Category Archives: Tausyiyah

Agar Amal Tak Terbuang Sia-sia

Allah Ta’ala berfirman:

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا

Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (Al-Furqaan:23)

Para mufasirin berpendapat bahwa ayat tersebut berkenaan dengan keadaan yang akan dialami oleh orang-orang kafir di hari pembalasan kelak. Boleh saja orang-orang kafir semasa hidupnya berbuat begitu rupa kebaikan; mungkin mereka menjadi pekerja sosial, aktivis lingkungan, senantiasa baik sama tetangga dan sebagainya. Namun berapapun kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang kafir, besok di yaumil akhir, Allah Swt akan menjadikan amal-amal tersebut laksana debu yang berterbangan, tidak tersisas secuilpun.

Dalam perspektif Islam, Syahadat merupakan syarat mutlak bagi diterimanya sebuah amal. Tanpa ada persaksian bahwa tidak ada sesembahan kecuali Allah dan Muhammad adalah Rosul/utusan Allah, maka seberapapun amal seseorang, semuanya akan tertolak. Hal ini mirip seperti seorang peserta lomba lari saat perayaan Agustusan, betapapun lari kita begitu kencang, hingga pada akhirnya kita mencapai garis finis paling depan, namun jika kita belum mendaftarankan diri sebagai peserta lomba kepada panitia, maka kemenangan kita akan sia-sia. Tetap saja kita tidak akan memperoleh piala, karena kita tidak terdaftar sebagai peserta. Demikianlah kira-kira perumpamaan amalan orang-orang kafir.

Bahkan, kalaupun kita sudah menjadi seorang muslim-sudah bersyahadat- amal kitapun tidak begitu saja langsung diterima oleh Allah Swt. Agar amal seorang muslim diterima oleh Allah Swt, harus ada syarat-syarat yang dipenuhi. Syarat tersebut adalah :

1. Amal yang ikhlas karena Allah Swt

Rosulullah Saw menyindir orang-orang yang berhijrah ke madinah namun tidak ikhlas karena Allah Swt. Beliau bersabda :

Sesungguhnya (diterimanya) suatu amal tergantung pada niatnya.

Keikhlasan adalah barang yang teramat mahal dan susah diperoleh. Butuh latihan yang serius untuk menghasilkan pribadi yang ikhlas. Hal ini karena ikhlas sangat berkaitan dengan bersitan hati yang paling dalam. Hanya kita dan Allah Swt saja yang paling tahu apakah amal kita benar-benar ikhlas. Ikhlas sama sekali tidak dapat diwakili oleh perkataan lisan ataupun ekspresi perbuatan.

Secuilpun…Ikhlas tidak berkaitan dengan pengakuan lisan ataupun ekspresi perbuatan

Ikhlas dengan demikian tidak ada hubungannya antara diumumkan ataupun tidak diumumkannya suatu amal. Beberapa orang mengibaratkan ikhlas dengan sebuah perumpamaan yang kurang tepat, meraka mengatakan bahwa yang namanya ikhlas adalah seperti ketika kita buang air di kamar mandi, kita nyalakan kran air terbuka cukup kencang sehingga tidak ada orang yang bisa mendengar bunyi aktivitas BAB yang kita lakukan…mereka mengatakan seperti itulah ikhlas, suatu perbuatan yang tidak diketahui oleh orang lain.

Pemahaman tersebut menurut hemat kami tidak sepenuhnya benar. Lihat saja, sebagian banyak syariat dalam agama ini terdiri dari amal-amal yang harus diketahui orang lain. Sholat berjamaah, ibadah haji, Tilawah Al qur’an, Puasa dengan segala ibadah pengirinya, semua merupakan amal-amal yang harus diketahui oleh orang lain. Jika kita mendefinisikan niat sebagai amal yang ketika melakukannya tidak perlu diketahui orang lain, bagaimana syariat sholat berjamaah, ibadah haji, tilawah, dan juga puasa dapat ditegakan?

Pada sebuah peristiwa peperangan, Rosul pernah memobilisasi para sahabat untuk mengeluarkan hartanya demi kepentingan perang. Umar bin khotob datang lalu menyerahkan 2/3 hartanya kepada rosul, selang beberapa waktu Abu Bakar datang dan mengatakan “Ya rosul…ini saya infakkan seluruh harta saya untuk kepentingan jihad fii sabilillah ini”..hingga akhirnya umar berkomentar, “Saya tidak pernah bisa menandingi Abu bakar dalam urusan ini”.

