita dan anak-anak kita sekreatif mungkin, sehingga mampu menghadapi situasi apapun di masyarakatnya. Terlebih lagi, era ini adalah era industri kreatif.