Lihatlah fragmen sejarah para sahabat tersebut, kalau keikhlasan dipahami sebagai amal yang tidak perlu diketahui orang lain, maka apakah kita akan mengatakan bahwa para sahabat paling mulia tersebut beramal dengan amal yang tidak ikhlas karena amalnya diumumkan? Tentu saja tuduhan seperti itu merupakan tuduhan yang sangat ngawur.

Menampakan amal atau menyembunyikannya, sama sekali tidak ada hubungannya dengan ikhlas atau tidaknya suatu amal. Karena penentu ikhlasnya amal berada di dalam hati yang paling dalam.

Bisa saja orang beramal secara sembunyi-sembunyi, namun hatinya tidak ikhlas karena Allah, maka amal tersebut ditolak. Sebagai contoh seseorang mahasiswa yang tinggal di sebuah kontrakan bangun di malam hari dengan sangat hati-hati agar tidak diketahui teman-teman yang lain, ke kamar mandi untuk berwudu dengan sangat pelan supaya tidak didengar orang lain, sholat malam sendirian tanpa ada yang mengetahui. Namun pada saat sholat, hati kecilnya mengatakan…”Masya Allah…begitu banyak orang yang tinggal di kontrakan ini…tapi hanya saya yang bangun malam untuk qiyamulail”. Amal yang sudah diupayakan begitu tersembunyi, tidak ada orang lain yang tahu, namun ternyata hatinya bisa saja tidak ikhlas. Muncul rasa ujub dan sebagainya.

2. Amal yang mengikuti tuntunan Nabi

Syarat kedua agar amal diterima adalah amal tersebut harus sesuai dengan tuntunan Nabi Saw.

Sholatlah kamu, sebagaimana kalian melihat aku sholat (Al Hadits)

Sebagaimana syarat pertama, syarat kedua ini juga merupakan syarat mutlak bagi diterimanya suatu amal. Dalam konteks ini, maka ada kewajiban yang harus kita kerjakan agar amal kita sesuai dengan tuntunan. Kewajiban tersebut adalah : kewajiban menuntut ilmu. Wajib bagi semua muslim untuk belajar dasar-dasar agama, terutama yang terkait masalah fikih ibadah, agar amal yang kita laksanakan bersesuain dengan tuntunan Nabi. Kita harus menjadi pembelajar seumur hidup untuk mengetahui bagaimana nabi beribadah. Dengan demikian maka insya Allah pada saatnya nanti kita akan dikaruniai serangkaian ilmu yang dapat menuntun kita untuk beribadah sebagaimana nabi beribadah.

Advertisements

Memaknai Tahun Baru…

Waktu bergerak begitu cepat, seolah tak terasa kini kita sudah berada di penghujung tahun 2011. Begitulah karakteristik waktu, terkadang ia begitu “kejam”, terus menggilas kita tanpa mau kompromi..ia akan terus bergerak, melaju tanpa bisa dikendalikan oleh manusia. Kita tidak mampu mempercepat atau memperlambatnya, sebagaimana kita juga tidak punya kuasa untuk melompat ke masa depan atau mundur ke masa lalu.

 

Pada penghujung tahun ini, ada baiknya kita tadabbur QS Al Hasr ayat 18

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dengan lembutnya Allah Swt memanggil-manggil orang yang beriman dengan kalimat “hai orang-orang yang beriman”. Setelah desiran kelembutan panggilan penuh cinta dari Allah swt ditujukan kepada kaum beriman, seketika Allah menghentak dengan peringatan “Bertakwalah kamu kepada Allah Swt, dan hendaklah setiap diri  memperhatikan apa yang telah diperbuatnya (di waktu yang lalu) untuk kehidupanmu  esok hari. Dan Bertakwalah kepada Allah Swt, sesungguhnya Allah Swt tau apa yang kau perbuat”.

Salah satu yang menarik dalam ayat ini adalah : Allah swt memperingatkan persoalan taqwa hingga dua kali dalam satu ayat. Secara awam kita langsung dapat memahami betapa urusan taqwa ini benar-benar merupakan persoalan yang sangat serius. Bahkan pada ayat lain (QS Al Hujurot 13) Allah swt menyatakan bahwa taqwa adalah derajat tertinggi yang bisa dimiliki manusia dalam pandangan Allah Swt.

Selain itu, melalui ayat ini Allah Swt menyisipkan sebuah wasiat yang diapit oleh dua wasiat taqwa. Wasiat tersebut adalah : Allah Swt meminta kita untuk menengok kembali apa yang sudah kita kerjakan selama ini untuk menjadi bekal bagi kehidupan kita esok hari. Allah mengingatkan kita untuk pandai-pandai melihat masa lalu untuk menatap masa depan.

Kita lihat bahwa wasiat tersebut diapit oleh wasiat taqwa, hal ini menunjukan bahwa pesan tersebut memiliki makna yang juga sangat serius. Allah meminta kita untuk pandai-pandai dalam memandang permasalahan waktu yang terus bergulir ini.

Dalam pesrpektif waktu, setiap manusia (menurut Reza M Syarif) memiliki tiga titik waktu.

1. Past Time : Point of Experience

Setiap kita memiliki masa lalu. Masa lalu harus dipandang sebagai Point of Experience, masa lalu adalah titik-titik pengalaman. Kita tidak boleh terpenjara oleh masa lalu. Seperti apapun masa lalu kita, kita harus menyadari bahwa itu hanyalah masa lalu, itu hanyalah titik-titik pengalaman. Jangan sampai kita terpenjara olehnya. Kalaulah kemarin kita adalah orang yang sukses, kalaulah kemarin kita mampu mengumpulkan setumpuk prestasi, kita harus sadar sesadar-sadarnya bahwa itu hanyalah masa lalu. Kesuksesan yang sudah kita peroleh kini hanya menjadi masa lalu. Jangan sampai kita dibuat mabuk oleh kesuksesan kita di hari yang telah berlalu.

Demikian juga jika masa lalu kita tidak terlalu baik, tidak ada prestasi yang kita buat. Jangan sampai hal itu membuat kita pesimis menatap masa depan. Harus disadari bahwa itu hanyalah masa lalu. Kita bisa merubahnya kini atau esok hari.

Dalam melihat masa lalu, ada baiknya kita belajar dari sopir dalam memanfaatkan spion pada saat mengendarai mobil. Sopir hanya melihat spion pada saat-saat tertentu saja, misalnya pada saat hendak menyalip kendaraan lain atau pada saat hendak berbelok. Bisa kita bayangkan apa yang akan terjadi jika sopir justru fokus pada spion pada saat mengendarai mobil. Mungkin dia melihat bahwa situasi di belakang aman tidak ada sumber bencana, tapi jika itu dilakukan terus, maka bisa saja dia terjungkal ke jurang di depannya.

Maka terhadap masa lalu, kita cukup menjadikannya sebagai ibroh, yang sesekali perlu dijadikan sebagai acuan untuk menatap dan bergerak di masa depan tanpa membuat kita terpenjara olehnya.

2. Present Time : Point of Reality

Seperti apapun masa lalu kita, realitanya kini kita berada pada keadaan yang “seperti ini”. Inilah kenyataan yang kita temui hari ini. Lakukan hal-hal baik hari ini, maka esok kita akan memanennya.

3. Future Time : Point of Prediction

Adapun masa depan, bagi kita semua ia merupakan point of prediction. Semua  masih belum jelas, semua masih berada pada level prediksi. Padahal yang namanya prediksi bisa benar bisa juga salah.

Oleh karena itu, marilah kita bersikap bijak terhadap waktu. Jangan terlalu banyak membiarkan waktu berjalan tanpa amal nyata. Buatlah kebaikan di setiap jengkal waktu..semoga kita tidak merugi.

Open Your Eyes

Allah berfirman di awal Juz 29, tepatnya di QS Al Mulk 3-4:

Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?  Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.

Ayat tadi dan nasyid yang baru saja kita dengarkan, seolah memaksa kita agar menggunakan kemampuan indra kita untuk menangkap sandi-sandi kekuasaan Allah Swt.

Allah menggunakan dua sandi besar dalam menunjukan kekuasaan-Nya. Kedua sandi tersebut adalah sandi qouliyah dan sandi qouniyah. Sandi qouliyah dapat dilihat dengan mempelajari Al Qur’an, sedangkan sandi qouniyah dipelajari dengan mencermati setiap fenomena yang ada di sekitar kita, baik peristiwa alam maupun kejadian sosial. Karena kedua sandi tersebut berakar pada suatu zat yang sama, yakni Allah Swt, maka di antara keduanya tidak boleh ada yang saling bertentangan. Jika ditemukan adanya pertentangan antara Qur’an (sebagai ayat qouliyah) dan peristiwa alam (sebagai ayat qouniyah), pasti salah satunya ada yang salah. Dengan demikian, untuk menguji kebenaran ajaran suatu agama, kita dapat mengkonfrontirkan kitab agama tersebut dengan ayat-ayat qouniyah (kejadian alam-sosial) yang terjadi di sekitar kita.

Sejauh ini, ayat-ayat Al Qur’an selalu menunjukan kepada kita, bahwa ia memang Firman Allah. Hal ini karena, ayat-ayat Al Qur’an senantiasa harmonis dengan temuan-temuan ilmu pengetahuan. Semakin manusia bekerja keras dalam mempelajari alam, maka semakin nyata setiap kebenaran ayat-ayat Al Qur’an. Berbagai penemuan di dunia sains modern, ternyata telah dikabarkan oleh Al Qur’an 15 abad yang silam.

Ketika ahli geologi berhasil menjelaskan bahwa dahulu bumi kita ini terdiri dari suatu daratan yang sangat luas, lalu masing-masing lempeng bumi bergerak pada arah yang berbeda-beda, hingga akhirnya terbentuk lima benua, sehingga disimpulkan bahwa lempeng litosfer ini tidak ada yang diam, melainkan bergerak, maka jauh-jauh hari Al Qur’an telah mengingatkan kepada kita melalui QS An Naml: 88 tentang gerakan lempeng litosfer tersebut.

Dan kamu lihat gunung-gununggitu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Atau, ketika di abad ini manusia secara saintific baru mengetahui teori big-bang, maka 15 abad yang silam, melalui QS Al Ambiya: 30 Allah telah mengabarkan tentang bagaimana keadaan alam semesta pada fase awalnya.

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

Tentu saja, para sahabat di zaman nabi, dengan ilmu yang mereka ketahui belum bisa memperoleh pembuktian ilmiah atas kebenaran kedua ayat tersebut. Saya yakin, para sahabat, dengan ilmu yang mereka kuasai saat itu, belum bisa menerima secara logika tentang kedua ayat tersebut. Namun mereka senantiasa berkata “Sami’na Wa Atho’na” ketika setiap ayat turun kepada mereka.

Kenyataan ini mengajarkan kepada kita, kalaulah saat ini mungkin kita menjumpai ayat-ayat yang “belum” bisa dibuktikan secara ilmiah, bukan berarti kita akan mengingkari ayat Al Qur’an. Ini hanya persoalan waktu, kapan manusia, dengan akal yang dimilikinya, dapat menemukan kebenaran Al qur’an melalaui kegiatan ilmiah. Para sahabat mengajarkan kepada kita, untuk meletakan logika  akal di bawah logika wahyu. Hal ini mengingat akal manusia diliputi keterbatasan.

Demikain, semoga menambah keimanan kita.

Selamat Datang 2010

Mungkin banyak di antara kita yang tidak sadar, ternyata kini kaki kita telah berada di ujung jalan 2009. Sebagian kita mungkin merasa baru kemarin sore masuk di 2009. Begitulah waktu…

Persoalannya, apa yang sudah kita siapkan untuk memasuki 2010? Capaian apa yang telah kita peroleh di tahun 2009 yang dapat dijadikan sebagai modal memasuki 2010?

Hai orang-orang yang beriman…bertaqwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memeriksa apa yang telah dimilikinya untuk kehidupan yang akan datang?”

Ada sebuah ungkapan orang tentang hal ini (Anda boleh percaya-boleh tidak), katanya: 1) Orang dapat bertahan hidup tanpa makan dalam waktu 40 hari (Percaya? Jika tidak, boleh coba?) 2) Orang dapat hidup tanpa minum hanya dalam waktu 4 hari (inilah sebabnya, mahasiswa kalau aksi paling pol hanyalah aksi mogok makan, gak pernah ada ceritanya aksi mogok minum), 3) Orang tidak dapat hidup dalam waktu satu ditikpun, jiak hidup berjalan tanpa HARAPAN.

Demikian besar pengaruh harapan bagi hidup kita. Kita tidak bisa membayangkan, jika kita hidup tidak lagi punya harapan. Kehidupan akan menjadi hampa dan biasanya orang seperti ini lebih memilih untuk mati. Maka orang bunuh diri kebanyakan adalah orang yang tidak lagi punya harapan, tidak lagi punya asa. Jika harapan telah tiada, jika asa telah terputus, buat apalagi kita hidup.

Harapan dengan demikian seolah merupakan energi potensial yang dapat segera kita rubah menjadi energi gerak yang real. Harapan akan sebanding dengan energi. Semakin besar harapan yang kita miliki, maka akan semakin besar energi hidup yang kita miliki. Jika energi hidup besar, maka semua yang berat akan terasa ringan, yang jauh menjadi dekat, yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Oleh karena itu, meskipun barangkali tahun 2009 belum membawa kita pada keadaan yang kita inginkan, kita harus memupuk sebanyak mungkin harapan untuk menatap 2010. Kita masih punya hari esok. Roja’ (harapan) akan memberi energi bagi kita untuk menapaki bebatuan terjal di depan mata. Tapi, harapan saja belum cukup untuk hidup. Disamping roja, orang juga harus punya khouf (takut). Oleh karena itu, Islam mengajarkan kita untuk memiliki paling tidak dua hal dalam menatap masa depan 1) Roja’ dan 2) Khouf. Khouf dan roja harus tampil secara proporsional. Jangan sampai ada yang terlalu dominan.

Jika harapan muncul begitu besar tanpa rasa takut, orang akan melakukan apa saja untuk mencapai harapnnya. Mungkin ia akan korupsi, menipu, menzalimi orang lain dan sebagainya, yang penting harapannya tercapai. Oleh karena itu kita juga harus memupuk rasa khouf. Karena ia akan menjadi pengendali setiap langkah kita, karena ia yang akan mengingatkan adanya surga dan neraka, karena ia yang akan mengingatkan kita akan eksistensi TUHAN.

Sebaliknya, jika khouf yang mendominasi hidup kita, maka seolah kita akan menjadi orang yang terpenjara. Kita tidak lagi punya keberanian untuk bertindak. Akhirnya kita melihat diri kita tidak mampu mencapai apapun, karena tidak ada sesuatupun yang kita kerjakan.

Khouf dan roja’ dengan demikian merupakan satu paket program yang harus dikembangkan secara sinergis. Ia laksana “Gas dan Rem” dalam kehidupan. Kita punya harapan besar tentang masa depan sehingga memunculkan begitu banyak energi untuk bertindak, dan pada saat yang sama kitapun punya rasa khouf yang akan memagari seluruh tindakan kita yang membuat TUHAN tidak berkenan. Semaga bermanfaat..

Menatap 2009

Mungkin banyak di antara kita yang tidak sadar, ternyata kini kaki kita telah berada di ujung jalan 2008. Sebagian kita mungkin merasa baru kemarin sore masuk di 2008. Begitulah waktu…

Persoalannya, apa yang sudah kita siapkan untuk memasuki 2009? Capaian apa yang telah kita peroleh di tahun 2008 yang dapat dijadikan sebagai modal memasuki 2009?

Hai orang-orang yang beriman…bertaqwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memeriksa apa yang telah dimilikinya untuk kehidupan yang akan datang?”

Ada sebuah ungkapan orang tentang hal ini (Anda boleh percaya-boleh tidak), katanya: 1) Orang dapat bertahan hidup tanpa makan dalam waktu 40 hari (Percaya? Jika tidak, boleh coba?) 2) Orang dapat hidup tanpa minum hanya dalam waktu 4 hari (inilah sebabnya, mahasiswa kalau aksi paling pol hanyalah aksi mogok makan, gak pernah ada ceritanya aksi mogok minum), 3) Orang tidak dapat hidup dalam waktu satu ditikpun, jiak hidup berjalan tanpa HARAPAN.

Demikian besar pengaruh harapan bagi hidup kita. Kita tidak bisa membayangkan, jika kita hidup tidak lagi punya harapan. Kehidupan akan menjadi hampa dan biasanya orang seperti ini lebih memilih untuk mati. Maka orang bunuh diri kebanyakan adalah orang yang tidak lagi punya harapan, tidak lagi punya asa. Jika harapan telah tiada, jika asa telah terputus, buat apalagi kita hidup.

Harapan dengan demikian seolah merupakan energi potensial yang dapat segera kita rubah menjadi energi gerak yang real. Harapan akan sebanding dengan energi. Semakin besar harapan yang kita miliki, maka akan semakin besar energi hidup yang kita miliki. Jika energi hidup besar, maka semua yang berat akan terasa ringan, yang jauh menjadi dekat, yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Oleh karena itu, meskipun barangkali tahun 2008 belum membawa kita pada keadaan yang kita inginkan, kita harus memupuk sebanyak mungkin harapan untuk menatap 2009. Kita masih punya hari esok. Roja’ (harapan) akan memberi energi bagi kita untuk menapaki bebatuan terjal di depan mata. Tapi, harapan saja belum cukup untuk hidup. Disamping roja, orang juga harus punya khouf (takut). Oleh karena itu, Islam mengajarkan kita untuk memiliki paling tidak dua hal dalam menatap masa depan 1) Roja’ dan 2) Khouf. Khouf dan roja harus tampil secara proporsional. Jangan sampai ada yang terlalu dominan.

Jika harapan muncul begitu besar tanpa rasa takut, orang akan melakukan apa saja untuk mencapai harapnnya. Mungkin ia akan korupsi, menipu, menzalimi orang lain dan sebagainya, yang penting harapannya tercapai. Oleh karena itu kita juga harus memupuk rasa khouf. Karena ia akan menjadi pengendali setiap langkah kita, karena ia yang akan mengingatkan adanya surga dan neraka, karena ia yang akan mengingatkan kita akan eksistensi TUHAN.

Sebaliknya, jika khouf yang mendominasi hidup kita, maka seolah kita akan menjadi orang yang terpenjara. Kita tidak lagi punya keberanian untuk bertindak. Akhirnya kita melihat diri kita tidak mampu mencapai apapun, karena tidak ada sesuatupun yang kita kerjakan.

Khouf dan roja’ dengan demikian merupakan satu paket program yang harus dikembangkan secara sinergis. Kita punya harapan besar tentang masa depan sehingga memunculkan begitu banyak energi untuk bertindak, dan pada saat yang sama kitapun punya rasa khouf yang akan memagari seluruh tindakan kita yang membuat TUHAN tidak berkenan. Semaga bermanfaat..

WAKTU: Siapa yang Bisa Lepas dari Kooptasinya?

(1) Demi waktu (2) Sesungguhnya setiap manusia berada dalam kerugian (3)Kecuali mereka yang beriman dan beramal soleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran (QS Al ‘Asri 1-3).

Manusia mengenal ada tujuh besaran alamiah dasar yang menyusun sistem kehidupan, yaitu: (1) panjang, (2) massa, (3) waktu, (4) suhu, (5) kuat arus, (6) jumlah zat, dan (7) intensitas cahaya. Ketujuh besaran dasar tersebut secara bersama-sama memunculkan besaran-besaran lain seperti ruang, kecepatan, momentum, energi kinetik dan sebagainya. Dengan kata lain, tujuh besaran pokok itulah yang menyusun kumpulan besaran-besaran di alam yang menjadi tempat hidup manusia.

Waktu…dengan demikian merupakan salah satu besaran alamih dasar. Atas nama waktu, Allah Swt bersumpah “Sesungguhnya seluruh manusia dalam kerugian”. Kata Innalinsana, menurut Qosim Nur CH, menunjukan bahwa: seluruh manusia, tidak ada satupun yang tidak; entah laki-laki, entah perempuan, entah tua entah muda, entah pejabat entah rakyat;  siapa saja yang bernama manusia,  menurut ayat ini, akan merugi dihadapan waktu.

Secara lebih jelas, ayat 1 dan 2 ingin mengatakan kepada kita bahwa: dalam perspektif waktu, seluruh manusia berada dalam kebangkrutan. Atas nama waktu, Allah Swt bersumpah seluruh manusia pasti merugi.

Memang demikianlah kenyataannya. Hingga hari ini, tidak ada satupun manusia yang sanggup lepas dari penjara waktu. Bahkan hampir semua besaran di alam merupakan fungsi waktu. Artinya, kebanyakan besaran fisis di alam, nilainya atau keberadaannya terikat oleh waktu.

Di antara besaran-besaran fisika lainnya, waktu termasuk besaran dasar yang paling rumit untuk dikelola. Manusia begitu mudah untuk mengelola besaran-besaran dasar selain waktu. Panjang misalanya, kalau kita punya tongkat panjangnya 1 m, maka sangat mudah bagi kita untuk merubahnya menjadi 1/2 m, 1/4 m atau berapapun asal kita punya gorok untuk memotongnya. Demikian pula massa, kalau kita punya batu bermasssa 1 kg, maka mudah bagi kita untuk membuatnya menjadi 1/2 kg, 1/4 kg sesukanya. Bahkan suhu sekalipun, kini manusia modern telah behasil memanipulasi suhu. Suhu ruang yang semestinya berkisar antara 25 hingga 30 derajat celcius, oleh manusia kini bisa dimanipulasi menjadi 17, 18 atau suka-suka kita karena kita punya AC.

Ilmu pengetahuan telah menyediakan cara bagi kita untuk mengelola berbagai besaran fisis di alam. Namun untuk besaran waktu, tidak satupun di antara kita (setidaknya hingga hari ini) mampu untuk mengelolanya dengan baik.  Meskipun konon, peluang untuk mengatur waktu di masa depan dapat dilakukan oleh manusia. Dengan memanfaatkan “lubang cacing” dalam kajian mekanika kuantum, konon manusia tidak lagi hanya bisa bertamasya ke ruang yang berbeda, namun juga manusia dapat bepergian ke waktu yang berbeda. Kedengarannya sangat menyenangkan, namun ini sangat rumit.

Terangnya, hingga hari ini (dan mungkin sampai kiamat), manusia tidak akan bisa lepas dari kungkungan waktu. Waktu tetap saja bergerak linear seperti yang kita rasakan sekarang, ia terus berjalan dengan sangat egois, tanpa mau kompromi. Ia tidak bisa dipercepat atau diperlambat sedetikpun, ia terus bergerak “maju” tanpa mau “mundur” kembali. Semua manusia terikat oleh waktu. Dan dihadapan besaran “egois” semacam ini, Allah bersumpah, semua manusia akan merugi.

Di hadapan waktu yang terus berjalan, di hadapan waktu yang tidak mau berhenti, dihadapan waktu yang tidak mau dipercepat atau diperlambat, di hadapan waktu yang tidak bisa diajak kompromi, semua manusia dalam keadaan merugi.

Allah Swt hanya memberikan perkecualian kepada empat kelompok manusia saja yang tidak rugi di hadapan waktu. Mereka adalah orang yang terus mendayagunakan waktunya untuk (1) beriman, (2) beramal sholih, (3) Menasihati dalam kebenaran, dan (4) Menasihati dalam kesabaran. Hanya empat kelompok manusia itu sajalah yang akan selamat di hadapan waktu.

Artinya, jika kita ingin selamat, maka waktu yang terus berjalan ini harus diisi dengan aktifitas-aktifitas yang berkait erat dengan persoalan iman, amal solih dan dakwah. Jika ada selang waktu tertentu yang berjalan tanpa “aroma” iman, amal solih dan dakwah, maka berarti kita sedang merugi di hadapan waktu. Karena waktu yang telah berlalu tidak dapat kembali. Jadi, lakukan apa saja dalam setiap detik yang bergerak, asalkan ia berkait erat dengan iman, amal solih dan dakwah. Jika dengan nonton gosip, sinetron, pentas musik, film di TV dll; itu semua dapat meningkatkan iman dan amal solih, lakukan saja itu terus setiap hari. Jika dengan ngrumpi, bercanda dll dapat meningkatkan aktifitas dakwah amar ma’ruf nahi munkar, silakan ngrumpi setiap saat. Tapi jika tidak?